Ketika Cinta Bertasbih

Begitu Ringankah Pernikahan Itu? 

kcb21.jpgTuntas sudah jilid kedua dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (KCB) kubaca. Puas? Karena kang Abik (panggilan sang penulis, Habiburahman El Shirazy) masih belum bisa dilepaskan dari Ayat-ayat Cinta (AAC), maka aprsesiasiku terhadap KCB jauh dari puas.
Karena rasa belum puas itulah, KCB masih saja jadi perbincangan antara aku dan isteriku. Padahal pendapat kami sama. Meski sedikit ada perbedaan.

Membaca jilid kedua KCB, dengan karakter yang melekat pada tokoh utama Azam dan Anna, telah bisa diprediksi jalan ceritanya. Bahwa cinta dua insan manusia Anna dan Azam lah yang bertasbih itu.

Meskipun, sebelumnya Anna sempat menjadi isteri Furqon selama enam bulan lebih. Adanya perceraian antara mereka, kian menguatkan dugaan itu.
Kalau dulu AAC dinilai, kelemahannya adalah pada kesempurnaa Fahri sebagai tokoh utama. Kesempurnaan pada Anna dan Azam tidak bisa disebut sebagai kelemahan KCB.

Kecuali, seperti saya sampaikan tadi, dua kesempurnaan itulah yang akan bertemu. Maka bertasbihlan cinta itu.  Seperti pada firman Allah pada satu surah di Alquran. (Afwan, maaf saya lupa pada surat apa dan ayat berapa) Intinya, muslim yang baik akan mendapatkan muslimah yang baik pula. Demikian sebaliknya. 

Lalu, Begitu ringankah pernikahan itu?Pernikahan adalah suatu yang sakral. Terlebih Allah telah menyebutnya sebagai perjanjian yang berat (mitsaqan ghaliza). Lantas, apakah untuk menikah Azam sedemikian gampangnya? Atau lebih tepat menggampang-gampangkan?.
Siapapun di dunia ini saya pikir memiliki cinta. Begitupun untuk pernikahannya. Bersama orang yang ia cintailah ia akan menikah. Kecuali, ada hal lain yang membuat cinta itu dianggap tiada.

Menyusuri lika-liku Azam untuk menikah, seakan ada ironi pada kepribadiannya. Bahwa sebagai orang beriman, telah mampu lahir batin, benar adanya untuk menyegerakan menikah. Tapi, sekali lagi begitu ringankah pernikahan itu?
Azam begitu saja ‘membanting harga’ nya. Ia seakan tak selektif memilih calon isterinya. Mulai dari teman adiknya si Husna, Dokter Vivi, hingga akan menikah dengan Anna. 

Inilah yang saya pikir kelemahan dari KCB. Menikah saya pikir perlu taaruf, nadhar (bener ga si tulisannya… hiks hiks, atau melihat), kitbah. Sayangnya pemuda yang ditempa di Al Azhar ini, seakan asal menikah. Soal kualitas sang calon isteri, urusan belakang. 

Begitupun saat sang Kiai menawarkan anaknya, Si Anna untuk menikah dengan pahlawan kita Azam. Bermaksud membayar hutang, malah ‘bunga’ yang ia terima. Menikahlah ia dengan Anna. Tanpa ba-bi-bu ke adiknya, terjadilah pernikahan itu.

Terlepas dari itu semua, KCB tetap layak jadi bacaan kita.  KCB bukanlah AAC. Demikian halnya saya, rachmawan. Saya bukanlah kritikus sastra, bukan pula sastrawan. Saya hanya bintang yang ingin menerangi dunia. 

To isteriku, Biarkan Cinta bertasbih…

 

 

 

 

2 pemikiran pada “Ketika Cinta Bertasbih

  1. wah jadi tambah penasaran,saya dah lama hunting KCB episode 2 sampai skg belum dapet.mgkin emang belum masuk Batam.tolong dong… kasih tahu dimana ada buku KCB.klo gak keberatan kirim ke email,ratihwidy@gmail.com
    syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s