Mengamini Dalam Hati

5

Ruangan ini sangat sederhana. Ukurannya tidak lebih besar dari kamar kebanyakan seluas 4 x 3 meter. Tumpukan Koran tapi rapi, ditaruh di sudut ruangan. Aku tahu, susunanya itu berdasarkan tanggal terbit. Paling atas, tentu Koran edisi teranyar.

 
Di atas meja beralas kaca, satu unit laptop warna hitam menyala. Ada dua kursi di seberang meja. Aku duduk di salah satunya. Di belakang kursi yang kosong, pigura karikatur menempel di dinding berbahan gypsum. Empunya kursi dan pemilik ruangan memintaku menunggu. Ia masih menyelesaikan urusan di lantai bawah.

 
Karikatur hitam putih itu, sangat persis dengan sosok aslinya. Bukan secara fisik semata, tapi juga si pembuat menggoreskan pesan filosofis tentang sifat. Wajah karikatur itu tak lain merupakan Bang Hasyim, pemimpin perusahaan sekaligus general manager kami.

 
Di coretan dengan pensil itu, wajah Bang Hasyim tengah tertawa lebar. Ia memang orang yang doyan mengekspresikan kelucuan dengan tawa di atas rata-rata. Bila kami tergelak bersama, kalau suara tawa itu satuannya desibel, yakinlah angkanya nyaris mendekati  digit tertinggi.
Aslinya, pemilik nama lengkap Hasyim Ali itu seorang berkepala plontos. Kacamata minusnya selalu bertengger di batang hidung.  Badannya gempal, berlemak kendati ia hobi berolah raga. Dan di karikatur itu, sosok Bang Hasyim seakan tampak dua kali lebih besar.

 
Soal, rambut yang tak lagi tumbuh di kepala itu, kadang kami jadikan lelucon. Harusnya, kepala Bang Haysim  hanya botak sebagian saja, di depan atau bagian belakang.

 
“Kalau botak di depan itu orangnya pemikir. Tapi kalau plontos kepala di belakang, tandanya orang pintar,” pancing  Kordinator Liputanku, Fajar.
Bila lelucon yang kerap diulang-ulang itu didengungkan, segeralah kami bersama-sama memabalas. “Tapi kalau botaknya depan belakang, namanya dia pikir dia pintar,.”

 
Haha…ha…ha…
Tawa kami pun pecah.
Pesanku, jangan sembarangan  memainkan lelucon ini, kawan.
Di karikatur itu, sembari tergelak, kepala Bang Hasyim yang miring mengapit handphone ke bahu. Tangan kanannya memegang raket tenis. Aku tak dapat membayangkan sulitnya ia berlari mengejar bola di lapangan. Lalu tangan kirinya memegang remot control.

 
Andi, sang karikaturis benar-benar  paham bagaimana sosok Bang Hasyim. Seorang super sibuk, multi tasking,dan  pemilik tawa yang besar.  Itulah jawaban atas gambar yang ia buat. Sementara mengenai remot  menurut Andi ada filosofi lain  yang hanya ia bagi tahu ke orang tertentu. Aku bersyukur masuk dalam orang  yang diberi tahu olehnya.
Memang di karikatur itu, sosok Bang Hasyim tidak berdiri sendiri. Di samping nya, ada karikatur yang memperlihatkan aktivitas kantor. Ukurannya jauh lebih kecil, seperti terlihat dari kejauhan.  Keriuhan aktivitas kantor yang berupa kumpulan orang-dan itu penggambaran kami di redaksi-tampak seperti mesin.  Ke arah penggambaran aktivitas redaksi itulah,  remot tadi di arahkan.

 
“Itu penjelasan atas sistem kerja kita selama ini. Kita seperti robot. Apa yang kita lakukan harus selalu seperti petunjukknya. Tak peduli apakah benar atau salah,”beber Andi  tentang filosofi kariaktur yang dibuatnya.
Aku mengamini dalam hati.

 
“Dan kita ini adalah mesin  penggerak uang. Kita ini yang diperas untuk menghasilkan uang, sementara kita diposisikann hanya sebagai faktor produksi,” ujar Andi lagi ketus.
“Hahahah…..” aku tertawa disusul Andi.

 
Menertawakan kebodohan sendiri  jauh lebih nikmat dan aman ketimbang menertawakan kebodohan orang lain. Dan kami sadar dengan itu. Bahwa kami sadar sepenuhnya,  kami tak lain diperlakukan sebagai factor produksi yag harus terus digerakkan.

 
Kami,bukanlah asset perusahaan yang harusnya diperlakukan dengan humanis. Boleh jadi dimana-mana karyawan adalah factor produksi. Tapi seharusnya, dan semestinya, factor produksi  juga perlu sentuhan manusiawi. Tak melulu digenjot.

 
Dua bulan setelah membagi cerita itu, Andi  resign. Desain grafis di kantor kami itu memilih membuka usaha sendiri. Mengkopi paste konsep kaus oblong semisal Dagadu ala Yogyakarta, ia membuka gerai dan memproduksi kaus oblong khas jambi. Budaki alias Budak Kito.

 
Sialnya, bukan kami di internal kantor saja yang paham dengan pola kerja tersebut. Orang luar justru menjadikannya itu gossip, lebih-lebih para pejabat yang tak lain narasumber ku.

 
“Kalian ini, sudah seperti mesin. Kalian terus diperas Hasyim, sementara di ongkang-ongkang kaki dan bermain bersih dan cantik,” tuduh John, seorang kepala dinas di Pemkot Jambi suatu siang kepada ku.
Dan lagi, aku mengamini dalam hati.

*jumlah kata : 3298
Bab 4 (Inses)

3 pemikiran pada “Mengamini Dalam Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s