RSS

Arsip Kategori: Renungan

linduku

belum lama aku menghayal tentang hujan
tentang rintik gerimisnya
rindunya flora dan katak-katak
karena kemarau lama yang membersamai

baru kemarin aku merindukan hujan
akan dingin yang membawa kehangatan
meniti rintik gerimisnya
menderu di derasnya

dan tuhan, kau menjawab doa kami
hujan di penghujung malam
menjadi penghilang dahaga

tapi tuhan
tak hendak aku mengujatmu
sungguh…
hujan pagi ini membuka luka bertahun lalu

bersama rintiknya
gemuruh petirnya
selaksa duka menyapa

ini bukan tentang September ceria
tapi musim penghujan berawal duka
lindu mu hanya sesaat
tapi berbilang waktu kami merasa

bersama tulang yang patah
luka yang menganga
suami melepas isteri
anak melepas ayah
ibu melepas anak
dan teman, sanak
terkubur bersama reruntuhan bata

lindu, gempa atau apalah namanya
mengingatkan berlipat berapakah kiamat kelak

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 1, 2009 in catatan, Curhat, Puisi, Renungan

 

Caesarean section, Ummi dan Rumaisha

Adalah suatu pilihan dan satu-satunya pilihan yang harus dijalani, menjelang penghujung malam, Minggu dini hari, 15 Juni setahun yang lalu. Tak ada kompromi atas sebuah tawaran yang bisa ditafsiri sebagai kalimat perintah. Dan, kububuhkan tanda tangan di beberapa lembar kertas, di pagi buta itu. Dengan air mata tentunya. Terlebih isteriku sebagai lakon utama dalam sebuah pertaruhan nyawa, hidup atau mati! Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada Juni 13, 2009 in catatan, Curhat, hikmah, Renungan

 

Ironi BLT

Pung Ut, Warga Miskin yang Tidak Tersentuh Program BLT

Tak Punya Penghasilan, Hidup Bersama Cucu Berusia 10 Tahun

Ai dan Saidin, sang cucuPung Ut (69) adalah potret buram negeri ini. Program pemerintah yang mengatasnamakan rakyat miskin, tak selalu tepat sasaran. Pung Ut adalah satu dari sekian banyak warga miskin di Kota Jambi yang tidak tersentuh bantuan langsung tunai (BLT) yang katanya diperuntukkan bagi warga miskin itu.

DEDDY RACHMAWAN, Pakuanbaru

Bedeng kayu tujuh pintu itu kondisinya cukup memprihatinkan. Atap sengnya berkarat dan bocor di sana-sini. Kayu-kayu, konstruksi bedeng di RT 02, Kelurahan Pakuanbaru, Kecamatan Jambi Selatan, itu pun tak kalah reot. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada Mei 31, 2008 in Berita, catatan, hikmah, Renungan

 

Menanti Lahirnya Buah Hati

Jika Dia menghendaki, tak lama lagi bertambah satu tanggung jawab besar di pundakku. Tanggung jawab pertama yang aku hadapi. Menjadi seorang ayah, seorang bapak. Sebelumnya, aku belum dizinkan untuk menjadi seorang ayah.

Dokter memperkirakan, 6 Juni mendatang isteriku bakal melahirkan. Ini adalah anak keduaku. Anak pertama kami, meninggal dunia. Isteriku keguguran. Perkiraan kami, ia meninggal genap disaat ruh ditiupkan kepadanya, 40 hari ketiga di dalam kandungan. Untuknya, kuberi nama dia Hamzah. Semoga, ini menjadi pahala bagi kami. Amiin. Read the rest of this entry »

 
7 Comments

Posted by pada Mei 21, 2008 in catatan, Curhat, Renungan

 

Kaitkata: ,

Tangisan


TANGIS ABDURRAHMAN BIN AUF RA (Masuk Surga Dengan Merangkak)

Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap, debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang-orang menyangka itu badai, tetapi setelah itu mereka tahu bahwa itu adalah kafilah dagang yang sangat besar. Jumlahnya 700 unta penuh muatan yang memadati jalanan Madinah. Orang-orang segera keluar untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu, dan mereka bergembira dengan apa yang dibawa oleh kafilah itu berupa kebaikan dan rizki. Ketika Ummul Mukminin Aisyah RHA mendengar suara gaduh kafilah, maka dia bertanya, “Apa yang sedang terjadi di Madinah?” Ada yang menjawab, “Ini kafilah milik Abdurrahman bin Auf RA yang baru datang dari Syam membawa barang dagangan miliknya.” Aisyah bertanya, “Kafilah membuat kegaduhan seperti ini?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Ummul Mukminin, kafilah ini berjumlah 700 unta.” Ummul Mukminin menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak’.” (al-Kanz, no. 33500)

