Madrasah Nurul Iman, Dulu dan Sekarang (2)

Alumninya dari Rektor hingga Mufti di Malaysia

DI TENGAH keterbatasan, Madrasah Nurul Iman terus bertahan. Dulu, di masa keemasannya, Nurul Iman pernah melahirkan alumni yang menjadi mufti di negri jiran Malaysia. Di Jambi, sejumlah rektor masuk dalam daftar alumninya.

Wallpaper bergambar jutaan umat Muslim sedang beribadah di Kakbah menghiasai ruang tamu kediaman Tarmizi Ibrahim. Ukurannya cukup besar, penuh menutupi salah satu dinding berukuran sekira 3×3 meter itu.

Di sisi dinding yang berhadapan dengan jendela terpajang sebuah spanduk putih 1×1 meter. Spanduk cetak itu berisi gambar-gambar wajah. Ada 40 foto wajah berwarna hitam-putih. “Itu di antaranya pendiri Nurul Iman. As’ad termasuk yang pernah mengajar di Nurul Iman,” tutur Tarmizi.

Beberapa di antaranya adalah KH Ibrahim A Majid, KH Abdu Samad, KH Mahmud Bukhori, KH M Djafar A Jalil. Mereka bukan hanya ulama dari Jambi, tapi juga dari tanah Arab. “Misalnya KH Mahmud Bukhori,” terang ustaz yang juga ketua Lembaga Adat Kecamatan Danau Teluk itu, Senin (7/9). Bukhori merujuk nama daerah Bukhori di Uzbekistan.

Selain nama di atas, ada nama yang juga populer di dunia pendidikan di Jambi. Sebut saja KH HMO Bafadhal, Prof Dr H Khatib Quzwain. Keduanya mantan rektor IAIN Sulthan Thaha Saifuddin. “Mereka itu alumni sini,” kata pria kelahiran 15 Oktober 1946 itu.

Ketua MUI Provinsi Jambi Sulaiman Abdullah yang juga menjadi rektor IAIN STS pun pernah mengenyam ilmu agama di Nurul Iman. Menurut Tarmizi, HMO Bafadhal merupakan angkatan 1950. Sedangkaan Khatib Quzwain dan Sulaiman Abdullah angkatan 1956 dan 1957.

Menurut Tarmizi, cukup banyak alumni Nurul Iman yang menjadi orang atau pejabat. Selain nama di atas, masih ada nama Madjid Mu’az yang kini bupati Tebo dan Kepala Kanwil Depag Jambi Abdul Kadir Husin.

Tak melulu pejabat, alumnus Nurul Iman pun ada yang benar-benar menyebarkan ilmu agama. Adalah KH M Said Ibrahim, santri Nurul Iman yang menorehkan tinta emas. “Beliau menjadi mufti, imam besar di Malaysia pada 1955-an,” ungkapnya. Said Ibrahim sendiri berasal dari Tebo yang hijrah ke Malaysia.

Itu masa-masa keemasan bagi Nurul Iman. Pada 1971, KH M Said Ibrahim sempat mampir ke Nurul Iman ketika pulang ke Indonesia. “Dia memberikan ceramah, jamaahnya banyak sekali ketika itu,” Tarmizi mengenang.

Kakanwil Depag Jambi Abdul Kadir Husin menuturkan, masa keemasan madrasahnya itu terjadi pada 1966. Saat itu santrinya mencapai seribu lebih. “Coba, di mana cari santri sebanyak itu,” terang pria yang di sana hanya sampai ibtidaiyah.

Masuk pada 1961, ketika itu Nurul Iman masih menggunakan kurikulum sendiri. Di tingkat ibtidaiyah, ilmu yang diajarkan fokus kepada membaca Alquran, menghapal kitab tauhid, kitab fikih.

“Kalau untuk tsanawiyah, Nurul Iman menitikberatkan pada ilmu alat untuk memahami Alquran,” paparnya. Ilmu itu diantaranya meliputi nahwu, sharaf, mantiq, ma’ani, bayan.

Kadir Husin tak menutup mata bahwa almamaternya itu kini jauh tertinggal dibandingkan dulu. Ia menilai, di antara penyebabnya adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Adapun Tarmizi mengakui, perhatian pemerintah masih kurang. “Memang bantuan dari pemerintah ada,” imbuhnya datar.

Menurut Tarmizi, ia menyayangkan minimnya perhatian para alumni Nurul Iman. Padahal dengan beragam profesi para alumni, seharusnya madrasah berusia 94 tahun itu bisa maju. “Misalkan dari sekarang dibahas peringatan seratus tahun Nurul Iman. Kita seminarkan, ini kan aset. Alumni kan banyak, setidaknya ikut memerhatikan,” ujarnya.(*)

2 pemikiran pada “Madrasah Nurul Iman, Dulu dan Sekarang (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s