Pemerintah yang ‘pengampun’

Pemerintah yang ‘Pengampun’

Ramadan adalah bulan yang diharap-harap dan menumbuhkan harapan bagi orang-orang beriman. Betapa tidak, bukankah di bulan Ramadan ini Allah memberikan ampunan kepada hambanya. Simaklah sabda dari lisan agung, “Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan di bulan Ramadan maka dosanya akan diampuni.”

Maha pengampun (Al Ghofur) adalah salah satu Asmaul Husna, nama-nama Allah yang indah. Kita hamba-Nya, sangat patut untuk mengejawantahkan asmaul husna tersebut ke dalam kehidupan.

Kembali ke ampun-mengampuni tadi, dalam dua belas bulan selama setahun, Allah memiliki satu bulan yang sangat agung. Itulah bulan Ramadan yang kini tengah kita jalani.

Nah dalam satu tahun, pemerintah juga ternyata memiliki waktu-waktu istimewa. (Nah, jangan ditafsiri menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya). Kalau Allah dalam Ramadan ini mengampuni dosa hambanya, pemerintah saat Idul Fitri ‘memberi ampunan’ kepada sebagian warganya.

Contoh, ada ‘ampunan’ bagi napi yang kita sebut dengan remisi. Remisi ini pun bervariasi, tergantung kadar ‘tobat’ mereka saat di dalam tahanan. Kalau remisi saat Idul Fitri diperuntukkan bagi warga negara yang merayakannya, ada lagi remisi yang lebih universal. Saat hari kemerdekaan, pemerintah juga lagi-lagi ‘mengampuni’ rakyatnya yang bersalah. Bahkan tak tanggung-tanggung, di negara ini juga ada grasi dan amnesti.

Tapi kebalikannya, ternyata pemerintah selama Ramadan ini dikenal juga tak memiliki ampunan. Ampunan itu sungguh-sungguh tertutup. Dengan tegas seluruh tempat hiburan malam wajib tutup. Misalnya saja di kotaku, Jambi. Salon-salon dengan layanan plus-plus, entah plus karaoke atau plus yang lainnya. Termasuk panti-panti, tapi bukan panti sosial yang ini panti pijat. Tutup, tanpa terkecuali. Alasannya jelas, menghormati bulan puasa, termasuk mereka yang menjalankannya.

Bahkan lebih dari itu, laskar-laskar diturunkan guna merazia sejumlah tempat. Tak jarang didapati pasangan mesum. Saya pribadi sih, setuju nian dengan hal ini. Walaupun saya menyebutnya, pemerintah tidak memberikan ampunan kepada mereka. Hehehe…

Namun menariknya (atau lebih tepat anehnya), usai Ramadan pemerintah menjadi cair dan luluh. Pemerintah menjadi sosok penguasa yang sangat ‘lemah lembut’. Di mana saat bulan Ramadan menjadi sosok tanpa ampun, kini berubah tiga ratus enam puluh derajat. Pemerintah mengobral ampunan. Tempat hiburan malam, dan salon serta tempat-tempat sejenis beroperasi kembali. Lha kok?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s