Berbincang Bersama Penulis Buku-buku SBY

Buku yang menceritakan tentang Presiden SBY, saya yakin sudah cukup banyak. Ketokohannya yang fenomenal dipadu kontrovesi cara dan gaya kepemimpinannya, memang menarik untuk dikupas. Tak terkecuali oleh Adji Suradji sekalipun, yang walau hanya dalam sebuah opini.

Dari sekian banyak buku tentang SBY itu, saya ingin mengutipkan tiga judul saja. Masing-masing, Presiden Flamboyan SBY yang Saya Kenal karya Yahya Ombara, Bencana Bersama SBY karya Ridwan Saidi, dan tetralogi Pak Beye oleh Mas Inu.

Untuk dua nama pertama, saya pernah bertatap muka langsung dan berbicang dengan mereka. Adapun untuk Mas Inu, maaf, saya baru berkomunikasi melalui dunia maya. Entah itu lewat komentar postingan mas Inu, atau lewat chating di facebook serta melihatnya di layar kaca.

Pertemuan saya dengan Yahya Ombara dan Ridwan Saidi terjadi pada Juni tahun lalu. Yahya Ombara tak lain bekas tim sukses Bersama Kita Bisa. Ketika kongsi itu pecah pada pilpres 2009, Yahya yang direksi KAI lebih memilih JK.

Di sebuah bangunan di Kebayoran Baru, di lantai 3, sekira tengah malam. Yahya duduk di kursi di ujung meja. Ia bercerita tentang banyak hal, dengan lakon utama tetap pada sosok Presiden asal Pacitan.

Yahya yang keturunan Arab, sempat juga menyinggung peristiwa ucapan Ruhut soal jasa Arab pada negeri ini yang menuai kontroversi. Ingat bukan dengan peristiwa itu? Silakan klik paman google, pasti arsipnya bertebaran.

Mengenakan batik, Yahya juga menyampaikan konstelasi politik kala itu. Yang masih saya ingat, adalah soal posisi SBY di sejumlah kiyai besar di Jawa Tengah.

Ia juga menyinggung soal bukunya, Presiden Flamboyan SBY yang Saya Kenal. Buku itu, menurut Yahya sempat diborong oleh……..sehingga sempat tak ada di pasaran. Saya belum membaca buku itu secara keseluruhan. Yang jelas, yahya menyinggung pencitraan SBY, termasuk dari cara berjalan, hingga mengangkat tangan untuk menyapa sekalipun.

Di bangunan yang sama itu pula saya bertemu dengan bang Ridwan Saidi. Pertemuan yang lebih panjang ketika bukunya Bencana Bersama SBY di kupas di sebuah kafe di kawasan TIM. Soal buku bang Ridwan ini, setahun lalu saya pernah menuliskannya. Bencana Bersama SBY

Nah, yang tergres apalagi kalau bukan tetrralogi Pak Beye yang telah terbit dua buku. Sudah sangat banyak tulisan yang membahas buku Mas Inu. Jadi, saya bercerita sedikit saja.

Pernah Mas Inu bertanya pada saya, soal bagaimana buku itu di kota tampat tinggal saya. Ketika itu, terus terang saya katakan, untuk mencari pak Beye saya tak pergi ke Gramedia. Tapi, saya justru pergi ke toko buku bekas yang menjual buku bajakan.

Saya ingin tahu, apakah para pembajak itu menghilangkan hak penerbit dan penulis Pak Beye dan Istananya, dan Pak Beye dan Politiknya. Syukurlah, Pak Beye tak dibajak. Seingat saya, lantas Mas Inu mengatakan, itu tidak penting untuk dibajak.

Setahu saya, sekarang buku Mas Inu termasuk buku yang laris di pasaran. Terlebih Effendi Gazali mengaku mewajibkan bagi mahasiswanya.

Ah, andai saja buku mas Inu beredar semasa musim pilpres lalu. Kira-kira, kita kesulitan tidak ya mencarinya?..Kalau iya, jangan-jangan kegelisahan yang ingin dibagikan Mas Inu urung meyebar karenanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s