Bulan: September 2010

Ini Jodoh atau Salah Densus

Jodoh adalah satu dari empat rahasia tuhan yang tak diketahui hambaNya. Meski jadwal pernikahan telah ditetapkan, undangan pernikahan telah disebar, tak ada yang mampu memastikan apakah rencana dan niat itu terwujud atau tidak.

Tapi, sungguh mengejutkan bahkan mungkin menyakitkan apa yang terjadi pada Bawor atau Wahono. Calon mempelai bagi Siti Aisyah itu urung menikah lantaran ia dicokok Densus 88 dengan tuduhan, apalagi kalau bukan terlibat terorisme di Medan. Seharusnya ia menikahi Siti Aisyah, Kamis pekan lalu di Lampung. Namun, Wahono ditangkap beberapa hari menjelang pernikahannya.

Keluarga mana yang tak panik, calon mempelai mana yang tak berduka atas kejadian tak terduga itu. Prosesi sakral lagi bersejarah dalam hidup setiap manusia itu berantakan lantaran penangkapan oleh Densus 88.

Kita apresiasi kerja aparat untuk memberantas terorisme. Tak hendak saya menafikannya. Namun dalam kasus ini, berapa banyak yang dirugikan. Terlebih Wahono.

Wahono dan empat orang rekannya dilepaskan Densus pada Minggu (26/9) lalu. Mereka yang semula diduga terkait teroris dan perampokan Bank CIMB Niaga Medan setelah diperiksa selama seminggu, ternyata Densus 88 tak kunjung menemukan bukti keterlibatan kelimanya dalam dua tindak pidana tersebut.

Wahono mungkin merugi berkali-kali. Gadis pujaan hatinya, Siti Aisyah yang seharusnya telah menjadi istrinya kini justru menikah dengan orang lain. Entah ia harus sakit hati, atau malah berbesar hati. Pasalnya suami mantan calon istrinya itu tak lain adiknya sendiri, Teguh Subagio.

Ya inilah takdir. Ini adalah jodoh. Tapi, bila kita di posisi Wahono, seberapa tegar kita. Lalu, jika kita di posisi Densus —yang juga menikah, berkeluarga—yang menangkap Wahono, kira-kira apa perasaan kita?
–Berita terkait ada di bawah ini 😉

http://www.tribunjambi.com/read/artikel/4424

http://www.tribunjambi.com/read/artikel/4565

Berbincang Bersama Penulis Buku-buku SBY

Buku yang menceritakan tentang Presiden SBY, saya yakin sudah cukup banyak. Ketokohannya yang fenomenal dipadu kontrovesi cara dan gaya kepemimpinannya, memang menarik untuk dikupas. Tak terkecuali oleh Adji Suradji sekalipun, yang walau hanya dalam sebuah opini.

Dari sekian banyak buku tentang SBY itu, saya ingin mengutipkan tiga judul saja. Masing-masing, Presiden Flamboyan SBY yang Saya Kenal karya Yahya Ombara, Bencana Bersama SBY karya Ridwan Saidi, dan tetralogi Pak Beye oleh Mas Inu.

Untuk dua nama pertama, saya pernah bertatap muka langsung dan berbicang dengan mereka. Adapun untuk Mas Inu, maaf, saya baru berkomunikasi melalui dunia maya. Entah itu lewat komentar postingan mas Inu, atau lewat chating di facebook serta melihatnya di layar kaca.

Pertemuan saya dengan Yahya Ombara dan Ridwan Saidi terjadi pada Juni tahun lalu. Yahya Ombara tak lain bekas tim sukses Bersama Kita Bisa. Ketika kongsi itu pecah pada pilpres 2009, Yahya yang direksi KAI lebih memilih JK.

Di sebuah bangunan di Kebayoran Baru, di lantai 3, sekira tengah malam. Yahya duduk di kursi di ujung meja. Ia bercerita tentang banyak hal, dengan lakon utama tetap pada sosok Presiden asal Pacitan.

Yahya yang keturunan Arab, sempat juga menyinggung peristiwa ucapan Ruhut soal jasa Arab pada negeri ini yang menuai kontroversi. Ingat bukan dengan peristiwa itu? Silakan klik paman google, pasti arsipnya bertebaran.

Mengenakan batik, Yahya juga menyampaikan konstelasi politik kala itu. Yang masih saya ingat, adalah soal posisi SBY di sejumlah kiyai besar di Jawa Tengah.

Ia juga menyinggung soal bukunya, Presiden Flamboyan SBY yang Saya Kenal. Buku itu, menurut Yahya sempat diborong oleh……..sehingga sempat tak ada di pasaran. Saya belum membaca buku itu secara keseluruhan. Yang jelas, yahya menyinggung pencitraan SBY, termasuk dari cara berjalan, hingga mengangkat tangan untuk menyapa sekalipun.

Di bangunan yang sama itu pula saya bertemu dengan bang Ridwan Saidi. Pertemuan yang lebih panjang ketika bukunya Bencana Bersama SBY di kupas di sebuah kafe di kawasan TIM. Soal buku bang Ridwan ini, setahun lalu saya pernah menuliskannya. Bencana Bersama SBY

Nah, yang tergres apalagi kalau bukan tetrralogi Pak Beye yang telah terbit dua buku. Sudah sangat banyak tulisan yang membahas buku Mas Inu. Jadi, saya bercerita sedikit saja.

Pernah Mas Inu bertanya pada saya, soal bagaimana buku itu di kota tampat tinggal saya. Ketika itu, terus terang saya katakan, untuk mencari pak Beye saya tak pergi ke Gramedia. Tapi, saya justru pergi ke toko buku bekas yang menjual buku bajakan.

Saya ingin tahu, apakah para pembajak itu menghilangkan hak penerbit dan penulis Pak Beye dan Istananya, dan Pak Beye dan Politiknya. Syukurlah, Pak Beye tak dibajak. Seingat saya, lantas Mas Inu mengatakan, itu tidak penting untuk dibajak.

Setahu saya, sekarang buku Mas Inu termasuk buku yang laris di pasaran. Terlebih Effendi Gazali mengaku mewajibkan bagi mahasiswanya.

Ah, andai saja buku mas Inu beredar semasa musim pilpres lalu. Kira-kira, kita kesulitan tidak ya mencarinya?..Kalau iya, jangan-jangan kegelisahan yang ingin dibagikan Mas Inu urung meyebar karenanya.