Tanah Impian

Tanah Impian

Mendung hitam telah menuakan senja dari umur yang seharusnya. Keemasan senja tak lagi mewarnai batas cakrawala. Berganti hitam pekat yang merayap, melumat dan menghisap warna emas di kejauhan sana. Angin pun tak bertenaga meniup daun-daun tua di pepohonan yang sama rentanya. Pepohonan pinus rapat yang mematung semakin menggelapkan tanah impian Diandra.

Tanah impian, begitulah Diandra menyebutnya. Tanah impian berupa taman yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Disanalah ia menghabiskan waktunya. Untuk segala hal, gadis berambut lurus itu betah berlama-lama. Mempelajari hidup dan kehidupan, ujarnya suatu ketika. Tak ada penjelasan detil mengapa ia menyebut taman kota itu sebagai tanah impian. Kecuali bahwa mereka yang ‘membangun’ tanah impian itu kini malah terkubur. Tak dapat bermimpi di tanah impiannya. Sebuah ironi yang terkadang membuat jiwanya bergolak kala mengingatnya.

Mereka tergusur dan tergerus rerimbunan hutan beton dan menara. Yang kerindangannya menciptakan kanopi dan menaungi setiap sudut kota tempat tinggal Diandra. Bersyukur Diandra tanah impian itu tak turut dipangkas. Untuk disemai benih-benih baja yang menumbuhkan menara-menara keangkuhan.

Diandra, sosok yang kedewasaanya prematur terlahir di dirinya. Usianya belum genap 17 tahun. Ia bukanlah seorang pelajar, tapi ia mau belajar. “Alam terkembang jadi guru, dari sanalah aku belajar. Juga di tanah impianku,” sebutnya lagi. Ia mengaku masih kecil, tapi berontak kala geliat moderniasasi mengecilkan tubuh-tubuh tak berprinsip.

Di tanah impian itu pulalah sosok Diandra menyemai benih mimpinya. Dibiarkannya tumbuh di ladang khayalan yang dirasa sangat nyata baginya. Namun Diandra adalah ironi. Di tanah impiannya itu pula, impiannya terkubur.

Ia adalah Cassandra. Sebuah mitologi Yunani. Meski ia bukan putri raja. Tapi kutukan Cassandra melekat pada sosok mungil Diandra. Cassandra adalah putri raja Priam dan Hecuba dari Troya. Ia bisa meramal malapetaka sebelum terjadi, tapi kutukannya tak ada orang yang mau percaya padanya!

Diandra memang tak bisa meramal malapetaka, tapi ia bisa membaca malapetaka. Gejala dan perubahan alam adalah referensinya. Bakat alam yang melekat erat dan tertanam didirinya. Itulah sebabnya ia getol ‘menginggau’ pentingnya tanah impian. Pun dengan hal-hal lainnya. Tak heran ia dikatakan meracau.

Mendung kini telah sirna. Namun tanah impian lebih gelap, sebab malam telah membentangkan selimut lebarnya. Diandra tersudut gelap. Oleh komunitasnya, Diandra bernasib seperti Cassandra. ‘Ramalannya’ tak dipercaya. Suka atau terpaksa, ia harus menerima kutukannya. Kedewasaan prematurnya dinafikan.(*)

To MY Beloved Wife, Hunny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s