Ironi BLT

Pung Ut, Warga Miskin yang Tidak Tersentuh Program BLT

Tak Punya Penghasilan, Hidup Bersama Cucu Berusia 10 Tahun

Ai dan Saidin, sang cucuPung Ut (69) adalah potret buram negeri ini. Program pemerintah yang mengatasnamakan rakyat miskin, tak selalu tepat sasaran. Pung Ut adalah satu dari sekian banyak warga miskin di Kota Jambi yang tidak tersentuh bantuan langsung tunai (BLT) yang katanya diperuntukkan bagi warga miskin itu.

DEDDY RACHMAWAN, Pakuanbaru

Bedeng kayu tujuh pintu itu kondisinya cukup memprihatinkan. Atap sengnya berkarat dan bocor di sana-sini. Kayu-kayu, konstruksi bedeng di RT 02, Kelurahan Pakuanbaru, Kecamatan Jambi Selatan, itu pun tak kalah reot.

Ironisnya di tempat inilah Pung Ut, janda beranak dua, tinggal. Bedeng tempat tinggalnya berhadapan dengan bedeng lainnya. Bedeng yang dihuni tujuh kepala keluarga (KK) ini merupakan satu kesatuan. Sanitasi di sekitar bedeng tidak sehat. Lingkungan tampak kumuh. “Terlebih ini langganan banjir,” kata Misdawati, tetangga Pung Ut.

Dari pria bernama Ayau, Jambi Independent mengetahui keberadaan Pung Ut. Oleh tetangganya Pung Ut disapa Ai. Bersama pemuda inilah Jambi Independent bertandang ke sana. Kebetulan, Ai juga berdarah Tionghoa.

Melihat kontrakan dan kondisi Ai, siapa pun tak dapat memungkiri bahwa Ai adalah warga miskin. Tetangganya yang hampir senasib mengakui hal ini. Anehnya, walau banyak program pemerintah bagi rakyat miskin, janda tua ini sama sekali tak merasakannya.

Bagaimana rasanya beras miskin tak pernah dicicipi Ai. Mendapatkan minyak goreng bersubsidi pun ia tak pernah. Termasuk program yang kembali digelontorkan: bantuan langsung tunai (BLT). “Tidak ada, dak pernah sama sekali, padahal saya ini miskin,” aku Ai, kemarin (29/5) pagi. Matanya tampak menerawang kala mengungkapkan penderitaannya itu.

Ai mungkin bahkan tak tahu jika BLT akan kembali diluncurkan. Sepertinya harapannya untuk menerima BLT sudah pupus, meskipun ia tetap mempertanyakannya. “Kami susah, masak orang lain (kaya) dapat,” tuturnya. Sejak BLT diluncurkan pemerintah beberapa tahun lalu, sepeser pun uang itu tak pernah diterimanya.

Mengenakan daster warna hijau, Ai hanya bicara secukupnya. Sesekali Ayau, menerjemahkan pertanyaan Jambi Independent ke bahasa Cina, meskipun Ai mengerti bahasa Indonesia. Tak jarang pula tetangga Ai yang menjawabnya.

Misdawati, tetangga Ai, mengungkapkan hal lain. Meski pernah menerima BLT, sepertinya kini ia tak lagi menerimanya. “Kartu saya sudah ditarik, sudah lama,” kata wanita yang tinggal di bedeng itu hampir berbarengan dengan Ai.

Misdawati, lebih-lebih Ai, adalah ironi. Mereka tinggal di bedeng tersebut sejak 1987. Tapi meski jelas-jelas miskin, BLT tak mereka terima. “Banyak orang kaya yang dapat,” celetuk Misdawati.

Betapa tidak, Ai dikatakan miskin, tak punya penghasilan. Meski memiliki dua anak, tapi anaknya menetap di luar Kota Jambi. Satu di Kampung Laut, Muarasabak, Kabupaten Tanjab Timur, dan satu lagi di Sengeti, Kabupaten Muarojambi. Ironisnya lagi, sang anak hanya sebulan sekali menjenguknya. “Paling sebulan dikasih Rp 100 ribu,” akunya. Sementara bedeng yang tak lebih besar dari ruang kelas SD pada umumnya itu harganya Rp 1 juta per tahun. Meskipun Ai seakan tak diperhatikan anaknya, tapi ia masih menunjukkan kasih sayang kepada anaknya. Di tengah kegetiran hidupnya ia ikhlas menjaga Saidin (10), cucunya, meskipun Saidin menderita kelainan yakni autis.

Tubuh ringkih Ai pun tak lagi bisa berbuat banyak. Karena tak memiliki fasilitas air bersih, Ai terpaksa menimba air di sumur tetangganya. Sekitar 30 meter dari kontrakannya. “Tapi sudah dak kuat lagi,” akunya. Beruntung, sejumlah tetangga masih ada yang menolong.

Bersyukur, sejumlah warga sesekali memberi bantuan kepada Ai. Menurut Ayau, mereka biasanya memberi bantuan baik melalui yayasan atau vihara.

Bagaimana jika sakit? Ai hanya menjawab dengan senyum getir. Bahkan sarana hiburan seperti TV pun tak dipunyainya. “Kayak mano nak punya TV, untuk makan be susah,” ujarnya miris.

Sekali lagi, Ai adalah ironi. Ia hanya sekelumit korban keserakahan pejabat (dari bawah hingga keatas) di negeri ini. Atau patut kita bertanya: Mungkinkan hanya karena ia etnis Tong hoa? Atau, inikah korban diskriminasi etnis?

4 pemikiran pada “Ironi BLT

  1. ironi memang….
    tp ditengah keadaan yang mengusik hati ini, aku punya sedikit kata-kata yang mungkin bisa menghibur mereka…
    “tidak mengapa kalian tak menerima BLT, bukankah tandanya negara tak mengakui kalian sebagai orang miskin, berbanggalah kalian karena drajat kalian dinaikkan, janganlah kalian berkecil hati karena kalian sebenarnya kaya akan hati…”

  2. wah kenal sama ai ini…
    biasa dia suka datang kerumah, waktu imlek kemaren dia datang kerumah bawa cucunya, emang sih cucunya yang laki2 autis.
    Biasanya kalo datang kerumah pasti diselipin uang, kebetulan dirumah yang ngasih uang ke ai bukan cuma 1 orang (keluarga besar soalnya) yah walaupun jumlah uangnya gak banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s