Di Gugusan Pulau Berhala Ada Pulau Berpenyu

pasir putih pulau berhala tribunjambi/aldino
pasir putih pulau berhala tribunjambi/aldino

Jauh‑jauh ke Pulau Berhala teramat sayang bila tak menginjakkan kaki di gugusan pulau yang ada di sana. Minimal, sempatkan diri mengelilingi pulau yang sudah resmi milik Pemprov Jambi tersebut.

BEGITU  tiba di Pulau Berhala, urungkan dulu melempar sauh. Ada baiknya  meminta nahkoda yang membawa Anda untuk berkeliling pulau.   Hanya perlu waktu sekira 30 menit mengitari Berhala menggunakan pompong dengan kecepatan sedang. Anggap saja itu sekaligus survei, sisi pantai mana yang nantinya akan Anda nikmati.

Tepian Pulau Berhala tak semuanya berpasir. Beberapa bagian tepinya merupakan bebatuan cadas yang besar, ada pula ditumbuhi vegetasi tanaman hutan. Setidaknya ada empat bagian di sana yang tepiannya berupa pasir putih.
Mengitari pulau seluas sekira 60 hektare itu, akan didapati sejumlah pulau tak kalah indahnya. Pulau Berhala tak berdiri sendiri. Ada gugusan pulau di sana. Setidaknya ada lima pulau yang luasnya lebih kecil berada di sekitar Berhala. Pulau‑pulau itulah yang layak Anda kunjungi pula.
Kadus Pulau Berhala, Junaedi menyebutkan lima pulau itu masing‑masing, Pulau Telur atau Sisik, Pulau Layak, Pulau Lampu atau Nyirih, Pulau Celumar, dan Pulau Tanjung Hantu Laut.
Dari kelimanya, boleh jadi Pulau Telur dan Pulau Lampu yang paling populer. Selama dua hari di Berhala, Tribun mendapati kedua pulau itu sering disebut.
Cerita mengenai Pulau Telur disimpan secara kolektif oleh masyrakat Berhala melalui cerita dan juga pengalaman masing‑masing. Pulau yang berada di sisi timur Berhala itu dinamakan Telur karena di sana kerap ditemui telur penyu.
“Di sana penyu biasanya muncul saat bulan gelap. Kalau mau melihat harus bermalam di sana,” jelas Edi kepada Tribun yang menyambanginya Rabu pekan lalu.

Seorang warga Berhala lainnya bercerita, suaminya pernah melihat penyu akan bertelur. Sekali bertelur ada puluhan telur penyu yang dikubur sang induk.
Telur‑telur inilah yang kadang jadi buruan. Padahal bisa jadi bila pulau ini dikelola dapat disulap menjadi tempat penangkaran penyu.
Adapun Pulau Lampu tak lain karena di sana berdiri mercu suar. Menurut Junaedi, orang‑orang sebelumnya menyebut pulau itu sebagai Pulau Nyirih.
Pulau yang berada di selatan Pulau Berhala inilah yang juga kerap disinggahi pengunjung. Datuk Tancap, tetua di sana mengatakan semasa penjajahan Jepang, bila kedapatan petugas penjaga mercu suar tak ditempat, dipastikan akan disiksa tentara Nippon.
Dalam perjalanannya, kini menara mercu suar tersebut tak selalu dijaga petugas. Lampu tersebut mengandalkan tenaga surya dan otomatis berputar sendiri ketika menyala.
Singgah di pulau‑pulau di sekitar Berhala hendaknya menggunakan perahu. Itu untuk menghindari kandas bila menumpang pompong, karena di sekitar pulau banyak terdapat bebatuan.
Sayangnya, saya dan rekan seperjalanan Aldino tak berkesempatan mendatangi pulau‑pulau kecil itu. Kami hanya sempat memutari Pulau Berhala, merekam keindahannya dengan kamera dan ingatan.
Bermalam di Pulau Berhala jangan membayangkan disertai fasilitas lengkap. Rumah‑rumah warga setempat bisa dipakai, namun untuk wilayah Jambi biasanya pengunjung meminta bantuan Kadus Pulau Berhala, Junaedi atau Edi.
Di rumah yang dibangun Pemprov yang telah ditinggal penghuninya itulah Anda bisa bermalam. Atau bisa tidur di pendopo yang ada di depan rumah Edi, persis di tepi pantai. Sejumlah pengunjung malah ada yang tidur di tepi pantai. Soal air bersih, kendati di tengah laut, sumur‑sumur warga setempat mengeluarkan air tawar yang jernih. (*)

Tulisan saya ini sudah diterbitkan di Tribun Jambi

Pulau Berhala (1) Perjalanan Uji Nyali

Pulau Berhala (2) Pedagang Penjelajah Laut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s