Kampung tempe asyiknya rame-rame

Melihat Kampung Tempe di Kota Jambi

Awalnya Sendiri, Sukses Ajak Keluarga di Kampung

Masyarakat pesisir pantai, umumnya mencari penghidupan sebagai nelayan. Tapi, masyarakat kota yang heterogen tentunya beragam pula pencahariannya. Namun ternyata di kota Jambi ada sebuah perkampungan yang warganya dominan berprofesi sebagai pembuat dan penjual tempe. Seperti apa?

bakul tempe mendeder kedele
bakul tempe mendeder kedele

Aroma khas kedelai yang direbus begitu kentara ketika Jambi Independent tiba di sebuah rumah di RT 22 Jalan Gunung Agung, lorong Gembira, Kelurahan Rajawali. Kedele bakal tempe yang dibungkus daun pisang itu tengah dijemur. Sejumlah pria tampak sibuk memindahkan bakal tempe tersebut. Dengan pisau, ia menusuk-nusuk bungkusan kedele tersebut.

Seorang pria di teras rumah menerima Jambi Independent. Mengenakan kaos oblong pria bernama Mahrozi tersebut adalah satu dari puluhan pembuatan tempe yang ada di RT 22 Kelurahan Rajawali. Mahrozi mewarisi keahlian membuat tempe dan tahu dari sang ayah, Dopir.

Ayah Mahrozi termasuk orang-orang yang pertama membuat tempe di kota Jambi. Ayahnya yang hijrah dari kampungnya di Pekalongan, Jawa Tengah telah membuat tempe sejak tahun 1950-an. Sejak pindah ke Jambi, Dopir beberapa kali pindah rumah sebelum akhirnya memilih menetap di kediamannya sekarang, “kampung tempe”.

Pria yang disapa Rozi itu mengatakan, di kampungnya ada sekitar 75 Kepala keluarga (KK) yang menjadi bakul tempe dan tahu. Lantas bagaimana mereka bisa berkumpul? “Ya ada yang dulunya sebagai anak buah, lalu bisa mandiri ia buka usha tempe sendiri dan tinggal disini,” cerita Rozi. Selain itu, kata dia, ada yang mengajak keluarga di Jawa untuk ke Jambi membuka usaha tempe.

Makanya tak heran, puluhan KK pembuat tempe tersebut saling mempunyai pertalian darah. Di kampung tempe tersebut, ada delapan KK yang masih keluarga Rozi yang juga menjadi bakul tempe. Ketika koran ini membincangi Rozi, seorang pria yang masih saudaranya tengah sibuk mengurusi tempe.

“Tapi sekarang sudah campur, ada juga orang Jambi, Padang yang juga membuat tempe,” ujar bapak tiga anak tersebut. Ia menyebut selain di loorong Gembira sejumlah kawasn di kota Jambi juga menjadi tempat pengusha tempe. Sdalah satunya di Kuningan, tak jauh dari lorong gembira.

Maafi, pembuat tempe di kampoung itu mempunyai cerita yang tak jauh beda dengan Rozi. Bedanya, bapak lima anak itu mengawali usahnya mulai dari menjadi pekerja dengan juragan tempe lainnya. Setelah dua tahun bekerja, pada 1984 ia baru membuka usaha sendiri. “Disini pun keluarga saya banyak juga yang bikin tempe,” ujarnya yang didampingi keluarganya.

Pemilihan lorong Gembira sebagai tempat tinggal para pengusaha tempe tersebut ternyata cukup beralasan. Pasalnya disana ada saluran air seperti kali yang yang mereka jadikan tempat pembuangan limbah. “Makanya kami tinggal disini,” kata Rozi.

Lucunya, karena berporfesi sama mereka bertemu tidak saja di kampung tapi di pasar pun mereka bertemu. Sebab lapaka berjualannya berdekatan. “Saya jualan di pasar Angsoduo, ada juga yang di pasar baru (Pasar Talangbanjar),” tuturnya. (*)

Satu pemikiran pada “Kampung tempe asyiknya rame-rame

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s