Bulan: Maret 2011

Ala SBY, Dari Puitis Sampai yang Cengeng

Sudah banyak yang tahu bahwa Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) suka bermusik. Mulai dari mencipta hingga menyanyikannya. Tapi saya yakin, tidak banyak rakyatnya yang tahu atau mungkin peduli terhadap karya-karya presiden keenam Indonesia tersebut. Iya kan?

Saya, termasuk yang tidak peduli. Ah, mungkin kurang publikasi saja yah. Atau memang saya yang ketinggalan informasi sehingga tak tahu. Ketika ada pertanyaan mengenai lagu atau album SBY dalam soal seleksi CPNS beberapa waktu lalu, saya berkeyakinan, tidak banyak yang bisa menjawabnya dengan benar.
Padahal, sampai saat ini, setidaknya ada empat album SBY dengan jumlah lagu sebanyak 39 lagu. Album pertama Rinduku Padamu berisi 10 buah lagu. Album ini dicipta pada 2006 silam, ketika masih berduet dengan Jusuf Kalla.

Album kedua Majulah Negeriku berisi 11 lagu. Album ini tidak dipublikasikan kecuali lagu yang dinyanyikan Rio Febrian, Ku Yakin Sampai di Sana.

Lalu, album ketiga berjudul Evolusi berisi 10 lagu yang beberapa di antaranya dibuatkan video klip serta album keempat, Ku Yakin Sampai di Sana dengan delapan (kok bukan 9 ya..) lagu.

Menurut Remy Sylado masih ada lagu SBY yang belum dipublis Dari Jakarta ke Oslo untuk Bumi Kita. Lagu ini bahkan dibuat versi inggrisnya, Save Our World.

Selain gemar mencipta lagu, saya juga baru tahu bila sang presiden suka menulis puisi. Amboi….. Saya sendiri baru tahu dan membaca beberapa puisi karya SBY beberapa hari lalu. Saya mendapatinya di buku terbaru Remy Sylado alias Yapi Tambayong, Pak Presiden Menyanyi Esai tentang Karya Musik dan Puisi SBY.

Baiknya saya bagikan saja dua puisi di antaranya. Mau ya?

Demi Waktu

Bulan di atas perahu
Sendu

Cemara di kaki gunung
Termenung
Lolong di keheningan malam
Kelam
Pengemis di ujung kota
Duka
Kutahu waktu menjanjikan berkah
Kuburu, pantang menyerah
Apalagi pasrah

Menarik juga bukan? Kerana bukan kritikus sastra sekalipun menyukai puisi, saya merasa tak pantas memberi catatan atas puisi SBY berjudul Demi Waktu itu. Tapi, saya kutipkan saja secara bebas pandangan Remy Sylado dalam bukunya itu.
Romy bilang, kesan yang timbul atas puisi di atas adalah serupa metapora ala Sitor Situmorang. Mirip puisi Sitor berjudul Lebaran.
Terlepas dari terinspirasi mungkin, SBY juga punya puisi yang dilihat Remy serupa puisi yang cengeng. Ia masygul karena terganggu dengan puisi mendayu-dayu, cengeng. Itu tergambar dari puisi SBY berjudul, Kangen.
Rindunya hatiku padamu
Kekasih tambatan jiwa
Di seberang sana
Bolehkah kutitipkan salam
Lewat burung kenari
Yang terus bernyanyi

Sayang aku kangen
Pada pelangi di matamu dan
Kasih indah di dadamu
Masihkah bersemi?

Bagaimana pendapat Anda soal puisi Kangen itu? Cengeng atau seperti romantika remaja yang dangkal? Kalau saya teringat, eh kalau tidak salah ingat, SBY dulu kerap menyanyikan lagunya Jamrud, Pelangi di Matamu. Mungkin itu sebab mengapa muncul kalimat pelangi di matamu dalam puisi tersebut.
Terlepas dari apapun itu, saya sih salut saja untuk SBY. Ditengah kesibukannya sebagai presiden, ia yang manusia biasa seperti kita, rela menyempatkan waktu untuk menyalurkan jiwa atau bakat seninya. Pak Beye, kirimi saya puisi dong.

Iklan

Malam Remaja

dan ketika malam itu kututup dengan doa,
jagakan aku dengan bisikan tasbihmu
kapan kita kembali membuat Nya tersenyum,
ku tunggu percikan air di wajahku di sepertiga malam,
sebelum sajadah digelar

mari kita buat malam terus remaja
biar bulan tak terlalu suram pun tak terlalu binar
cukuplah temaramnya memandikan jiwa yang dimabuk cintaNya

mari kita buat rakib dan atid menggores tinta emas
kita ajak nur nur itu bermunajat dan membasahi kita dengan aminnya

*lebih dulu dipublish di sini

Tafsir Atas Diam

Tafsir Atas Diam#1

diammu selalu saja memberi seribu satu tafsir mendalam. maka ketika ia berpadu gerimis hujan yang kusenangi, basahnya menggenangi jiwaku. ia mengapung dalam senyap sebelum akhirnya tenggelam dalam riuh tafsirnya.

tapi, di diammu kali ini, semua itu tak kutemukan. tak membekas dan berjejak. diammu tak memberikan arti apapun bagiku dan tiada arti sama sekali. tak seperti bisumu yang termakan waktu lalu.

sungguh aku ingin mencari tafsir baru atas diam kata mu itu. mendedahnya dengan logika cinta atas diam sikap dan jiwamu. tatkala malam mengabari bahwa mulutmu terkunci rapat, aku pun hanya ikut diam dan terdiam. bukan diam berkontempelasi menafsirinya,melainkan gugu yang menumpulkan onggokan bulat di kepalaku.

Tafsir Atas Diam#2

diammu berjarak dan memberikan ruang kosong bagi kita. di ruang kosong sempit tapi berasa tanpa tepi. entah itu setara dengan berapa jarak tahun cahaya. aku tak tahu.

ruang kosong harusnya menjadi manzilah bagi jiwa ku yang lelah akan diammu. tapi aku selalu nanar berada di sana. ketika diammu menjelma angkuh, aku jadi rapuh. dan lagi, terombang-ambing dibuatnya.

heningmu terus bermain dengan binalnya. melumat sabar yang kusemai berdarah-darah. sementara engkau kian larut di dalamnya, menikmati candu diammu. engkau curang dalam diammu!

Tafsir Atas Diam#3

diammu kudapati di antara belukar pilu yang kau semai. tak mampu aku menyingkirkannya atau sekadar menghembusnya. engkau boleh menggenggam luka itu, tapi sesungguhnya akulah yang terluka.
ketika diammu membawamu tinggi ke menara gading, tinggi, tinggi. dan aku tak mampu menjamah atau menengadahkan kepala. ini bukan cerita menang kala dalam kesombongan batin kita. tapi bisumulah yang membuatnya beranak pinak.
lalu kurelakan diriku kepada malam untuk memungut remah luka yang telah tercecer di ujung onak. jangan bilang ia tak tajam. baiknya kau rasakan sendiri, kelak atau selang sesaat aku merasai. mungkin sakit itulah yang memecahkan keangkuhan diammu itu. bukankah kita kerap belajar dan tersadar ketika pilu itu hadir.

*telah lebih dulu diposting di www.kompasiana.com/rachmawan