Pulau Berhala, Uji Nyali Perjalanan Tanpa Pengaman

Pulau Berhala

Wisata bahari di Pulau Berhala, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur boleh jadi luput dari perhatian pemkab setempat dan Pemprov Jambi. Tapi keterbatasan sarana transportasi, infrastrukur ternyata tak menyurutkan keinginan pengunjung ke sana.

SIAPA sangka jumlah pengunjung Pulau Berhala mencapai ribuan orang dalam sehari. Itu hanya terjadi saat Idulfitri tiba. Lebaran adalah peak season bagi pulau yang masih diincar oleh Pemprov Kepri itu.
Orang-orang berjejal di pantai dan jalan setapak di pulau itu. Sehingga pulau kecil itu sangat padat. Demikian penuturan Kepala Dusun Berhala, Kecamatan Sadu, Junaedi kepada Tribun yang menyambanginya sejak Rabu (12/10) lalu. Saking padatnya menurut Junaedi, untuk berjalan di jalan setapak yang ada sangat susah.
Mereka umumnya adalah pengunjung dari Muara Sabak, Nipah Panjang, Sadu, dan Kota Jambi. Bukan perkara sulit bagi warga sekitar Pulau Berhala untuk menuju pulau itu, kehidupan mereka yang berada di tepi pantai atau daerah perairan membuat akses ke sana tak jadi soal. Tapi bagaimana pengunjung dari Kota Jambi bisa menuju ke pulau berpasir putih itu?
Pertanyaan itu pula yang mungkin ada di benak Anda yang hendak berwisata ke sana. Maklum saja, tidak ada angkutan umum air yang secara rutin mengangkut penumpang ke sana, dengan rute pergi-pulang.
Solusinya adalah mencarter speedboat atau pompong nelayan setempat. Rute yang umum ditempuh adalah Ancol, Kota Jambi ke Sungai Itik atau Sungai Lokan, Kecamatan Sadu, Tanjabtim lalu ke Pulau Berhala. Atau bila tak dari Ancol bisa pula bertolak dari Suak Kandis, Kabupaten Muaro Jambi.
Siapkanlah uang hingga jutaan rupiah. Untuk berangkat dari Suak Kandis, misalnya. Untuk mencarter speedboat ke Sungai Itik atau Sungai Lokan, Kecamatan Sadu Anda harus merogoh kocek hingga Rp 600 ribu. Bila beruntung, harga itu bisa turun jadi Rp 500 ribu.
Dari Ancol pun tarif sewa yang Anda keluarkan untuk menuju Kecamatan Sadu relatif sama. Atau ikut speedboat regular yang hanya dikenakan ongkos Rp 55 ribu. Tapi, risikonya Anda harus menunggu angkutan penuh.
Dari Sadu, untuk menuju Pulau Berhala bila ingin jarak Anda tempuh dalam waktu satu jam, bisa mencarter speedboat. Tapi risikonya, pakaian akan basah kuyup lantaran speedboat itu berbadan kecil. Risiko lainnya, perut akan melulu terguncang akibat benturan ombak dengan bagian bawah speedboat.
Agar sedikit lebih nyaman, baiknya Anda menumpang pompong dengan biaya carter sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Itu apabila Anda menginap untuk satu atau dua malam. Empunya pompong akan setia menunggu bahkan menemani.
Perjalanan melewati Selat Berhala adalah perjalanan menguji nyali. Terlebih bila Anda menumpang speedboat. Ditambah pula  ketiadaan pelampung sebagai pendukung keselamatan transportasi laut. Akumulasi tersebut ditambah ombak yang terus bergulung menggoyang angkutan menimbulkan waswas.
Tapi beruntung para nelayan yang menyewakan perahu cepat atau pompongnya tak juga asal angkut penumpang. Mereka tetap memperhatikan petunjuk alam. Mereka akan memperhatikan arah angin, musim angin, tak lupa cuaca.
Laut sudah jadi bagian hidup yang tak terpisahkan sehingga mereka akrab menafsiri pertanda alam itu, apakah layak ke laut atau menunggu untuk sementara waktu.
Kunal yang bernama lengkap Hasnal Muthalib, pemilik pompong yang Tribun sewa mengatakan, Oktober ini adalah musim angin tenggara. Itu artinya, angin tidak kencang dan ombak tak pula besar.
“Tapi kalau Agustus itu angin utara, ini ombak tinggi, tak berani kite ke laut,” kata Kunal yang hanya berbekal pakaian di badan serta dua bungkus rokok saat mengantar Tribun bermalam di Berhala.
Menurutnya, pertukaran angin terjadi dalam waktu dua bulan sekali. Hanya saja ia mengatakan, walau sedang musim angin tenggara bukan berarti ribut (istilah masyarakat setempat menyebut angin kencang) tidak muncul.
Butuh waktu sekira setangah jam bagi saya untuk menyesuaikan keadaan di laut. Kerasnya suara mesin disel pompong, dan ombak yang terus mengguncang baru bisa dinikmati sebagai warna-warni perjalanan 30 menit setelah bertolak dari Sungai Itik.
Laut lepas langsung kita temui setalah 10 menit bertolak dari Sungai Itik. Di kejauhan Pulau Berhala terlihat samar-samar. Memasuki laut, kumpulan burung camar mengikuti laju pompong dari belakang. Mereka berebut ikan yang terempas ke atas permukaan air karena tolakan baling-baling.
Semakin jauh pompong melaju, berangsur burung camar menghindar. Itu artinya, Pulau Berhala semakin dekat. Semakin besar wujudnya terlihat, kencangnya ombak segera terlupa berganti bayangan indah pasir putih dan bebatuan besar yang mengelilingi Pulau Berhala.

*Tulisan saya ini telah diterbitkan di Tribun Jambi
Pulau Berhala (2) Pedagang Penjelajah Laut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s