Bulan: April 2010

Razia Gigolo, Razia PSK Berani?

Untuk kali kesekian, film yang dibuat orang asing membuat heboh Indonesia. Sebelumnya, ada film Balibo yang dibuat orang Australia. Belakangan lembaga sensor film melarang pemutaran film tentang lima wartawan Australia yang tewas di Balibo tersebut.
Nah, teranyar apalagi kalau bukan Cowboys in Paradise. Saya sendiri belum melihat utuh film dokumenter itu. Saya masih melihat potongannya dari berita di tivi.
Masih dari berita, katanya film ini bercerita tentang gigolo di Pantai Kuta. Sampai-sampai, ada pengakuan isteri lelaki penghibur alias gigolo, alias lelaki tuna susila (LTS) bahwa ia merelakan suaminya tidur dengan tamu wanitanya. (lebih…)

Iklan

Jangan Meludah Dekat Orang Rimba

Di pedalaman taman nasional bukti duabelas (TNBD), sekira dua tahun lalu. Itulah kali pertama pertemuan saya dengan kelompok yang disebut-sebut sebagai suku asli orang Jambi. Ada yang menyebutnya suku anak dalam (SAD), suku kubu, dan orang rimba.

Setidaknya itu merupakan pertemuan saya dengan suku kubu di tempat tinggal aslinya. Bukan seperti ketika bertemu satu kelompok yang dipimpin Tumenggung Tarib dimobilisasi berdemo ke Kota Jambi.

Sudah lama saya ingin menulis tentang orang rimba. Tulisan Ketika Anak-anak Rimba Bicara Soal Seks yang diposting Ninuk Setya memacu saya untuk menuangkan pengalaman itu.

Dari sebuah desa di Kabupaten Batanghari, pagi hari kami bertolak menuju TNBD. Menyusuri pedesaan sepi penduduk, perkebunan sawit lalu bekas perkebunan akasia. Mengendarai mobil off road melewati jalan terjal, curam membuat perut kami terguncang.

Lewat tengah hari, barulah kami mendapati satu kelompok Suku Anak dalam yang dipimpin Tumenggung Nyenong. Begitu namanya kalau saya tak salah ingat.

Satu hal yang menggelayuti pikiran saya ketika bertemu mereka. Ini cerita yang kudapat dari mulut ke mulut. “Jangan meludah di dekat orang kubu, jika tidak kita akan diguna-guna dan ikut mereka,” begitu pesan yang hingga kini aku tak tahu kebenarannya. (lebih…)

Ada Arsenik di Garuda Gayus

Di sebuah Restoran Nasi Padang di Asian Foodcourt Lucky Plaza Singapura, tim satgas mafia hukum bertemu Gayus Tambunan. Gayus, pria kontorversi yang menyandang status PNS golongan IIIa.

Cukup istimewa memang mencari Gayus. Bukan satgas mafia hukum saja yang turun, melainkan gabungan dari penyidik Bareskrim Mabes Polri, Densus 88 Antiteror dan Satgas Antimafia Hukum. Jadi kalau boleh saya menyamakan Gayus dengan Artalita dan teroris. Meskipun, kasus ini bukanlah salah Gayus seorang. (lebih…)