Bulan: September 2007

Medali Bersegi Tujuh dari Turki

dsc07733.jpg

 

 

 

Medali Bersegi Tujuh dari Turki, Salah Satu Koleksi Museum Negeri Jambi

Hadiah dari Khalifah Ustmani untuk Sultan Thaha

Museum Negeri Jambi banyak menyimpan benda bersejarah. Salah satu koleksi itu adalah medali yang berasal dari Turki, negara di mana kekhalifahan Ustmani berdiri. Ini merupakan salah satu bukti, Jambi dan agama Islam memiliki romantisme sejarah.

DEDDY RACHMAWAN, KOTA JAMBI

Awalnya Jambi Independent mengetahui perihal medali dari Turki itu dari salah satu situs di internet. Disebutkan, medali berwarna kuning keemasan itu merupakan hadiah dari Kesultanan Ustmani di Turki kepada utusan Sultan Thaha, pahlawan Jambi.

Kemarin, Jambi Independent berkesempatan melihat medali tersebut. Medali dengan bentuk seperti matahari terbit itu bersegi tujuh. Di tengah medali, terdapat bundaran warna merah, bertuliskan huruf Arab. Salah satunya adalah angka yang menunjukkan tahun, yaitu 1298 H. Diduga, itu merupakan tahun disaat medali itu diserahkan.

Pada bagian medali yang berbentuk matahari terbit, terdapat tujuh buah bintang dan bulan sabit kecil. Sementara bintang dan bulan sabit (seperti di atas kubah masjid) yang berukuran besar, menjadi penyatu antara medali dengan rantai. Di rantai itu terdapat enam buah keping bundaran. Pada kepingan itu juga terlihat tulisan Arab.

Menurut Ujang Hariadi, Kepala Museum Negeri Jambi dan Kasi Koleksi Dafril Nelfi, medali itu diberikan kesultanan di Turki kepada utusan Sultan Thaha yang meminta bantuan ke Turki. “Waktu itu penjajah Belanda kian agresif menyerang Jambi. Maka Sultan Thaha waktu itu meminta bantuan ke Turki,” ungkap Ujang.

Permintaan bantuan ke Turki ini tentu saja memiliki alasan. Menurut Ujang, secara histori raja-raja Jambi yaitu Datuk Paduka Berhala memiliki pertalian darah dengan keturunan Turki. “Selain itu, karena di masa itu Turki dianggap sebagai pusat Islam yang sudah maju,” paparnya.

Ujang melanjutkan ceritanya, di antara utusan tersebut sepulangnya dari Turki, tidak seluruhnya sampai ke Jambi. ”Di antara mereka ada yang tidak sampai, karena khawatir tertangkap Belanda. Lalu mereka menetap di Batu Patah, Johor Bahru, Malaysia,” terangnya.

Berdasarkan penelusuran, akhirnya medali yang sempat berada di Malaysia dan dipegang oleh keturunan utusan Sultan Thaha berhasil dibawa ke Jambi. Menurut Ujang dan Dafril sudah sekitar 3 tahun medali itu menjadi koleksi Museum Negeri Jambi. Sayangnya, secara pasti Ujang tidak mengetahui bagaimana penulusuran itu hingga mendapatkan medali tersebut.

“Yang tahu mantan kepala museum, Pak Yusuf Madjid, termasuk Pak Djunedi T Noor,” sebutnya. Sayangnya, saat Jambi Independent mengunjungi kediaman Yusuf Madjid beliau tidak di tempat. Begitupun Djunaedi T Noor, belum berhasil ditemui koran ini.(*)

 

 

Semakin dekat……

Di penghujung har ini, aku masih berada di kantorku, bukannya lembur, kebetulan hari ini aku piket. Hebat pekerjaaku mengharuskan menyita waktu ku hingga begini, larut….

Aku baru teringat, sadar dan tergugah, ramadan telah tiba dipertengahannya. Purnama hampir sempurna bentuknya, pertanda ia akan kembali ke sabitnya, maka….ramadan semakin dekat meninggalkan kita…

Apakah aku telat untuk menyadari bahwa ramadan terlalu berharga untuk disia, ia terlalu sngkat untuk beramal. dan sungguh ramadan terlalu lama, jika didalamnya tak kunjung kita menuai pahala….

Perempuan Berkepala Plontos

Perempuan Berkepala Plontos

Cerpen Deddy Rachmawan

Udara membisu, meniupkan iramanya terbang ke atas lalu jatuh gontai ke bawah dengan nada kesunyian. Melambungkan ingatan jiwa-jiwa lara Melelapkan pikiran yang lelah, selelah sosok perempuan yang tengah terpancang diam tiada suara. Entah sudah berapa lama perempuan itu terpaku menatap sosok wajah di cermin yang tergantung di dinding kamar. Kamar kecil yang dirasa sangat-sangat asing baginya. Tidak terlalu sempit memang, tetapi cukup membuat dirinya serasa dihimpit angkuhnya kebisuan dinding kamar. Matanya menyipit. Dipasatinya sosok wajah dengan tahi lalat di pipi kiri itu, tak berkedip seolah ia ingin melumat habis setiap bagian wajah itu. Pertama kali didapatinya, kepala sang perempuan tidak ditumbuhi satu helai rambut pun. Cukup aneh bagi seorang hawa menggunduli kepalanya. Ia membatin. Tetapi ketiadaan mahkota para perempuan padanya tidak serta-merta merontokkan kecantikannya. Pesona kecantikan itu tidak pudar oleh kepalanya yang plontos. Tak ada senyum diwajah letih itu. (lebih…)