Heboh Pernikahan Buaya dan Ular di Tanjab Timur (2-Habis)

Dilarang Masyarakat, tetap Siapkan Pelaminan

Resepsi pernikahan Nurhasanah binti Muhammad Aini yang berwujud buaya dengan H Basid bin Muhammad yang disebut berwujud ular mendapat reaksi beragam dari masyarakat. Tak sedikit yang menentang. Tapi, keluarga Aini bersikukuh tetap akan menggelar resepsi sesuai jadwal, Jumat (18/1). Bagaimana persiapan jelang resepsi pernikahan itu? Bagaimana pula proses lamarannya dilangsungkan?

BERDASAR penuturan Aini, Nurhasanah kini berusia 16 tahun lebih. Tanggal kelahirannya diyakini Aini jatuh pada 6 Juni 1991. Melalui mulut seorang wanita yang kesurupan, sekitar September 2007, kata Aini, Nurhasanah menyatakan keinginannya untuk menikah.

Masih melalui mulut wanita kesurupan itu, cerita Aini, anaknya akan dilamar seekor ular yang disebut sebagai teman kecil di alam gaib. Dalam pembicaraan itu, ular tersebut diketahui bernama H Basid, berasal dari Kalimantan.

Mendengar itu, awalnya, kedua orang tua Nurhasanah kaget. “Bagaimana menterjemahkannya pernikahan itu ke dunia nyata,” kata Aini kepada Jambi Independent saat berkunjung ke kediaman Aini yang juga tempat akan dilangsungkannya resepsi, di Desa Simpang Tuan, Kecamatan Mendahara Ulu, Tanjab Timur, Selasa (15/1).

Selanjutnya, kata Aini, suara Nurhasanah keluar dari raga wanita itu dan berganti suara pria yang mengaku bernama H Basid. Melalui mulut wanita itu, H Basid melamar Nurhasanah dan memenuhi semua persyaratan dari kedua orang tua Nurhasanah. Orang tua Nurhasanah pun menerima lamaran itu dengan meminta uang lamaran Rp 10 juta. Basid pun menyanggupinya.

Hanya saja, kata Aini, uang tersebut tidak diberikan H Basid secara tunai seperti layaknya pada pernikahan sepasang anak manusia. “Mana mungkin saya (Basid, red) datang dengan memberikan uang melayang-layang sebanyak itu, nanti dikira memelihara tuyul pula,” kata M Aini menirukan suara H Basid. Uang itu pun, kata Aini, diberikan H basid melalui peningkatan pendapatan keluarga Aini.

Aini menuturkan, mengakhiri pembicaraan, H Basid mengajukan syarat. Apa syaratnya? “Dia (H Basid, red) minta kami harus mempersiapkan kamar pengantin layaknya pernikahan manusia. Lalu, dalam kamar pengantin harus dibuat seperti singgasana kerajaan yang dibuat tujuh tingkat tangga dengan hiasan serba kuning,” ujar Aini yang saat itu merasa janggal atas syarat yang diajukan calon menantunya. Namun, takut terjadi apa-apa kalau syarat itu tidak dipenuhi, Aini menyanggupi. Tangga tujuh tingkat itu, menurut Aini, adalah singgasana kerajaaan dahulu. Persiapan pun dimatangkan dan tanggal pernikahan ditetapkan.

Dilanjutkan Aini, akad nikah sudah dilaksanakan pada Senin (14/1) sekitar pukul 14.00 WIB. “Saya menyerahkan perwaliannya kepada bangsa mereka, begitulah istilahnya,” katanya. “Saya juga tidak bisa melihat bagaimana prosesi pernikahannya,” kata Aini lagi. Setelah itu, pesta pernikahan dijadwalkan Jumat (18/1) sekaligus khataman putranya, Masroni. Masroni diakui Aini sebagai kembaran dari Nurhasanah yang saat ini sekolah di kelas II Madrasah Aliyah Pondok Al Baqia Fussalihat Tanjab Barat.

 

Pada pesta pernikahan ini, kata Aini, mereka mempersiapkan dua pikul atau 200 kg daging ayam. Katanya, tidak ada acara khusus pernikahan anaknya itu. “Yang ada acara khataman Masroni,” katanya. Saat itu, Masroni mengenakan peci putih dan memakai sarung.

Aini agak kelimpungan saat ditanya bagaimana membuktikan kepada warga yang hadir saat pesta pernikahan. Ini karena wujud ularnya tidak ada. “Istri saya juga sudah dipanggil Pak Camat soal ini, tapi bagaimana lagi, ini kan gaib, Pak Camat juga bertanya seperti itu,” katanya.

