Rumah Ibadah Kalah dengan Panti Pijat

Sikap pemerintah kerap mempertontonkan keanehan. Sebagai contoh, soal keberadaan tempat-tempat prostitusi. Entah itu yang terang-terangan, atau yang terselubung berkedok panti pijat, spa, salon, atau karaoke.

Keberadaan usaha di atas tadi, diakomodir dengan cara memberikan izin. Meski kadang jelas-jelas, ada layanan plus-plus di sana.

Tapi tiba-tiba, ketika Ramadan tiba pemerintah meminta usaha-usaha tadi semua untuk tiarap. Tentu dengan dalih, menghormati Ramadan dan orang yang berpuasa. Saya mengambil contoh di kota tempat saya tinggal, Jambi. Di tempat lain, penertiban usaha semisal panti pijat, karoke, bar, diskotik, mungkin juga dilakukan.

Secara pribadi, saya mendukung upaya itu. Tapi tentunya jika tahu usaha tersebut ada ‘apa-apanya’, kenapa lantas diberikan izin.

Nah, soal izin bagi usaha esek-esek inilah yang menimbulkan pertanyaan. Tengok saja, keberadaanya. Saya yakin akan dengan gampang kita temui. Tapi coba lihat keberadaan rumah ibadah untuk umat agama tertentu.

Jadi wajar dikatakan, rumah ibadah ‘kalah’ dengan panti pijat. Karena sepertinya, pengurusan izin panti pijat sangatlah mudah ketimbang perizinan rumah ibadah.

Adalah hak warga Negara untuk beribadah sesuai kepercayaanya, dan pemerintahlah yang berkewajiban menjaminnya.

*tulisan seusai membaca berita berjudul ‘Kita Hanya Tinggal Punya Toleransi…’ di Kompas, edisi Kamis (26/9).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s