Jalan Lain Ke Surga

JALAN LAIN KE SURGA

Cerpen Deddy Rachmawan

      Senja sudah bergayut merangkak menuju malam diambang larut. Meninggalkan siang dengan mataharinya yang garang. Perlahan keteduhan senja merayap menyusup dikehampaan jiwa Ansori. Hawanya mengalir bersama embusan angin yang menembus jendela kamarnya yang terbuka.

      Ansori, sosok berbadan kecil itu masih terpaku. Berbaring di atas kasur bututnya. Membiarkan kepalanya beralaskan telapak tangan yang ditautkan di atas bantal yang sudah tipis dan tak kalah butut. Ini rutinitas barunya! setidaknya sejak seutas tali di toga dipindahkan tangan sang rektor dari sisi kiri ke sisi kanan kepala Ansori.

      Dihiasinya wajah tanpa jerawat itu dengan sebaris senyum, tidak untuk siapa-siapa. Tidak pada orang lain, atau untuk angin sekalipun.

“Senyum ku untuk diriku,” batin Ansori.

Beranjak tubuhnya dari pembaringan, mengejar waktu yang beranjak menyisakan waktu sholat magrib.

      Benda bulat raksasa yang panas itu tetap saja memanen sumpah serapah dari mulut-mulut yang tak bersyukur. Namun ia tetap menjalankan titah Tuhannya. Sinarnya menembus rapuhnya gumpalan awan, terus turun hingga masuk ke ruang kecil berukuran tiga kali tiga meter. Tempat Ansori melakukan semua aktifitas, kecuali mandi dan buang air tentunya. 

      Ansori, sosok berbadan kecil itu masih terpaku. Berbaring di atas kasur bututnya. Membiarkan kepalanya beralaskan telapak tangan yang ditautkan di atas bantal yang sudah tipis dan tak kalah bututnya. Ini rutinitas barunya! setidaknya sejak seutas tali di toga dipindahkan tangan sang rektor dari sisi kiri ke sisi kanan kepala Ansori.

      Dihiasinya wajah tanpa jerawat itu dengan sebaris senyum, tidak untuk siapa-siapa. Tidak pada orang lain, atau untuk angin sekalipun.

“Senyum ku untuk diriku,” batin Ansori.

Beranjak tubuhnya dari pembaringan, mengejar waktu yang beranjak menyisakan waktu sholat Dhuha.

      Begitulah adanya. Disetiap persinggahan sang waktu. Matahari hari ini adalah matahari yang kemarin. Usianya yang kian menua tidak melemahkan panasya yang terik. Tetapi tidak bagi Ansori, waktu telah merubah segalanya. Merebahkan diri di kasur kusamnya, bangkit disusul tersenyum, begitulah adanya.

      Hari itu juga, sebagaimana hari-hari sebelumnya, mengenakan pakaian seadanya Ansori keluar dari rumah. Sepatu kets, celana katun hitam dengan kaos oblong bergambar Che Guevara. Tokoh yang menjadi idolanya sewaktu menyandang status mahasiswa. Entah kalau kini.

“Mencari pekerjaan,” begitu jawabnya saat ibunya yang tak lagi muda bertanya pada sarjana filsafat islam itu.

      Pun seperti sebelum-sebelumnya, sang ibu yang janda melarang Ansori. Titah sang ibu agar Ansori diam di rumah.

“Tak usah mencari kerja,” ujarnya.

      Ada mendung yang menahun di wajah yang masih terlihat rona kecantikan dimasa muda itu. Mendung yang terus menggantung membebani janda beranak tiga itu. Luka yang memupus harapannya.

      Jika sudah begitu, Ansori diam. Tak lama, bersiaplah ibunya yang tua berdiri, membungkuk, berdiri membungkuk. Memunguti barang-barang yang berserak di lantai. Begitulah jika Ansori marah, apapun disekitarnya menjadi berpindah tempat, tidak pada tempatnya.

      Mungkin sudah kering air mata Tasniyem, ibu Ansori. Meski duka tak bisa disembunyikannya. Baginya, menangis tak ada lagi gunannya. Apalagi meratapi nasib. Juga percuma baginya memarahi anak bungsunya. Walau sebagai seseorang ibu yang telah melahirkan dan memelihara, dirinya berhak untuk itu. Namun sejak enam purnama yang lalu, marah telah terhapus dari perasaannya.

      Rona bahagia di wajah Tasniyem tidak bisa disembunyikan. Betapa tidak, keinginannya agar sibungsu Ansori berkuliah di IAIN disambut sibuah hati. Terlebih ketika toga hitam dikenakan. Selembar ijazah ditangan, sebaris gelar disandang. Kebahagiaan dan harapan yang kelak berbuah duka.

“Ibu ingin kamu kelak menjadi orang yang paham dengan agama. Supaya kamu jadi tukang ceramah,” begitu harapan sang ibu, lugu. Rupanya bukan hanya Tasniyem yang berkeinginan seperti itu.

“Almarhum bapakmu juga ingin agar kamu kuliah di sekolah agama,” ungkap Tasniyem, janda Abdu ayah Ansori.