Masih menurut Aini, dia sebenarnya berkeinginan melihat anaknya itu berwujud sebagai manusia. Ia menuturkan, sejak adanya buaya itu di rumahnya banyak warga yang datang ke kediamannya. Bahkan, istrinya Siti Asma pernah suaranya habis karena saking lamanya menjelaskan kepada warga yang ingin mengetahui cerita gaibnya itu.

Hanya saja, katanya, sejak tujuh tahun lalu, mulai buaya itu ditemukan, dia dan istrinya sudah biasa menjawab pertanyaan warga. “Orang bertanya, ya, kami jawablah,” ujarnya enteng. Ia menambahkan, selama ini warga yang telah melihat buaya yang diakui anak keempatnya itu bukan saja dari warga Jambi, tapi juga dari mancanegara sana.

Anehnya, buaya tersebut tampak tenang dari tempatnya semula. Hanya, kepalanya yang sedikit bergerak. Beberapa orang juga panasaran memegangi kulitnya, namun hanya bagian ekor dan badannya saja. Warga yang datang juga berkali-kali mengabadikan sang buaya melalui kamera HP.

Pada Selasa itu (15/1) terlihat juga rombongan dari Tungkal, Tanjab Barat yang akan memasang pelaminan. “Kalau di dalam kamar sudah tidak bisa lagi diganggu, mungkin dipasang di sini saja,” kata Aini sambil menunjuk ruangan tamu. Di dalam kamar berukuran sekitar 3×6 meter itu selain ada singgasana kerajaan, juga terpasang ranjang pengantin serba kuning, janur dengan daun kelapa dan berbagai buah.

Seorang wanita bernama Ica mengaku mendapat penawaran dari ibu Nurhasanah, Siti Asma, untuk memasang pelaminan. “Kami sudah dengar kabar di Tungkal kalau yang menikah itu adalah seorang buaya, jadi kami tidak heran lagi,” katanya.

Polisi Panggil Aini

Polsek Mendahara Ulu telah memanggil Aini dan istrinya untuk dimintai keterangan terkait rencana resepsi pernikahan itu. Pemanggilan ini dilakukan karena acara hajatan dengan menyebarkan undangan itu sudah meresahkan masyarakat. Apalagi di rumah Aini, persiapan hajatan seperti dekorasi sudah dilakukan sejak Selasa (15/1).

Kapolsek Mendahara Ulu Ipda Syafrudin mengatakan, ’’Pernikahan ini tidak logis dan bertentangan dengan agama. Apalagi ular yang katanya akan dinikahkan dengan buaya itu sampai sekarang juga tidak jelas ada di mana. Kita mencegah jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.’’

Syafrudin juga membenarkan kalau dirinya hadir dalam pertemuan unsur Muspika dan sejumlah tokoh masyarakat serta agama dengan keluarga Aini di kantor kecamatan dua hari lalu. Dalam pertemuan itu, kata Syafrudin, disepakati undangan pernikahan itu harus dibatalkan dan khataman Nur Hasanah yang berwujud buaya juga dibatalkan. ’’Kalau yang dua lagi tidak masalah,’’ ujarnya.

Anggota Reskrim Polres Tanjab Timur dan Polsek Rabu (16/1) kemarin mendatangi rumah Aini. Mereka meminta penjelasan tentang acara tersebut dan juga melakukan penjagaan di sana. ’’Kita khawatir ada keributan di sana, makanya kita melakukan penjagaan. Yang jelas tidak boleh ada acara pernikahan itu dan mereka harus membatalkannya termasuk menarik undangan yang disebarkan,’’ tegas Syafrudin.

Namun Aini kepada Jambi Independent mengatakan, pernikahan sudah dilakukan beberapa hari lalu di alam gaib. ’’Acara Jumat ini hanya resepsi saja. Nikahnya sudah secara gaib dan KUA-Kec-nya juga dari alam gaib,’’ ujarnya.

Untuk memeriahkan acara itu, dekorasi di rumah Aini dilakukan layaknya acara pernikahan umum. Pelaminan dan dinding rumah dihias dengan kain berwarna kuning sesuai adat Jambi. Begitu juga dengan kamar pengantin yang ditutup dengan kain putih.(*)

 

2 pemikiran pada “Heboh Pernikahan Buaya dan Ular di Tanjab Timur (2-Habis)

  1. itu hanya fiktif blaka masa jaman modern gini masih percaya sama hal2 yang sifatnya tahayul mbok ya percaya sama allah.mudah2han yang membaca ini dapat memberikan tnggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s