Menanti Lahirnya Buah Hati

Jika Dia menghendaki, tak lama lagi bertambah satu tanggung jawab besar di pundakku. Tanggung jawab pertama yang aku hadapi. Menjadi seorang ayah, seorang bapak. Sebelumnya, aku belum dizinkan untuk menjadi seorang ayah.

Dokter memperkirakan, 6 Juni mendatang isteriku bakal melahirkan. Ini adalah anak keduaku. Anak pertama kami, meninggal dunia. Isteriku keguguran. Perkiraan kami, ia meninggal genap disaat ruh ditiupkan kepadanya, 40 hari ketiga di dalam kandungan. Untuknya, kuberi nama dia Hamzah. Semoga, ini menjadi pahala bagi kami. Amiin.

Anak kedua kami, kuat diduga berkelamin wanita. Tapi entah mengapa, aku yakin jabang bayi itu berjenis kelamin laki-laki seperti abbinya. Sebaliknya, Ibunya menyakini wanita.

Dalam penantian ini, sebagai seorang suami aku begitu merasakan bersusah payahnya seorang isteri, ibu, wanita yang tengah hamil. Itulah yang dialami isteri tercintaku. Benarlah apa yang dikatakan Allah, bahwa hamil itu dalam keadaan berpayah-payah.

Terlebih kini, semakin tua usia kandungan yang berarti kian dekatnya dengan kelahiran, rasa sakit kian mengukuhkan dirinya. Rasa sakit itu terus mendera isteriku. Lebih-lebih di waktu malam. Alih-alih ingin sholat malam, tidur pun kami susah.

Bersyukur, istriku cukup kuat dan tegar melawan sakit itu. Meskipun terkadang, kantuk yang merajaiku memenangkan terjagaku. Sendirianlah isteriku merintih menahan nyeri.

Aku menyadari, meski kini aku terlihat biasa, tapi sesungguhnya ada cemas membersamaiku. Lebih-lebih isteriku. Aku tak ingin membicarakan kemungkinan terburuk. Kini, yang kami lakukan adalah bagaimana mempersiapkan proses persalinan nanti.

Beberapa pekan terakhir, istriku mengikuti senam hamil. Aku senang, dengannya ia merasa lebih tenang. Pelajaran yang didapatnya telah memberikan sugesti positif padanya.

Tapi, entah mengapa isteriku sibuk membicarakan wasiat. Ya wasiat. Suatu ketika, ia pernah menyampaikan ketakutannya jika kemungkinan terburuk itu terjadi. “Aku kan masih ‘nakal’ (banyak dosa),” ujarnya sambil mengeluarkan air matanya. Aku pun hanya terdiam.

Aku berharap, semoga wasiat itu tak benar-benar terjadi. Maksudku kemungkinan terburuk itu, jangan terjadi. Pada-Nya lah aku menyemai doa. Berharap menuai buahnya kelak. Karena ia lah Maha Kuasa.

Hai anakku, kami menantimu…

Rumaisah Rachmawan

atau

Musyafa Ibadurahman Rachmawan

Ya rab..,mudahkan kami,,,

Mei,2008

7 pemikiran pada “Menanti Lahirnya Buah Hati

  1. selamat menanti kelahiran “sang malaikat kecil”. semoga semuanya lancar dan selamat, kelak “sang malaikat kecil” itu semoga menjadi anak peradaban yang terbaik buat bangsa dan negerinya. doaku selalu menyertai mas rachmawan. salam buat semua keluarga!

  2. Assalamu’alaikum

    Selamat datang sahabatku “Rumaisha Rachmawan”
    Perkenalkan, ini aku “Zahidah Haura Al Khansa” sahabatmu
    Kukenal engkau dari cerita ummiku tersayang
    Ya, ummi kita bersahabat
    Aku pun berharap kita juga bisa bersahabat seperti mereka
    meski jarak yang cukup jauh diantara kita

    Pada bintang ku titipkan harap
    Pada angin ku titipkan salam
    Pada hujan ku titipkan cinta

    Allah, lindungi sahabat baru ku
    Allah, lindungi Ummi dan Abinya
    Allah, lindungi Ummi dan Abiku
    Allah, pertemukan kami dalam cintaMu

    Wassalamu’alaikum

    “Kami di Bumi Etam”
    Abi “Ari Priswanto”
    Ummi “Uzah Maria Ulfah”
    Sahabatmu “Zahidah Haura Al Khansa”

    BTW, Blognya Haura lg error😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s