Ala SBY, Dari Puitis Sampai yang Cengeng

Sudah banyak yang tahu bahwa Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) suka bermusik. Mulai dari mencipta hingga menyanyikannya. Tapi saya yakin, tidak banyak rakyatnya yang tahu atau mungkin peduli terhadap karya-karya presiden keenam Indonesia tersebut. Iya kan?

Saya, termasuk yang tidak peduli. Ah, mungkin kurang publikasi saja yah. Atau memang saya yang ketinggalan informasi sehingga tak tahu. Ketika ada pertanyaan mengenai lagu atau album SBY dalam soal seleksi CPNS beberapa waktu lalu, saya berkeyakinan, tidak banyak yang bisa menjawabnya dengan benar.
Padahal, sampai saat ini, setidaknya ada empat album SBY dengan jumlah lagu sebanyak 39 lagu. Album pertama Rinduku Padamu berisi 10 buah lagu. Album ini dicipta pada 2006 silam, ketika masih berduet dengan Jusuf Kalla.

Album kedua Majulah Negeriku berisi 11 lagu. Album ini tidak dipublikasikan kecuali lagu yang dinyanyikan Rio Febrian, Ku Yakin Sampai di Sana.

Lalu, album ketiga berjudul Evolusi berisi 10 lagu yang beberapa di antaranya dibuatkan video klip serta album keempat, Ku Yakin Sampai di Sana dengan delapan (kok bukan 9 ya..) lagu.

Menurut Remy Sylado masih ada lagu SBY yang belum dipublis Dari Jakarta ke Oslo untuk Bumi Kita. Lagu ini bahkan dibuat versi inggrisnya, Save Our World.

Selain gemar mencipta lagu, saya juga baru tahu bila sang presiden suka menulis puisi. Amboi….. Saya sendiri baru tahu dan membaca beberapa puisi karya SBY beberapa hari lalu. Saya mendapatinya di buku terbaru Remy Sylado alias Yapi Tambayong, Pak Presiden Menyanyi Esai tentang Karya Musik dan Puisi SBY.

Baiknya saya bagikan saja dua puisi di antaranya. Mau ya?

Demi Waktu

Bulan di atas perahu
Sendu

Cemara di kaki gunung
Termenung
Lolong di keheningan malam
Kelam
Pengemis di ujung kota
Duka
Kutahu waktu menjanjikan berkah
Kuburu, pantang menyerah
Apalagi pasrah

Menarik juga bukan? Kerana bukan kritikus sastra sekalipun menyukai puisi, saya merasa tak pantas memberi catatan atas puisi SBY berjudul Demi Waktu itu. Tapi, saya kutipkan saja secara bebas pandangan Remy Sylado dalam bukunya itu.
Romy bilang, kesan yang timbul atas puisi di atas adalah serupa metapora ala Sitor Situmorang. Mirip puisi Sitor berjudul Lebaran.
Terlepas dari terinspirasi mungkin, SBY juga punya puisi yang dilihat Remy serupa puisi yang cengeng. Ia masygul karena terganggu dengan puisi mendayu-dayu, cengeng. Itu tergambar dari puisi SBY berjudul, Kangen.
Rindunya hatiku padamu
Kekasih tambatan jiwa
Di seberang sana
Bolehkah kutitipkan salam
Lewat burung kenari
Yang terus bernyanyi

Sayang aku kangen
Pada pelangi di matamu dan
Kasih indah di dadamu
Masihkah bersemi?

Bagaimana pendapat Anda soal puisi Kangen itu? Cengeng atau seperti romantika remaja yang dangkal? Kalau saya teringat, eh kalau tidak salah ingat, SBY dulu kerap menyanyikan lagunya Jamrud, Pelangi di Matamu. Mungkin itu sebab mengapa muncul kalimat pelangi di matamu dalam puisi tersebut.
Terlepas dari apapun itu, saya sih salut saja untuk SBY. Ditengah kesibukannya sebagai presiden, ia yang manusia biasa seperti kita, rela menyempatkan waktu untuk menyalurkan jiwa atau bakat seninya. Pak Beye, kirimi saya puisi dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s