Heboh Pernikahan Buaya dan Ular di Tanjab Timur (1)

Tulisan ini dibuat oleh rekan kerja saya. Di muat di surat kabar tempat ku bekerja jambi INdependent. Sebuah feature tentang pernikahan buaya dan ular. Itulah yang digembar-gemborkan orang tua si buaya. .Pernikahan yang mendobrak logika sehat, meruntuhkan nilai-nilai keagamaan?….

Akui Pernikahan Gaib, tapi Sebar Undangan

Selembar undangan mampir di meja redaksi Jambi Independent, akhir pekan lalu. Isinya: Menikah, Nurhasanah binti Muhammad Aini dengan H Basid bin Muhammad. Anehnya, Nurhasanah adalah seekor buaya dan Basid berwujud ular. Beragam cerita pun beredar, sampai ke hal gaib.

JUMEIDI K & MUSRIP H, Kota Jambi

RESEPSI pernikahan tersebut terjadwal digelar Jumat (18/1) pekan ini. Penasaran dengan kisah buaya yang diakui sebagai anak oleh keluarga Muhammad Aini, Jambi Independent meluncur ke rumah keluarga tersebut, Desa Simpang Tuan, Kecamatan Mendahara Ulu, Tanjab Timur.

Dari Kota Jambi, desa itu bisa dicapai dalam satu jam perjalanan dengan mobil. Rumah itu sederhana, tepat di persimpangan yang disebut Simpang Tuan itu. Beberapa wanita dan pria duduk-duduk sambil berbincang di depan rumah. Di dalam rumah, di ruangan tamu, seorang bapak sibuk melayani tamu. Ia tengah memberi penjelasan kepada tamunya.

Itulah Muhammad Aini orang tua Nurhasanah. “Banyak orang salah cerita, kadang-kadang dibesar-besarkan saja,” ujar pria 52 tahun itu mengawali pembicaraan. Istrinya, Siti Asma, kemarin (15/1) sedang pergi ke Kualatungkal, Tanjab Barat untuk membeli barang-barang persiapan pernikahan putrinya itu.

Sejumlah warga mengelilingi Aini ketika Jambi Independent mengajukan beberapa pertanyaan. Ternyata, mereka juga ingin mengetahui cerita tentang Nurhasanah yang sebenarnya.

Aini pun menuturkan. Dia pernah bermukim di Bayunglincir, Sumsel, pada 1986. Ia dan istrinya tinggal di perkebunan karet dengan tiga anak, Yandi Hardani, Hendra Rosadi dan A Fendi.

Lama kemudian, istrinya kembali mengandung. Saat itulah keanehan timbul. Anak itu berada di dalam kandungan selama 11 bulan. Pada awal Juni 1991, istrinya bermimpi anaknya lahir saat rumahnya kebanjiran.

Dan, ketika terbangun dari mimpi, ternyata istrinya banyak mengeluarkan darah. Saat itu, persisnya 6 Juni 1991, ditandai sebagai hari kelahiran anaknya yang diberi nama Nurhasanah.

Apakah sang anak berwujud buaya? Ternyata pada malam pendarahan tersebut tidak seorang pun bayi yang lahir dari perut sang istri. Arti kata, Siti Asma belum melahirkan, apalagi perutnya juga masih besar.

Sebelum itu, cerita Aini, dia pernah bermimpi akan dipinjam kakeknya yang bernama Sinampar di Kalimantan. “Saya tidak mau. Rupanya, anak kami yang dipinjamnya, dan dikembalikan dalam wujud buaya,” ujarnya.

Aini meyakini, malam pendarahan Siti Asma adalah malam kelahiran sekaligus malam lenyapnya Nurhasanah. Tetapi, tiga hari kemudian, yakni 9 Juni 1991, Siti Asma melahirkan seorang bayi yang diberi nama Masroni. Keluarga itu meyakini sang bayi sebagai kembaran Nurhasanah.

Lama di Bayung lincir, Aini mengajak keluarganya pindah ke Desa Gemuru, Tungkal Ulu, Tanjab Barat. Suami istri ini sering menangkap ikan. Ini kebiasaan warga setempat yang hidup di dekat sungai. Aini mengaku rajin mencari ikan di Sungai Mendapo.

Pada tahun 2000, dia bertemu Satar yang memiliki batu yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Dari batu itu, Satar mengabarkan ke Aini bahwa kembaran Masroni akan muncul dalam bentuk buaya. Siti Asma pun menerimanya.

Bahkan, tutur Aini, istrinya berharap bila memang buaya itu adalah anaknya, maka datanglah ke pekarangan rumahnya yang berbatasan dengan sungai itu. Lalu, pada 16 Agustus 2000, sekitar pukul 15.00, seekor bayi buaya terlihat di pekarangan rumah itu. Aini dan istrinya pun mengambilnya.

