Per Bulan Hanya Rp 500 ribu
Insentif Aktivis
yang Konsen Terhadap
Penyebaran HIV/AIDS
Barangkali tidak banyak yang mau berkecimpung menjadi aktivis yang konsen pada penyebaran virus HIV/AIDS. Maklum stigma negatif terhadap penderita penyakit itu masih erat melekat.
Yuli. Demikian nama perempuan berlesung pipit itu. Ia hanya menjawab Yuli saat ditanya nama lengkapnya. Wanita 26 tahun itu merupakan koordinator Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI).
JOTHI merupakan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang berdiri pada 8 Juli 2008 lalu. “Tepat hari itu, JOTHI berdiri di 33 provinsi di Indonesia,” ujarnya di Sekretariat JOTHI, Lorong Hidayat No 33, RT 13, Tanjung Pinang, Kota Jambi.
Mengenakan baju warna pink, Yuli yang ditemui kemarin (22/10) baru tiba dari Jakarta. Sebagai ormas, JOTHI bergerak untuk saling berbagi dan men-support sesama pengidap HIV. “Penderita penyakit tersebut masih sering dilakukan diskriminatif, padahal siapa sih yang mau terkena penyakit itu?” terangnya didampingi dua pengurus Jothi, Adek dan Arapah.
Bergabung di Jothi, Yuli memiliki alasan dan kisah tersendiri. Kini ia total mengabdikan diri di ormas yang dideklarasikan di Jakarta tersebut. “Selain di Jothi, saya tidak ada aktivitas atau kerja lain,” ujarnya.
Soal operasional yang dikeluarkan Jothi, setiap bulan sekitar Rp 9 jutaan. Itu untuk biaya telepon, listrik, internet, hingga insentif bagi para pengurus. Namun Yuli lebih senang tidak disebut insentif pengurus. “Itu untuk ongkos transport ke sana-kemari,” ujarnya. Menurut Adek, mereka menerima per bulan hanya Rp 500 ribu. Ada tujuh pengurus inti Jothi.
Sebagai ormas, Jothi belum memiliki lembaga donor. Namun Jothi jambi menerima suntikan dana dari Jothi Pusat. Untuk biaya kontrakan rumah, misalnya, dana berasal dari pusat.
Diceritakan, mereka kerap nombok. “Ya pakai uang sendiri. Kalau kurang, saling menutupilah,” terangnya. Ia mengaku tidak sekali-dua merogoh kocek sendiri. Demikian halnya Adek dan Arapah.
Menurut ketiganya, uang bukanlah motivasi mereka bergabung di Jothi. Mereka hanya ingin memberikan dukungan dan memperjuangkan hak-hak mereka yang terinfeksi HIV. “Sebab hak-hak penderita HIV terampas oleh tenaga medis sekalipun,” kata Yuli tegas.(dra)









0 Tanggapan ke “Per Bulan Hanya Rp 500 ribu”