Situs Trowulan

Trowulan Telah Hancur Sejak Lama

candi Bajang Ratu yang menurutku begitu mirip dengan bangunan rektorat Universitas Brawaijaya
candi Bajang Ratu yang menurutku begitu mirip dengan bangunan rektorat Universitas Brawaijaya

rektorat1Bangunan tua yang terdiri dari susunan batu bata itu cukup menggodaku. Ia bukan rumah, bukan pula kediaman orang kebanyakan. Aku pun tak tahu apa namanya, selain yang kutahu itu merupakan candi. Yang ku tahu itu bagian dari situs Trowulan, bagian dari kejayaan kerajaan Majapahit lampau yang berada di kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Melihatnya, aku langsung teringat dengan bentuk bangunan rektorat tempatku berlukiah. Mirip. Candi itu tidak begitu tinggi, lurus dibawah lalu sedikit mekar diatas seperti bentuk atap yang kian mengicl diatas,berundak. Belakangan kuketahui bahwa candi itu bernama Candi Bajang Ratu. Ukurannya hanya 11,5 x 10,5 m2.

Sayang, hanya sekilas aku melihat candi yang menurutka cantik itu. Ya sekilas, itupun dari atas sepeda motor ketika aku melintas dari Mojokerto menuju Malang. Dan kini tiga tahun setelahnya, aku tak menyangka lokasi bangunan yang kulihat itu jadi pembicaraan hangat.

Sebabnya, apalagi kalau bukan pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang katanya untuk mengakomodir keinginan presiden SBY. Melihat derasnya pemberitaan proyek miliaran rupiah itu, jujur aku terenyuh. Terlebih ketika media menulis, mempertontonkan gambar hasil “vandalisme” dengan narasi yang “provokatif”.

Aku cukup tertarik ketika Kompas mengilustrasikan bagaiaman wajah situs seluas 11 x 9 kilometer persegi itu dimasa lampau. Pun begitu ketika Sigi 30 menit SCTV meneropong kerusakan situs akibat pembangunan PIM.

Tapi rupanya, perusakan cagar budaya itu telah berlangsung lama, bahkan sistematis. Mengutip Muhidin M Dahlan, kerani di Indonesia Buku dalam tulisannya yang dimuat di Jawa Pos, Minggu (18/1) lalu.

“Kalau tak percaya, datangi saja dua perpustakaannya: perpustakaan kabupaten dan kota. Dua perpustakaan itu menjadi cermin terbaik bagaimana sejarah Majapahit yang menaungi kota ini menjadi cerita yang telah kehilangan pukaunya.”

Ia melanjutkan, tapi di perpustakaan Mojokerto (kabupaten dan kota), kisah kejayaan Majapahit hanyalah puing-puing yang tiada berguna. —
Tiba-tiba suara parau novelis Ceko Milan Kundera mendengung: ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s