RSS

Arsip Kategori: Cerpen

Sejarah Sembilanbelas Tahun Silam

Bapak. Ayah. Abi. Papa. Dady. Atau kalian punya kata lain yang merujuk pada kata itu? Aku tak peduli ada seberapa banyak kata yang berarti orangtua kandung laki-laki itu. Sekalipun, aku berkuliah di jurusan bahasa, menjadi duta bahasa untuk kota tinggalku dan sekian embel-embel bahasa lainnya, persetan dengan semua itu.

Asal tahu saja, aku benci dengan kata itu. Bapak! Tentu, bukan hanya pada kata dengan lima huruf itu. Tapi pada sosok orangtua biologis ku itu. Lalu terhadap pria, laki-laki yang berstatus sebagai seorang ayah aku juga menyemai kebencian.

Entah berapa lama aku tak tahu dengan kata itu. Sedari aku bayi, merangkak, dan mungkin hingga mulai mengenal apa itu keluarga kecil, aku tak memahami apa itu bapak. Bagiku, orangtuaku hanyalah ibu seorang. Lainnya, tidak ada!

Dulu, ketika aku kecil aku tahu teman sebayaku bermain dengan ibu dan laki-laki yang belakangan ku tahu mereka memanggilnya ayah. Pertanyaan yang ku ajukan, mengenai pendamping temanku itu tak mampu dijawab oleh ibuku. Aku hanya mendapati tangisan tertahan padanya. Tak berani lagi aku menanyainya, apalagi sampai ia menangis.

Dan kini, aku benci pada ibuku yang nyaris serupa sebagaimana kebencianku terhadap ayahku. Mengapa riwayat itu justru tak kudengar darinya. Aku terluka mendapati kabar itu dari majelis pergunjingan ibu-ibu di warung kampung. Aku ternyata bukan anak kandung ibuku.

Ini kali kedua ibu menangis atas pertanyaan yang kuajukan. Pertanyaanku lebih lengkap. “Siapa ibu dan ayahku sebenarnya? Siapa keluargaku?” selidikku pada ibu. Lalu ia tumpah dan aku menghujaninya dengan pukulan sebelum aku terkulai di pelukannya.

Sejumlah surat kabar yang sangat lawas yang ibu sodorkan menjadi terang atas gelap sejarah kelamku. Aku baca bercampur geram yang hampir-hampir merobek surat kabar usang itu.

“Orok Dibuang di Tempat Sampah”

“Baru Lahir, Bayi Dibuang di Tempat Sampah”

“Pasangan Muda Buang Anak”

“Pemulung Lihat Anak Muda Buang Orok”

“Khadijah Pelihara Orok Malang”

Sejarahku tercatat buruk di koran yang terbit sembilanbelas tahun lalu itu. Kesaksian pemulung yang melihat ayah dan ibu kandungku yang menelantarkan aku seperti binatang belum cukup sebagai petunjuk bagi polisi menemukan mereka.

Dua kaki yang telah mengajariku berjalan dan tegar itu aku cium. Setalah pukulan dan racau yang kualamatkan padanya, air mata maafku kubasahi padanya. Khadijah memang tidak pernah mengandungku. Tapi pada Khadijah, mereka yang membuang anaknya seenaknya sebagaimana dia membuang sel sperma dan sel telur malu.

 
Leave a comment

Posted by pada April 18, 2011 in Cerpen, cerpenku

 

Aa Gym Menjawab

Ini penampilan pertama Abdulah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym di sebuah talk show. Tidak mudah meyakinkan dai yang dikenal dengan lagunya ‘Jagalah Hati’ ini untuk tampil di Kick Andy. . Pasalnya, selama ini dia merasa didzolimi oleh pers setelah berpoligami.

–Wah, lagi di kantor pekerjaan belum kelar. padahal Kick Andy kali ini yang menghadirkan Aa Gym, ku tunggu-tunggu. :( hiks, bukan karena mengidolakan sang Aa, emang menarik aja untuk disimak fenomena poligaminya,—-

Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Abdullah Gymnastiar menyatakan bersedia. Semua pertanyaan yang diajukan Andy Noya dijawabnya dengan terbuka. Mulai dari alasan mengapa sampai dia tega menyakiti hati istri dan keluarga dengan kawin lagi, bagaimana perasaannya ‘ditinggal’ oleh para pengagumnya, sampai isu bisnisnya hancur setelah berpoligami. Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by pada Desember 6, 2007 in Berita, Cerpen

 

Kaitkata: ,

Tanah Impian

Tanah Impian

Mendung hitam telah menuakan senja dari umur yang seharusnya. Keemasan senja tak lagi mewarnai batas cakrawala. Berganti hitam pekat yang merayap, melumat dan menghisap warna emas di kejauhan sana. Angin pun tak bertenaga meniup daun-daun tua di pepohonan yang sama rentanya. Pepohonan pinus rapat yang mematung semakin menggelapkan tanah impian Diandra. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada November 7, 2007 in catatan, Cerpen

 

Kaitkata: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.