Dimulailah kisah baru itu. Di antara enam anaknya, seorang berwujud buaya. Anak terakhir keluarga tersebut adalah Nopi Ardianto. Mengaku mendapat petunjuk seorang wanita, keluarga itu pun memberi nama sang buaya Nurhasanah. Siapa wanita itu? Aini ngaku lupa.

Kehadiran sang buaya mengubah hari-hari keluarga itu. Terkadang mereka menerima ejekan, tidak jarang justru sang buaya membawa berkah. Banyak warga yang datang ke rumah M Aini untuk meminta air bekas mandi buaya itu, yang diyakini sebagai obat dan menambah berkah.

Warga yang datang tidak sungkan-sungkan mengeluarkan uang demi air tersebut. Ada juga yang bernazar, jika permintaan dipenuhi maka dia akan memberikan sesuatu kepada keluarga Nurhasanah, seperti emas dan barang lainnya.

Cerita terputus ketika seorang wanita menyela. “Maaf, Pak, kami dari Sabak, mau minta air untuk ngobati anak kami yang baru operasi. Saya juga ada keluhan di punggung,” kata wanita yang biasa disapa dengan nama Niknah itu. Dia menyodorkan tiga botol plastik kepada Aini.

Aini berkisah, setiap Kamis dan Minggu malam, di waktu Magrib, buaya itu diberi makan ayam bakar. “Makannya sedikit, hanya dua paha dan bagian dadanya saja,” kata Aini.

Di dalam kamar khusus sang buaya dibuat kamar mandi yang dilapisi keramik kuning, yang berukuran sekitar 75×2 lebih. “Kamar mandi itu hadiah dari anggota dewan Tembilahan, Pekanbaru,” tambahnya.

Heboh pernikahan buaya dengan ular yang dipersiapkan layaknya pernikahan sungguhan ini membuat para tokoh Mendara Ulu harus berpikir keras. Bahkan, Camat Mendahara Ulu Abdul Rasyid mengakui sempat terjadi ketegangan ketika sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama meminta keluarga Aini membatalkan undangan pernikahan, termasuk acara khataman.

Alasan para tokoh adat dan agama, pernikahan itu tidak masuk akal, sulit dimengerti akal sehat. ‘’Mereka bilang itu pernikahan gaib, maka kita meminta pernikahan yang ada di undangan tersebut dibatalkan,” tambah Rasyid.

Soal khataman, di undangan memang disebutkan untuk tiga nama, yakni Nurhasanah, Masroni dan Nopi Ardianto. “Khataman Masroni dan Nopi Ardianto boleh dilakukan karena keduanya berwujud manusia. Tapi kalau Nurhasanah jelas tidak boleh karena buaya,’’ tegas Rasyid.

Ambo Cening, kepala KUA setempat, menilai langkah yang dilakukan oleh keluarga Aini sudah melecehkan agama. Katanya, di dalam Islam pernikahan itu harus memenuhi rukun nikah. ‘’Harus jelas calon mempelainya, walinya, saksinya dan ada ijab kabul. Nah ini kan tidak ada,” tegasnya.

Apa tanggapan keluarga Aini? Ditemui di rumahnya, Aini sibuk melayani para tamu yang sebahagian besar ingin berobat. Dia berkomat kamit di samping buaya sebelum kembali keluar membawa sebotol air menemui tamunya.

Kepada Jambi Independent, dia mengatakan, pernikahan putrinya itu sudah dilakukan beberapa hari lalu. Pernikahan itu, masih menurut Aini, dilakukan secara gaib dengan perantara orang yang tengah kesurupan. ‘’Jadi nikahnya secara gaib dan KUA-Kec-nya juga dari alam gaib. H Basid muncul melalui perantara orang yang tengah kesurupan,’’ tuturnya.

Aini mengaku mengetahui asal usul Basid dari orang yang tengah kesurupan. Saat ditanya, kata Aini, orang itu mengaku bernama H Basid, yang wujudnya berupa ular. ‘’Dia asal Kalimantan. Orang yang kerusupan itu ada di Teluk Nilau (desa di Kecamatan Pengabuan, Kabupaten Tanjab Barat),’’ ucapnya.(bersambung)

6 pemikiran pada “Heboh Pernikahan Buaya dan Ular di Tanjab Timur (1)

  1. ” H Basid muncul melalui perantara orang yang tengah kesurupan,’’ tuturnya.”
    Sejak kapan orang gak sadar didenger ucapannya?, pie toh mas…

  2. itu yg ngaku2 punya anak buaya cuma sekedar bikin sensasi biar rame, biar banyak yg dateng n ngasih sumbangan. anak kandungnya sendiri (yg manusia normal) semuanya malu sama kerjaan ibunya ini dan gk mau tinggal d rumah itu lg. yg lucu yah org2 goblok yg mau2 nya minta obat sama penipu kacangan gini😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s