Ketidakberpihakan Rekening Dana Sosial

Siapa yang paling membutuhkan dengan adanya penghimpunan dana melalui rekening sosial? Apakah para penderma yang memiliki rezeki berupa harta lebih, atau masyarakat tak mampu yang menjadi objek penyaluran dana tersebut?
Cobalah lihat iklan sejumlah rekening sosial, di televisi atau di media cetak. Ingat seperti apa bentuk iklannya? Bila lupa, sila tunggu iklan itu menyapa Anda di udara.

Saya mengambil contoh rekening Jalinan Kasih yang ada di RCTI. Maaf, contoh ini saya ambil lantaran itu yang kerap saya jumpai. Artinya, bisa jadi saya lebih sering menonton RCTI ketimbang stasiun lainnya. Atau, iklan rekening Jalinan Kasih lebih sering muncul ketimbang iklan rekening sosial yang dimiliki stasiun tivi lainnya. Namun sepengetahuan saya, format iklan rekening sosial di tivi lain juga demikian. Setali tiga uang.

Bila Anda, orang yang memiliki kemampuan berderma dengan harta, sangat tepat dengan iklan itu. Anda tak perlu banyak langkah untuk menjadi “korban” pariwara itu. Cukup bermodal ingatan tajam, atau alat tulis. Lalu, catat saja nomor rekening. Langkah selanjutnya, dengan kemajuan teknologi, dengan gadget di tangan, uang Anda segera berpindah ke rekening yang danaya kerap disalurkan untuk penanganan kesehatan masyarakat tak mampu tersebut.
Tapi, bila Anda orang yang membutuhkan bantuan, selamat berusaha lebih di tengah kekurangan yang membelit. Anda harus mencari nomor telepon pengelola rekening yang tentu untuk mendapatkannya harus melalui beberapa langkah. Dan saya yakin, tentu tak mudah. Bagaimana agar bisa mendapatkan bantuan itu?. Tentu kalimat tanya itu yang muncul.
Oh Tuhan, sialnya, tak ada petunjuk mengenai hal itu di sana. Umumnya, iklan-iklan rekening sosial hanya menampilkan nomor rekening. Itu tentu disertai slide bahwa dana yang dihimpun telah disalurkan dan diterima oleh orang yang tepat. Dan maaf, itu biasanya disertai visual saudara-saudara kita yang kurang sempurna, secara fisik misalnya.
Bukan tidak percaya dengan aneka rekening sosial itu. Rekening yang dimiliki lembaga yang kredibel, serta disertai laporan penyaluran dana melalui kemasan tayangan, tentu itu harus kita apresiasi positif.
Amat disayangkan bukan, ketika yayasan atau rekening sosial, masih berorientasi pada penghimpunan dana. Ingat Bung, ini bukan bank. Menyalurkan rupiah bagi si kaya jauh lebih mudah ketimbang si miskin yang membutuhkan bantuan.

*lebih dulu ditendang ke http://www.kompasiana.com/rachmawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s