Medali Bersegi Tujuh dari Turki, Salah Satu Koleksi Museum Negeri Jambi
Hadiah dari Khalifah Ustmani untuk Sultan Thaha
Museum Negeri Jambi banyak menyimpan benda bersejarah. Salah satu koleksi itu adalah medali yang berasal dari Turki, negara di mana kekhalifahan Ustmani berdiri. Ini merupakan salah satu bukti, Jambi dan agama Islam memiliki romantisme sejarah.
DEDDY RACHMAWAN, KOTA JAMBI
Awalnya Jambi Independent mengetahui perihal medali dari Turki itu dari salah satu situs di internet. Disebutkan, medali berwarna kuning keemasan itu merupakan hadiah dari Kesultanan Ustmani di Turki kepada utusan Sultan Thaha, pahlawan Jambi.
Kemarin, Jambi Independent berkesempatan melihat medali tersebut. Medali dengan bentuk seperti matahari terbit itu bersegi tujuh. Di tengah medali, terdapat bundaran warna merah, bertuliskan huruf Arab. Salah satunya adalah angka yang menunjukkan tahun, yaitu 1298 H. Diduga, itu merupakan tahun disaat medali itu diserahkan.
Pada bagian medali yang berbentuk matahari terbit, terdapat tujuh buah bintang dan bulan sabit kecil. Sementara bintang dan bulan sabit (seperti di atas kubah masjid) yang berukuran besar, menjadi penyatu antara medali dengan rantai. Di rantai itu terdapat enam buah keping bundaran. Pada kepingan itu juga terlihat tulisan Arab.
Menurut Ujang Hariadi, Kepala Museum Negeri Jambi dan Kasi Koleksi Dafril Nelfi, medali itu diberikan kesultanan di Turki kepada utusan Sultan Thaha yang meminta bantuan ke Turki. “Waktu itu penjajah Belanda kian agresif menyerang Jambi. Maka Sultan Thaha waktu itu meminta bantuan ke Turki,” ungkap Ujang.
Permintaan bantuan ke Turki ini tentu saja memiliki alasan. Menurut Ujang, secara histori raja-raja Jambi yaitu Datuk Paduka Berhala memiliki pertalian darah dengan keturunan Turki. “Selain itu, karena di masa itu Turki dianggap sebagai pusat Islam yang sudah maju,” paparnya.
Ujang melanjutkan ceritanya, di antara utusan tersebut sepulangnya dari Turki, tidak seluruhnya sampai ke Jambi. ”Di antara mereka ada yang tidak sampai, karena khawatir tertangkap Belanda. Lalu mereka menetap di Batu Patah, Johor Bahru, Malaysia,” terangnya.
Berdasarkan penelusuran, akhirnya medali yang sempat berada di Malaysia dan dipegang oleh keturunan utusan Sultan Thaha berhasil dibawa ke Jambi. Menurut Ujang dan Dafril sudah sekitar 3 tahun medali itu menjadi koleksi Museum Negeri Jambi. Sayangnya, secara pasti Ujang tidak mengetahui bagaimana penulusuran itu hingga mendapatkan medali tersebut.
“Yang tahu mantan kepala museum, Pak Yusuf Madjid, termasuk Pak Djunedi T Noor,” sebutnya. Sayangnya, saat Jambi Independent mengunjungi kediaman Yusuf Madjid beliau tidak di tempat. Begitupun Djunaedi T Noor, belum berhasil ditemui koran ini.(*)










Katamu