Madrasah Nurul Iman, Dulu dan Sekarang (1)

Dulu Santrinya Ribuan, Kini Ratusan

CUKUP beralasan bila daerah Seberang Kota Jambi bakal dijadikan kawasan wisata religi oleh pemerintah. Daerah di tepi Sungai Batanghari itu memiliki sejumlah pondok pesantren yang telah berdiri sejak lama. Satu di antaranya Madrasah atau Pondok Pesantren Nurul Iman.
Dua bangunan saling berhadapan. Kondisinya kontras sekali. Yang satu berkonstruksi kayu, sementara bangunan di depannya dari bata. Dua bangunan di Kelurahan Ulu Gedong, Kecamatan Danau Teluk, itu tak lain Madrasah Nurul Iman.

Matahari Jumat (4/9) belum tepat di atas kepala ketika mendapati sepi di bangunan berkonstruksi kayu bulian itu. Sekilas melihat, siapa pun yang melihat akan menyimpulkan bahwa bangunan itu sudah sangat uzur. “Ini masih asli seperti pertama dibangun,” kata Kepala Madrasah Nurul Iman Suhaili. Di bangunan itu tertulis bahwa bangunan berlantai dua itu dibangun pada 1915.

Adapun bangunan di depannya merupakan asrama santri Nurul Iman. Tidak ada aktivitas dari dua bangunan itu. Menurut Suhaili, selama bulan puasa mereka libur sehingga banyak santri memilih pulang. Santri juga tidak wajib tinggal di asrama.

Bangunan berkayu itu, meski masih seperti bentuk aslinya, sudah dilakukan penambahan. Suhaili menyebutkan, penambahan dilakukan di sisi kiri-kanan. “Di sanalah tempat belajar-mengajar, ruangannya disekat-sekat,” kata dia. Setiap lantai disekat menjadi enam kelas.

Didirikan pada 1915, menurut KH Tarmizi Ibrahim, seorang guru di madrasah itu, Nurul Iman didirikan beberapa kyai. Mereka adalah para ulama yang sempat mengenyam pendidikan agama di Arab Saudi. Sepulang dari tanah suci, mereka mendirikan sekolah agama, yakni Madrasah Nurul Iman, Nurul Islam, Saadatul Darain, dan Al-Jauharian.

Mengenakan kain sarung, ditemani sejumlah kitab dan buku agama, Pak Guru Tarmizi, begitu dia disapa, paham benar pasang-surut Nurul Iman. “Dulu zaman saya saja, santrinya mencapai seribuan orang, tapi kini hanya ratusan,” kenang alumnus Nurul Iman tahun 1967 itu.

Kini pria yang sudah 41 tahun mengajar di Nurul Iman itu paham benar bahwa santrinya mulai berkurang. Di tingkat madrasah ibtidaiyah (MI) hanya ada 200 siswa, sedangkan tingkat tsanawiyah dan aliyah sekitar 80 orang. Jumlah tersebut dididik 40 ustaz atau guru.

Banyak hal yang menyebabkan jumlah santri menyusut drastis. Bila dulu Nurul Iman murni mengajarkan kitab kuning, kini mereka telah mengikuti kurikulum dari Dinas Pendidikan. “Ya semenjak ada kurikulum Diknas inilah santri semakin berkurang,” terang Tarmizi tanpa bermaksud menyalahkan Diknas.

Hal itu sedikit-banyak membawa perubahan pada pola pengajaran. Dulu santri melakukan mutolaah (berkunjung) ke rumah guru-gurunya. “Kalau sekarang tidak ada,” terangnya.

“Tapi dalam dunia pendidikan pasang-surut itu biasa,” kata Tarmizi. Dulu santri Nurul Iman berasal dari berbagai pelosok desa di Provinsi Jambi. Bahkan tak sedikit dari provinsi tetangga seperti Sumatera Selatan.

“Mungkin karena dulu sekolah agama formal jarang, sehingga santri kita banyak,” terangnya. Kini santri di Nurul Iman tidak diwajibkan mondok atau tinggal di asrama. Santri di tingkat ibtidaiyah kebanyakan warga sekitar. Sedangkan santri tingkat tsanawaiyah dan aliyah tidak semua memilih tinggal di asrama.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s