Inilah Kebohongan Itu

5

Pintu kaca di belakangku berderit ketika dibuka. Empunya ruangan, Bang Hasyim masuk sembari membawa Koran terbaru. Ada yang beda dengan penampilannya. Aku merasakan itu, tapi tak jua menemukan di mana perbedaan itu.

“Maaf, sudah lama menunggu ya Yud,” Bang Hasyim membuka pembicaraan.

Sibuk mengamati karikatur tadi, baru sekarang aku tersadar, ada tujuan apa aku dipanggil oleh Bang Hasyim. Malah disuruh menghadap sendiri di ruangannya. Padahal biasanya jika ada perlu atau yang hendak dibicarakan, paling dia menelepon.

Seperti ketika manajemen kantor hendak memasang iklan di baliho milik pemerintah. Jarang-jarang, si bos besar meneleponku. Maka ketika pagi itu ada panggilan di ponselku dari Bang Hasyim, aku merasa pasti ada sesuatu.

Di telepon itu, ia juga memulainya dengan basa-basi yang sudah basi. Dan, bingo! Ketahuanlah belangnya.

“Kamu dekat dengan Kepala Dispenda Yud? Bisa ga temui dia, kita mau pasang spanduk besar di baliho pemkot,” Kalimat mengalir dari seberang sana.

Aku mulai menangkap maksud si bos.
Seketika aku jengah. Tapi, apa daya, aku tak kuasa menolak. Akhirnya, aku hanya bisa mengiyakan.
Inilah kebohongan pertama itu.

“Coba tanyakan berapa tariff memasang baliho di sana. Terus coba tanyakan, bisa tidak kita minta diskon. Biasanya bisa didiskon. Saya tunggu kabar secepatnya ya,”

Klik. Sambungan telepon terputus, setelah ia mengucap salam.

Ada sekira 10 menit ia berbasa-basi. Mulai dari menanyakan kabar hingga soal kendala dalam pekerjaanku. Ia ngalor-ngidul, dan aku belum menemui arah pembicaraannya.

Lalu, ia membuka Koran yang tadi dibawanya. Ia melihat tiap halaman sekilas, lalu berhenti di halaman Metropolis. Itu merupakan halaman yang memotret Kota Jambi, mulai dari kebijakan pemerintah, gaya hidup, social kemasyarakatan dan fenomena yang tengah berkembang di Kota Jambi.

Lama ia mengamati berita di sana.

“Kepala Dinas Tertipu Developer”

Aku yakin ia tengah menyimak berita itu. Ya, itu beritaku. Berita mengenai pengembang perumahan yang membohongi konsumennya, termasuk pemerintah dalam hal perizinan.

Konsumen tertipu lantaran fasilitas umum yang dijanjikan berupa taman dan musala, tak dibangun. Berbeda jauh dengan promo yang digembar-gemborkan. Sedangkan perizinan, amdalnya bermasalah. Rawa mereka timbun agar lebih banyak rumah yang dibangun. Aliran air yang ditutup memang, mereka alihkan tapi dengan luasan yang jauh lebih kecil.

Yang membuat aku geleng-geleng kepala, Bowo Aribowo, Kepala Dinas Tata Kota yang sangat terkait dengan perizinan perumahan justru jadi korban. Ia tertipu dua kali. Pertama sebagai kepala dinas yang mengeluarkan izin, kedua sebagai konsumen.

Kami para wartawan geleng-geleng kepala mendapati fakta ini. Mungkin itu jadi cermin bahwa budaya Asal Bapak Senang susah dihapuskan di birokrasi negeri ini.

“Ini Yud, berita ini kok bisa muncul sekeras ini,” Tanya Bang Hasyim.

Dalam hati aku menjawab, toh itu sudah jadi domain redaktur. Memang wartawan yang menyediakan bahan, naskah. Tapi, ketika sudah jadi diterbitkan itu sudah kewenangan redaktur.

Aku paham maksud Bang Hasyim.
“Tapi berita itu sudah cover bothside Bang. Terlebih dari developer. Dan itu memang ramai dibicarakan di dewan,” aku memberi penjelasan.

Si Bos berkepala plontos ini lantas menanyakan dari mana aku mendapatkan informasi awal berita tersebut. Ia juga mewanti-wanti jangan sampai oknum di dewan menunggangi berita itu untuk kepentingan pribadi.

Dan poin apa yang ingin disampaikan Bang Hasyim tampak.

“Lain kali hati-hati, asal tahu saja developer ini klien kita yang menyumbang iklan terbesar. Jangan sampai lari. Oke?”

Bang  Hasyim menyudutkanku. Secara tidak langsung ia memerintahkanku agar berita itu dan yang semisalnya jangan sampai terulang lagi.

“Iklan Yud, iklan…dari situ kamu digaji,haha…haha,” aku tertawa dalam hati membayangkan bahwa itulah kalimat Bang Hasyim sesunguhnya di dalam hatinya.

Yap, Inilah kebohongan kedua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s