Oase dari Padang Pasir

6

 

Amatilah perawan-perawan lugu yang sedang ranumnya. Perawan yang meminta fatwa pada hatinya karena gelisah merajai.  Gelisah yang hadir karena diundang ulah sendiri, bermain api dengan perasaan. Bukan hanya perasaan sendiri, tapi dua perasaan pria polos sekaligus yang dibuat terombang ambing di lautan harap.
Seperti  itulah yang sedang aku alami. Aku gundah. Keresahan yang sempat mampir di bulan kedua ketika aku menekuni profesi ini. Kini di tahun kedua, resah itu kian membuncah.

Dulu aku mengabaikannya menganggap angin lalu. Tapi lantas aku sadar, ini penting karena menyangkut  urusan rezeki. Halal dan haram.  Dan kembali di atas sajadah ini aku kembali mengadu.

“Tuhan sebegitu hinakan pekerjaanku ini?” aku bertanya dalam doa.  Aku bermunajat di dini hari itu setelah menunaikan sholat malam. Ibadah yang perlahan mulai jarang aku lakukan.
Penggalan-penggalan peristiwa masa lalu menjadi latar munajatku malam itu.  Teringat bagaimana duduk bersama para ikhwan di majelis ilmu. Kami mengaji kitab bersama sesusai subuh atau selepas magrib menjelang isya.
Masa-masa ketika aku sangat dekat dengan-Nya. Itulah bulan madu ku bersamaNya. Damai dan terisi ilmu. Aku teringat dengan hadis mengenai haramnnya ghibah. Ya, ghibah, mempergunjingkan aib orang lain.

“Kenapa jadi wartawan, masih banyak kerjaan lain. Risikonya besar apalagi kalau sudah membuka aib orang lain,” begitu komentar lembut seorang temanku begitu kuberi tahu aku telah “tersesat” dari disiplin ilmuku.
Kawan lain berkomentar lebih pedas dan keras. Malah aku dijadikan sebagai pesakitan di mata mereka. Aku merasa pendapat itu sangat-sangat menghakimi.

“Kau mau mencari makan dari aib orang lain? Ketika orang menderita, kalian wartawan tertawa karena itulah berita besar. Bukankah di mata kalian, bad news is good news.”
“Kawan, apakah media itu hanya membawa berita buruk semata?” aku menjawab tuduhan itu hanya di dalam hati. Sedikitpun aku tak membela.
Aku juga menjadi lemah seiring generalisasi yang dilakukan sejumlah kenalan. Dalam kaca mata mereka, pers tak ubahnya preman pasar bekedok pena intelektual. “Berapa banyak wartawan yang memeras narasumbernya. Dari situ mereka mencari hidup.” Tak jarang pula aku mendengar tuduhan itu. Malah, dari keluarga besarku sendiri yang tak lain pejabat eselon II.
Harus ku akui, pada suatu titik aku merasa berat dengan pekerjaan ini. Bukan beban dan ritme kerja yang dikeluhkan.  Aku merasa sangat berat menulis berita mana kala menjumpai peristiwa menyangkut moral.

Embun penyejuk itu datang dari padang pasir. Teman yang jauh secara fisik, kadang lebih menyejukkan dari pada teman yang mampu kita merangkulnya.  Aku benar-benar sejuk dengan  penjelasan yang kuterima di tengah kekalutan yang aku rasakan.

“Semua berpulang kepada kita. Dimana pun kita bekerja, apapun profesi kita godaan selalu ada dan berbeda-beda kadar dan jenisnya,” seorang teman yang sedang kuliah di Mesir mengirimi aku email. Ia mencoba memberi pandangan lain.
Ikhlas, nama temanku itu. Kami saling mengenal ketika sama-sama berkuliah di Malang. Ia jugalah temanku menghadiri pengajian di jalan Bendungan tak jauh dari kampus ITN. Lantas ia bercerita panjang lebar soal ilmu mustolah hadis. Ia bicara soal sanad hadis yang berasal dari Rasulullah hingga bisa kita simak dan tadaburi.
Kata dia, prinsip jurnalistik harusnya berkaca dari para perawi hadist dalam mengumpulkan segala ucapan dan perbuatan atau ketetapan Rasulullah. Aku terpukau bagaimana dia menjelaskan sosok Imam Bukhori yang mencari berbagai sumber untuk mendapatkan sanad hadis.
“Begitulah harusnya pers. Tidak sekadar menerima bulat-bulat dan mentah setiap ucapan orang atau sumber. Semua harus  dikonfirmasi dan terkonfirmasi kepada orang yang patut dipercaya pula,” paparnya.
Aku mengamini pemaparan Ikhlas. Dalam pers dikenal  ungkapan bahwa, memuat ucapan bohong narasumber sama artinya kita membohongi masyarakat. Karena itu, pilah dan pilihlah informasi yang diterima untuk kemudian dikonfirmasi.

Ia juga bertutur tentang hadis nasehat kepada penguasa.
“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran
di hadapan penguasa yang semena-mena,” kata Ikhlas membacakam hadis itu.
Dalam kacamata Ikhlas, kritik media terhadap kesalahan pemerintah bisa dimaknai sejalan dengan konteks hadis itu.
“Semoga memang begitu kawan. Terima kasih untuk nasihat dan  pencerahanmu. Terakhir, aku minta doamu. Doakan aku agar menjadi wartawan yang benar, berpihak kepada kebenaran,” aku kirim email singkat itu sesaat sebelum adzan Subuh membangunkan mata-mata yang terpejam.

*sudah di 4506 kilokata🙂

Bab 5 (Mengamini dalam Hati)

Satu pemikiran pada “Oase dari Padang Pasir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s