Buat yang Belum Nonton Ayat-ayat Cinta

Tiga Bintang Aja Deh

 Terjawab sudah tanda tanya yang menggantung di benakku sejak mengetahui novel Ayat-ayat Cinta (AAC) bakal difilmkan. Sekitar dua pekan lalu film yang dibanjiri penonton itu aku tonton. Selama ini, memang adaptasi novel ke film atau sebaliknya selalu mengundang kritikan.

 

Untuk kasus pertama (novel ke film), aku pikir lebih berat. Dan aku pikir itulah yang dihadapi Hanung Bramantyo (dia kan sutradara AAC?). Semua rekanku yang sudah membaca lebih dulu novel AAC, lalu menonton versi layar lebarnya punya komentar sama. Mereka tak puas. Nah itulah yang aku alami.

 Sebagai seorang Awam, bukan kritikus film aku ingin coba menelaahnya (alah…)  Aku telah membaca novel fenomenal Habiburahman El Shirazy itu, sejak tiga tahun lalu. Semasa masih menjadi mahasiswa di Malang. Jujur, seperti pembaca lain, novel bersampul kuning itu membuat aku takjub. Emosi kita dipermainkan, tiupannya membawa kita seakan berada di negerinya Firaun itu.

 Novel AAC menggunakan sudut pandang aku. Aku sebagai tokoh sentral adalah Fahri. Karenanya Kang Abik, demikian hidup menggambarkan sosok mahasiswa Al Azhar itu. Tidak saja polah tingkah kesehariannya, tapi juga perasaan terdalamnya. Tentang bagaimana ia beragama, dan tentang perasaan cintanya. Ketokohan Fahri begitu kuat. Ia nyaris sempurna. Makanya tak heran ada pembaca yang ragu jika sosok Fahri bisa ditemukan saat ini.

 Inilah yang saya lihat tak bisa tergambarkan dengan utuh di layar lebar. Bahkan Hanung Bramantyo sang sutradara, pada dialog di SCTV mengaku tidaklah sama penggambaran antara novel dan film. Film AAC tidak mengahadirkan sosok Fahri dari ke-aku-anya. Ia hanya mengajak penonton menyaksikan drama kehidupan Fahri. Berbeda dengan novelnya yang mengajak pembaca sebagai Fahri. Makanya pasca terbitnya novel AAC, tak sedikit yang menilai Fahri sesunguhnya representasi dari Kang Abik.

 Adegan difilm  AAC, tidak menghanyutkan penonton sehebat ketika novel itu dibaca. Meskipun ada adegan yang dapat memainkan emosi pembaca. Tapi tanyalah pada diri anda sendiri, pada saat mana emosi anda termainkan. Mungkin, penonton yang belum membaca novelnya tidak merasakan hal ini.

 Memang, beberapa nilai ajaran islam tergambarkan di film AAC. Contohnya, Fahri yang enggan menyentuh wanita yang bukan mahromnya. Termasuk bagaiamana poligami yang haru dipilih Fahri dan Aisha.

 Satu lagi, ketika membaca AAC, Mesir dibenakku adalah suatu tempat yang hidup. Ia semarak tak gelap. Tak hanya Mesir, tapi flat Fahri dan juga Maria dalam benak aku adalah sebuah flat yang indah. Bukan berada di dalam sebuah pasar.

 Terakhir, alur film AAC terlalu cepat. Membuat kita bertanya, “kok sudah diadegan ini, ini adegan yang mana, kok yang ini tidak ada” kurang lebih begitulah. Lagi-lagi tentunya itu karena aku (dan hampir semua penonoton mengalaminya) masih terkotak dengan novelnya. Aku pun mengakui dengan durasi sekitar 2 jam, memang tak cukup untuk memindahkan seluruh isi novel. Terlebih dengan mentah-mentah.

 Terlepas, dari itu semua film AAC tetap saja memberi warna tersendiri. Semua sandungan yang ditemui dalam merampungkan film itu, telah menambahkan nilai, gradasi -atau apalah namanya- pada film itu. Bagus. Terlebih pro-kontra dialektika soal film AAC yang telah lebih dulu ramai diperbincangkan (sebelum filmnya tanyang), membuat penonton semakin penasaran. Tiga bintang aja deh untuk AAC J ***

  

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s