Bulan: Agustus 2010

Rumah Ibadah Kalah dengan Panti Pijat

Sikap pemerintah kerap mempertontonkan keanehan. Sebagai contoh, soal keberadaan tempat-tempat prostitusi. Entah itu yang terang-terangan, atau yang terselubung berkedok panti pijat, spa, salon, atau karaoke.

Keberadaan usaha di atas tadi, diakomodir dengan cara memberikan izin. Meski kadang jelas-jelas, ada layanan plus-plus di sana.

Tapi tiba-tiba, ketika Ramadan tiba pemerintah meminta usaha-usaha tadi semua untuk tiarap. Tentu dengan dalih, menghormati Ramadan dan orang yang berpuasa. Saya mengambil contoh di kota tempat saya tinggal, Jambi. Di tempat lain, penertiban usaha semisal panti pijat, karoke, bar, diskotik, mungkin juga dilakukan.

Secara pribadi, saya mendukung upaya itu. Tapi tentunya jika tahu usaha tersebut ada ‘apa-apanya’, kenapa lantas diberikan izin.

Nah, soal izin bagi usaha esek-esek inilah yang menimbulkan pertanyaan. Tengok saja, keberadaanya. Saya yakin akan dengan gampang kita temui. Tapi coba lihat keberadaan rumah ibadah untuk umat agama tertentu.

Jadi wajar dikatakan, rumah ibadah ‘kalah’ dengan panti pijat. Karena sepertinya, pengurusan izin panti pijat sangatlah mudah ketimbang perizinan rumah ibadah.

Adalah hak warga Negara untuk beribadah sesuai kepercayaanya, dan pemerintahlah yang berkewajiban menjaminnya.

*tulisan seusai membaca berita berjudul ‘Kita Hanya Tinggal Punya Toleransi…’ di Kompas, edisi Kamis (26/9).

Iklan

Teruslah Bekerja Jangan Berharap pada Negara

Judul itu saya cuplik dari foto Mas Inu dalam tulisannya Republik Gelap di kompasiana. Gambar grafiti di satu sudut kota gudeg yang terekam kamera penulis Pak Beye dan Istananya memuat kalimat tersebut.

Sempat tertegun saya membaca kalimat itu. Pertama, ada dejavu yang hinggap, karena kok rasa-rasanya saya pernah mendapati kalimat yang cukup dalam itu.

Kedua, sungguh mengena nian kalimat itu di tengah karut marutnya beberapa persoalan negeri yang baru merayakan 65 tahun kemerdekaannya. Ia kian menohok ketika sindiran itu disampaikan dalam coretan graffiti, mural di tembok-tembok kota.

Ia seolah-olah menyiratkan bentuk perlawanan. Termasuk kejengahan akan sikap Negara terhadap permasalahan negeri. Tentu kita masih ingat ketika Cecak vs buaya mencuat, aneka mural dan grafiti menghiasi sudut Kota Jakarta. Bentuk protes terhadap praksis penegakan hukum.

Teruslah bekerja, jangan berharap pada Negara! Ketika pemerintah tak dapat menangani pengangguran, kemiskinan dan beragam masalah sosial lainnya, maka patut kita menyampaikan kepada mereka di atas sana, mari bekerja, jangan berharap pada Negara.

Fakir miskin dan anak telantar yang harusnya menjadi tanggung jawab Negara, justru diuber-uber. Penanganan masalah yang hanya hit and run, dan terus berulang. Tak ada solusi mumpuni.

Di saat tiga orang anak negeri menjaga wibawa tanah air, betapa terlambatnya pembelaan penguasa datang. Untuk sekadar menegur negeri jiran yang kerap mengklaim itu saja begitu lambat. Jangan berharap pada Negara.

Tentu kita tak menutup mata akan keberhasilan yang ditorehkan pemimpin negeri ini. Tapi rasa-rasanya, saya sulit mengingat apa saja itu. Utamanya bagi kemakmuran dan kesejateraan negeri (rakyat).

Kiranya, memang perlu dikampanyekan kemandirian rakyat tanpa bergantung pada Negara. Mari bekerja jangan berharap pada Negara.

Dan Big Ben pun Dikalahkan Mekah

Makah, memang luar biasa. Bukan saja karena di tanah Arab itulah bumi para nabi, tapi di sanalah berada kakbah, kiblat bagi umat muslim.

Bahkan, kawasan masjidil haram semakin tua justru semakin cantik. Tempat ibadah yang nyaman, sementara berbagai hotel berbintang berdiri megah mencakar langit.

Terbaru, sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press (AP), kemarin Negara yang didirikan Abdul Aziz as-Sa’ud itu resmi mengoperasionalkan jam dinding terbesar di dunia.

Ingat bagiamana kemegahan jam raksasa di pusat Kota London Big Ben? Inilah tandingannya.    Jam raksasa dengan empat sisi itu terpancang di puncak sebuah tower setinggi 600 meter atau setara 1.970 kaki. Bangunan ini bahkan menjadi bangunan tertinggi nomor dua di dunia setelah Menara Dubai Burj Khalifa di Uni Emirat Arab.

Jam yang lebih dari satu abad diakui sebagai pusat waktu dunia atau Greenwich Mean Time (GMT) itu, tertandingi dengan jam di makah tersebut.

Telegraph, melaporkan, jam tersebut ditempatkan di atas Mekkah Royal Clock Tower yang mendominasi kota suci Islam itu. Ini adalah jantung dari sebuah kompleks luas yang didanai Pemerintah Arab Saudi, di dalamnya terdapat hotel, pusat perbelanjaan, dan ruang konferensi.

Dari penampilan, memang menara jam raksasa itu menyaru Menara St Stephen tempat untuk lonceng Big Ben dan Empire State Building. Menara jam Saudi itu memang bertujuan untuk mengalahkan saingannya di Inggris tersebut dalam segala segi.

foto AP