Renungkanlah, wahai orang-orang yang punya akal pikiran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak! Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada Mei 7, 2008 in Agama, hikmah, Renungan

 

Kaitkata: , ,

Harap yang Telat

Dimana harus kularung gelap

Sedang terang tak pernah datang

Ia malah lenyap ditelan gelap Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by pada April 13, 2008 in Agama, hikmah, Puisi, Renungan

 

Kaitkata: , , ,

Hikmah, MUslim dan Wartawan

Ada sebuah hadist, kurang lebih begini bunyinya “Sesungguhnya hikmah itu adalah hak setiap muslim. Maka dimanapun kamu menemuinya, maka kamulah yang paling berhak atasnya”. –Maaf, saya tidak tahu bagaiamana sanadnya-. Tapi saya yakin itu hadist shahih. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada April 6, 2008 in Agama, catatan, Curhat, hikmah, Renungan

 

Kaitkata: , , , ,

Tolong, Aku Kehilangan…

Ada yang hilang dari diriku.Aku betul merasakan itu. Sesuatu yang kujaga, kini tecerabut sejumput demi sejumput. Alih-alih aku tak lebur, kini aku merasa hancur. Tuhan, tolong aku. Aku masih ingin seperti dulu. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada November 21, 2007 in catatan, Curhat, Renungan

 

Kaitkata: , ,

Pemerintah yang ‘pengampun’

Pemerintah yang ‘Pengampun’

Ramadan adalah bulan yang diharap-harap dan menumbuhkan harapan bagi orang-orang beriman. Betapa tidak, bukankah di bulan Ramadan ini Allah memberikan ampunan kepada hambanya. Simaklah sabda dari lisan agung, “Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan di bulan Ramadan maka dosanya akan diampuni.”

Maha pengampun (Al Ghofur) adalah salah satu Asmaul Husna, nama-nama Allah yang indah. Kita hamba-Nya, sangat patut untuk mengejawantahkan asmaul husna tersebut ke dalam kehidupan. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 7, 2007 in Agama, Curhat, Renungan

 

Kaitkata: , , , ,

Perjalanan masih Panjang

Mendung hitam di langit telah menuakan senja dari umur yang seharusnya. Keemasan senja tak lagi mewarnai di batas cakrawala. Berganti hitam pekat yang merayap, melumat dan menghisap warna emas di kejauhan sana. Angin pun tak bertenaga meniup daun-daun tua di pepohonan yang sama rentanya. Pepohonan pinus rapat yang mematung semakin menggelapkan tanah impian Diandra.

 

Tanah impian, begitulah Diandra menyebutnya. Tanah impian berupa taman yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Disanalah ia menghabiskan waktunya. Untuk segala hal, gadis berambut lurus itu betah berlama-lama. Mempelajari hidup dan kehidupan, ujarnya suatu ketika. Tak ada penjelasan detil mengapa ia menyebut taman kota itu sebagai tanah impian. Kecuali bahwa mereka yang ‘membangun’ tanah impian itu kini malah terkubur. Tak dapat bermimpi di tanah impiannya. Sebuah ironi yang terkadang membuat jiwanya bergolak kala mengingatnya.

 

Mereka tergusur dan tergerus rerimbunan hutan beton dan menara. Yang kerindangannya menciptakan kanopi dan menaungi setiap sudut kota tempat tinggal Diandra. Bersyukur Diandra tanah impian itu tak turut dipangkas. Untuk disemai benih-benih baja yang menumbuhkan menara-menara keangkuhan.

 

Diandra, sosok yang kedewasaanya prematur terlahir di dirinya. Usianya belum genap 17 tahun. Ia bukanlah seorang pelajar, tapi ia mau belajar. “Alam terkembang jadi guru, dari sanalah aku belajar. Juga di tanah impianku,” sebutnya lagi. Ia mengaku masih kecil, tapi berontak kala geliat moderniasasi mengecilkan tubuh-tubuh tak berprinsip.

 

Di tanah impian itu pulalah sosok Diandra menyemai benih mimpinya. Dibiarkannya tumbuh di ladang khayalan yang dirasa sangat nyata baginya

……Perjalanan masih panjang….

Belum lagi kering tinta penaku, ideku telah kering terlebih dahulu. Meskipun energiku masih utuh dan cukup. Eh tapi kan aku nggak nulis pake pena, kan aku ngetik di komputer. Mmmm..belum lagi aus tuts keyboard komputerku ideku telah aus…

Jadi, pengennya minta ide, agar cepen ini tak berhenti sampai disini, karena perjalanan masih panjang. UUUhhhh Nggilani  .Kok sampe segitunya, minta ide pada dunia…

Nggak apa-apa kan? Barangkali akan lahir ide-ide cerdas dari dunia..karena perjalanan masih panjang

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 5, 2007 in cerpenku, Curhat, Renungan

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.