Ada yang hilang dari diriku.Aku betul merasakan itu. Sesuatu yang kujaga, kini tecerabut sejumput demi sejumput. Alih-alih aku tak lebur, kini aku merasa hancur. Tuhan, tolong aku. Aku masih ingin seperti dulu.
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai
pada suatu hari kita lupa untuk apa.
“Tapi yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
Entah mengapa, aku jadi teringat penggalan puisi Sapardi Djoko Damono itu. Yang kudapat di header sebuah webblog. Yang ku tahu kehilanganku membuat aku semakin fana. Bukan waktu.







Dody S. E.
November 26, 2007 at 6:45 am
Salam kena Akh
Puitis nich…