Akal-akalan Pilpres Satu Putaran

satu putaranKabar itu dihembuskan Lembaga Studi Demokrasi (LSD) pimpinan Denny JA, Pilpres satu putaran. Tidak ada yang salah memang, Pilpres berjalan satu atau dua putaran. Asalkan, prosesnya berjalan dengan bersih, tanpa kecurangan. Toh, saya yakin semua pasangan siap menghadap satu putaran, sebaliknya ada yang tidak siap dengan pilpres dua putaran.

Tapi, nyatanya dengan dalih efesiensi anggaran menutupi fakta yang sebenarnya. Setidaknya, yang terbaca adalah kecemasan di kubu Soesilo BY (meminjam penyebutan nama yang dipakai Polri dalam paparan penyidikan kasus Kudatuli). Alhasil, jadilah pilpres satu gerakan ibarat gerakan nasional bangun pagi dan sederet gerakan nasional lainnya. Satu komando!

Dalam suatu perbincangan saya dengan orang yang pernah dekat dengan Soesilo BY, ia pernah di tim Sekoci, dibeber seperti apa sesungguhnya sosok SBY. Sosok yang kontraproduktif dengan citra yang selama ini dibangun. “Kesimpulannya SBY ini tengah panic,” kata dia.

Nah, makanya ketika kampanya pilpres satu putaran gencar dihembuskan, spontan saja mudah sangat menduganya. Ada yang tengah panic. Penyebabnya, bisa jadi elektabilitasnya yang turun. Buktinya, Deputi Direktur LP3ES Sudar Dwi Admanto dalam diskusi ‘Utang vs Kedaulatan mengatakan penurunan elektabilitas pasangan nomor urut dua itu, tidak hanya didasarkan pada instrumen utang semata.

Bahkan orang dalam SBY seperti dilansir detik.com menyatakan karena SBY ingin menghindari dua momentum: bulan Ramadan yang jatuh pada pertengahan Agustus dan bulan September yang diperkirakan pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM, akibat tingginya harga minyak dunia.

Jadi, upaya keras tim kampanye SBY-Boediono untuk menang satu putaran karena adanya ancaman harga BBM naik. Situasi ini membuat pasangan SBY menjadi dilematis. “Satu sisi, dengan naiknya harga minyak dunia, menuntut harga BBM dalam negeri harus dinaikkan jika tidak ingin cadangan APBN jebol. Tetapi keputusan menaikkan di saat menjelang pilpres putaran kedua hanya akan menjadikan pasangan SBY-Boediono bunuh diri politik,” tulis detik.com.

“Bulan Ramadan pula yang bisa menjadikan suasana kebatinan masyarakat akan menyatu dengan sosok dan figur yang dinilainya merepresentasikan kesalehan. Baik pada sosok itu atau keluarganya,” terang sumber itu lagi. Maklum, isteri SBY dan Boediono tidak berkerudung.

Jadi, bukan tak setuju pilpres satu putaran. Tapi, ada udang dibalik batu. Masyarakat, lagi-lagi dibohongi. Bagai pahlawan kesiangan ingin menghemat anggaran. Jadi ingat kata Ali Mohtar Ngabalin, ketika satu bus dengannya. “Buka dulu topengmu, kan kulihat wajahmu, buka dulu topengmu….”(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s