Berdiri di Atas Pusat Kerajaan Melayu, Tiangnya Hanya 256 Buah
Masjid Agung Al Falah adalah masjid terbesar di Jambi. Hingga kini masjid yang disebut-sebut seribu tiang ini menjadi kebanggaan masyarakat di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Namun tak banyak yang mengetahui sejarahnya berdirinya masjid ini.
Wajar saja saat ini memang tak banyak yang tahu sejarah masjid Agung Al Falah, karena secara resmi sejarah tertulisnya boleh dibilang belum ada. Dari Informasi yang diperoleh Jambi Independent, tanah lokasi di mana Masjid Agung ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan/benteng Belanda.
Kisah ini diungkapkan Hasan Basri, salah satu imam masjid Agung Al Falah kepada Jambi Independent, sembari memperlihatkan buku berisi khotbah di Masjid Agung dan sekilas pandang riwayat masjid tersebut. “Pada awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung diwujudkan tahun 1960-an oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh agama,” terang Hasan.
Namun, kata dia, baru pada tahun 1971 pelaksanaannya dimulai. Bahkan menurut kabar turun temurun, Hasan menyebutkan, arsitektur masjid dulunya disayembarakan. “Dan, ternyata pemenangnya orang non-Muslim,” beber Hasan yang juga PNS di Biro Kesos Provinsi Jambi ini.
Sedari awal, menurut Hasan, bentuk bangunan Masjid Agung hingga sekarang tetap dipertahankan sesusi bentuk awalnya. “Kalaupun ada renovasi paling penambahan ukiran pada mihrab imam, tidak merombak bentuk awal Masjid,” jelasnya.
Masjid Agung sendiri, secara resmi pada 29 September 1980 diresmikan Soeharto, Presiden RI waktu itu. Untuk kejelasan sejarah, Hasan mengakui pengurus telah mengajukan ke pemerintah untuk membentuk tim yang melakukan pengkajian dan penulisan sejarah. “Selama ini kan belum ada sejarah yang tertulis, jadi agar tidak terputus,” kata ayah dua anak ini.
Masjid Agung sendiri memiliki luas 6.400 M2, dengan daya tampung 10 ribu jamaah. “Nah untuk jumlah tiang, sebenarnya tidak mencapai 1.000, hanya 256 tiang kok,” ungkapnya. Lalu darimana muncul istilah masjid seribu tiang? Menurut Hasan, istilah tersebut muncul dari para pendatang.
“Pendatang kan banyak juga yang singgah dan salat di sini, terus mereka melihat masjid dipenuhi banyak tiang dan tanpa pintu, maka muncullah istilah tersebut,” tuturnya saat ditemui di rumahnya di kawasan masjid.
Pada Ramadan kali ini, Hasan menyebutkan salah satu program masjid adalah tadarus Alquran setiap malamnya yang disiarkan di RRI. “Bedanya, yang tadarus adalah qari dan qariah terbaik di Provinsi Jambi,” jelas Hasan. Jumlahnya 20 orang qari/qariah. “Termasuk dua orang hafizh (penghapal Alquran),” tandasnya.***








mamas86
November 5, 2008 at 2:09 am
Wah wekarang jadi tau….
ayub
Februari 7, 2009 at 3:05 pm
sebelumnya salam kenal bang…
kebetulan saya juga mau nulis artikel singkat tentang Masjid Agung AL Falah Jambi, thanks atas inormasinya untuk catatan di blog saya.
ada beberapa Foto masjid Agung Yang saya punya, izin untuk mengambil fotonya untuk melengkapi foto2 di blog saya…
terimakasih…..
rachmawan
Februari 8, 2009 at 9:28 am
dengan senang hati, silahkan…
Amry Ipunk Afandy
Juni 21, 2011 at 4:00 pm
makasih atas bantuannya cari masjid 1000 tiang jambi
I LOVE Jambi
Amry Ipunk Afandy
Juni 21, 2011 at 4:01 pm
makasih atas bantuannya cari masjid 1000 tiang jambi
I LOVE KOTA Jambi