      Tetapi ternyata tidak bagi Ansori. Ternyata harus dibenam dan dikuburkan dalam-dalam hasratnya untuk berkuliah di institut kesenian. Demi sang ibu, direlakannya memupus harapan untuk menjadi seorang seniman. Tidak pernah lagi diputar dalam ingatannya, sosok dirinya dengan pakaian seadanya. Jeans belel yang koyak disana-sini, tas cangklong menjulur. Rambut gondrong ditutupi topi khas seniman, atau sesekali dikuncir.

      Begitulah sosok seniman atau mahasiswa jurusan seni yang ada digambarannya waktu itu. Prototipe yang terdoktrin sewaktu berseragam putih abu-abu. Penampilan yang didapati dari sepupunya yang mengenyam kuliah di Sekolah tinggi seni di Yogyakarta. Sepupu yang banyak bercerita, bagaimana dirinya menghabiskan waktu di jalanan. Menjadi seniman jalanan, dibesarkan kerasnya universitas kehidupan bernama jalanan.

      Itu dulu. Seiring waktu, filsafat-filsafat yang di down load nya menghapus folder cita-cita senimannya. Dinikmatinya kini jalan lain ke surga, begitu selalu slogan yang digembar-gemborkanya.

“Di IAIN pun akau masih bisa hidup di jalan. Jalanan akan membesarkanku,” ujar Ansori bangga.

      Mulailah buah hati Tasniyem turun ke jalan, Berdemo, berorasi. Sosok dengan baret berlogo bintang lima, berambut sedikit gondrong dengan sorot mata khas yang menempel di kaos oblongnya menjadi teman tatkala jalanan memanggilnya. Tuntut sana, protes sini. Terkadang tidak peduli siapa yang didukung, siapa yang dihantam. Memperjuangkan nasib buruh, petani rakyat miskin adalah perjuangan yang bagi Ansori setara dengan jihad. Entah siapa yang mendoktrinnya.

      Ditahun kedua mahasiswa bernama lengkap Ansori Brata itu kian dalam bersentuhan dengan ideologi Marxisme. Das Kapital dilahapnya. Label universitas islam, ternyata tidak lagi sejalan dengan apa yang bersarang di otak Ansori. Liberalisme menjadi pilihan. Pemikiran-pemikiran Muktazillah juga menarik keingintahuannya.

      Hingga tahun keempat Ansori mengenyam kuliah, gejolak batin mulai menggoncangnya. Ayat-ayat yang sejatinya tak terbantahkan, dengan tuhan barunya bernama akal Ansori merasa telah mementahkannya. Bersoraklah ia. “Jalan lain ke sorga,” teriaknya bangga.

      Pemikiran-pemikiran yang bagi sebagian orang dinilai ‘nyeleneh’ itu terus menggerogoti segumpal gumpalan lunak yang bersemayam di kepala Ansori. Sejak seutas tali toga dipindah sang rektor, ditambah carut marut dan terseok-seok mencari pekerjaan. Euforia seorang aktivis setamat kuliah jauh dari yang diangankannya. Dari sanalah semuanya berakhir dan dari sana pulalah bermula sesuatu yang entah kapan berakhir.

“ha..ha..he..hee…,” kekeh Ansori menimpali suara pecahan piring yang belum lagi hilang. Sang ibu sambil mengurut dada masih sibuk memunguti hasil ketrampilan tangan anaknya.

      Seiring matahari yang terus meninggi dengan sinarnya yang menyengat kulit-kulit telanjang kian mengukuhkan betapa panasnya ia. Tak berapa lama berselang, setelah matahari tepat diatas kepala membahana lantunan adzan pertanda zuhur tiba.

      Ansori, sosok berbadan kecil itu masih terpaku. Berbaring di atas kasur bututnya. Seperti kemarin, membiarkan kepalanya beralaskan telapak tangan yang ditautkan di atas bantal yang sudah tipis dan tak kalah bututnya. Kericuhan yang disisakannya di luar tak membuatnya beranjak, sebagaimana matahari beranjak menyisakan Zuhur untuknya.

“Ibu, sampai kapan ibu bertahan?” terdengar suara memelas dari bibir wanita dengan jilbab lebar itu. Isaknya tak lagi tertahan. Menderas air mata, sepadan dengan guncangan tangan lembutnya di bahu rapuh Tasniyem. Tasniyem hanya tersedusedan. Menyembunyikan goresan di hatinya yang hampa.

“Ibu harus dengar saran Aisyah!” pinta gadis yang tak lain kakak Ansori.

      Benda bulat raksasa yang panas itu tetap saja memanen sumpah serapah dari mulut-mulut yang tak bersyukur. Tetapi tidak bagi Ansori. Meski saat itu dirinya tengah berada dihamparan rerumputan, teriknya matahari tidak mengusiknya. Ia asik dengan dunianya. Tak berapa jauh, kakak dan ibu Ansori mengamati tubuh Ansori yang seakan kian mengecil hari ke hari. Asa kedua wanita itu seakan luluh dalam keluh. Keduanya semenjak tadi diam membisu.

Sambil menggumam dengan pandangan kosong, sesekali ditariknya ujung baju berwarna abu-abu bertuliskan RUMAH SAKIT JIWA pada bagian belakangnya itu. Ansori Brata bin Abdu telah gila!!!

Batanghari, bumi serentak bak regam

Maret 2007

 

 

2 pemikiran pada “Jalan Lain Ke Surga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s