Tanah Impian

Kalimat Terakhir

1

Mendung hitam telah menuakan senja dari umur yang seharusnya. Keemasan senja tak lagi mewarnai batas cakrawala. Berganti hitam pekat yang merayap, melumat dan menghisap warna emas di kejauhan sana. Angin pun tak bertenaga meniup daun-daun tua di pepohonan yang sama rentanya. Pepohonan pinus rapat yang mematung semakin menggelapkan tanah impian Diandra.

Tanah impian, begitulah Diandra menyebutnya. Tanah impian berupa taman yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Disanalah ia menghabiskan waktunya. Untuk segala hal, gadis berambut lurus itu betah berlama-lama. Mempelajari hidup dan kehidupan, ujarnya suatu ketika. Tak ada penjelasan detil mengapa ia menyebut taman kota itu sebagai tanah impian. Kecuali bahwa mereka yang ‘membangun’ tanah impian itu kini malah terkubur. Tak dapat bermimpi di tanah impiannya. Sebuah ironi yang terkadang membuat jiwanya bergolak kala mengingatnya.
Mereka tergusur dan tergerus rerimbunan hutan beton dan menara. Yang kerindangannya menciptakan kanopi dan menaungi setiap sudut kota tempat tinggal Diandra. Bersyukur Diandra tanah impian itu tak turut dipangkas. Untuk disemai benih-benih baja yang menumbuhkan menara-menara keangkuhan.
Diandra, sosok yang kedewasaanya prematur terlahir di dirinya. Usianya belum genap 17 tahun. Ia bukanlah seorang pelajar, tapi ia mau belajar. “Alam terkembang jadi guru, dari sanalah aku belajar. Juga di tanah impianku,” sebutnya lagi. Ia mengaku masih kecil, tapi berontak kala geliat moderniasasi mengecilkan tubuh-tubuh tak berprinsip.

Di tanah impian itu pulalah sosok Diandra menyemai benih mimpinya. Dibiarkannya tumbuh di ladang khayalan yang dirasa sangat nyata baginya. Namun Diandra adalah ironi. Di tanah impiannya itu pula, impiannya terkubur.

Ia adalah Cassandra. Sebuah mitologi Yunani. Meski ia bukan putri raja. Tapi kutukan Cassandra melekat pada sosok mungil Diandra. Cassandra adalah putri raja Priam dan Hecuba dari Troya. Ia bisa meramal malapetaka sebelum terjadi, tapi kutukannya tak ada orang yang mau percaya padanya!

Diandra memang tak bisa meramal malapetaka, tapi ia bisa membaca malapetaka. Gejala dan perubahan alam adalah referensinya. Bakat alam yang melekat erat dan tertanam didirinya. Itulah sebabnya ia getol ‘menginggau’ pentingnya tanah impian. Pun dengan hal-hal lainnya. Tak heran ia dikatakan meracau.
Mendung kini telah sirna. Namun tanah impian lebih gelap, sebab malam telah membentangkan selimut lebarnya. Diandra tersudut gelap. Oleh komunitasnya, Diandra bernasib seperti Cassandra. ‘Ramalannya’ tak dipercaya. Suka atau terpaksa, ia harus menerima kutukannya. Kedewasaan prematurnya dinafikan.

*

Sudah 180 derajat jarum panjang jam dinding di kamarku berputar. Selama itu pula aku mengagumi sebuah halaman surat kabar edisi Minggu. Pandanganku tersita dalam empat kolom di pojok kanan atas.
Tanah Impian. Judul dua kata itu dicetak dengan ukuran huruf paling besar dari teks yang ada di halaman hitam putih. Di bawahnya, ada sebuah ilustrasi. Pohon pinus yang doyong, roboh, sementara di sampingnya bangunan pencakar langit dan rangka baja menara menjulang sombong. Ke bawah lagi sebuah nama dalam dua kata dicetak tebal. Ya, itulah namaku.

Begini rupanya sensasi pemula ketika cerpennya dimuat di surat kabar. Sampai-sampai aku nyaris hapal kalimat per kalimat dalam cerpenku Tanah Impian itu. Sejak ku tulis dan diterbitkan, entah berapa kali naskah itu melintas di otakku sebelum mengendap beberapa darinya.

Sudah dua minggu nasakah itu aku kirim. Tanpa berharap dimuat, tak dinyana koran yang kubeli seusai sarapan itu membuat aku berteriak yang membangunkan teman satu kosku.
Padahal aku iseng saja menulis cerpen itu selepas ujian skripsi yang melelahkan. Sore harinya, aku ke alun-alun Kota Malang. Taman di tengah kota yang mengasyikan untuk melepas penat sembari menunggu azan Magrib. Cukup melangkah beberapa meter dari taman, kita langsung masuk ke masjid jami yang indah. Suasana yang asyik untuk memindai imajinasi khayali menjadi tulisan.

Nyaris saja diriku yang bodoh dan bau kencur ini terlahir pongah lantaran dimuatnya cerita pendek tersebut. Dan aku beruntung, bertemu dengan orang baik yang berterus terang memberitahu bahwa ada sisa cabai di gigiku.

Dialah Ary Setya Ardhi. Sastrawan ternama di kota kelahiranku di sebuah kota kecil di Pulau Sumatera sana. Sosok yang sudah ku anggap abangku sendiri.

“Abang suka cerpenmu. Lumayan, bagus!”
“Kau bisa lari dari komunitasmu yang menghasilkan fiksi yang sarat dakwah dan popular. Pesan itu kau sampaikan dalam bahasa humanis bukan menggurui. Aku suka,” Aku membaca pesan di layar chating IMRC dari Bang Ary.

Belum sempat aku membalasnya, pesan darinya kembali masuk.
“Tapi jangan senang dulu walau tulisan atau cerpenmu dimuat surat kabar,”
Dess…Aku tercekat.

“Memang kenapa Bang?” aku bertanya.
“Yang tahu isi dapur redaksi ya bukan pembaca. Bisa jadi, ketika itu hanya dirimu seorang yang mengirimkan naskah sehingga mereka tak ada pilihan,” Bang Ary bergurau. Tapi aku tahu dalam guraunya ia serius.
Bang Ary member kemungkinan lain. “Atau bisa jadi, ketika itu redaktur yang menangani halaman tersebut sedang sakit dan digantikan redaktur lain yang tak paham dengan dunia sastra.”
Aku terdiam.

Baru aku tersadar bahwa Bang Ary juga seorang wartawan. Ia redaktur halaman sastra di Koran tersebut. Aku mulai termakan alasan yang diberikan pria berambut gondrong itu.

Dan pembicaraan itu menjadi panjang. Bang Ary bukan saja memuji membabi buta, tapi juga mengkritik ku secara proposional. Hingga akhirnya ia menggelitikku untuk menelisik dunia jurnalistik.
“Toh kau punya bakat menulis, walaupun fiksi tak bisa disamakan dengan berita dalam beberapa hal. Tapi, satu hal yang sama,keduanya sama-sama ditulis,” rayunya.

**Akahirnya, saya memilih judul Novel ini “Kalimat Terakhir”

*825 kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s