Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita

    7

Orangtuanya memberi nama Nasir. Cuma satu kata. Tapi gelar yang disandangnya, panjang. Lengkapnya, DR Ir Nasir MM MSc. Ia memang orang yang pintar, bukan dukun. Ia dipercaya sebagai Kepala Bappeda di provinsi di kota ku.
Menilik namanya, aku yang tak paham bahasa Arab ini menduga bahwa nama itu berasal atau serapan dari bahasa Arab, nasr. Artinya pertolongan. Mudah-mudahan dugaanku tak salah. Haha…
Maklum saja aku mengartikan itu, lantaran Bang Nasir orang yang gemar menolong. Apa saja. Malah tanpa diminta aku acap mendapatinya ia menolong bawahannya.
Terkait profesiku, Bang Nasir adalah sumbernya sumber berita. Ialah yang kerap memberi informasi off the record menyangkut peristiwa penting atau yang sedang hangatnya di internal pejabat di kotaku.
Aku menjulukinya kakek segala tahu. Meminjam tokoh rekaan Bastian Tito di cerita silat Wiro Sableng. Ia tahu banyak hal dan banyak informasi.
Perkenalanku dengan Bang Nasir terjadi ketika aku baru bekerja satu minggu sebagai jurnalis. Itu adalah masa ketika masih culun-culunnya dengan dunia jurnalistik dan masih mengalami disorientasi medan. Saat itu pria berdarah Arab itu masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan.
*
Puluhan guru menyampaikan keluhannya ke DPRD Provinsi Jambi. Mereka mempertanyakan status mereka yang tak kunjung diangkat sebagai PNS. Padahal, masa kerja, ijazah dan syarat lainnya telah terpenuhi. Di sanalah awal mula perkenalan dengan Bang Hasyim.
Pengangkatan tenaga honor menjadi PNS memang diselipi praktik kotor para pamong, birokrat. Modusnya, mereka menyisip data saat dilakukan verifikasi.
Perwakilan guru diterima oleh anggota dewan. Di ruang rapat telah menunggu Kadis Pendidikan, Ketua Komisi, Kepala BKD. Mengenakan kemeja lengan panjang, celana bahan aku terlihat rapi. Pakaianku, nyaris serupa dengan seragam para guru itu.
Begitu sejumlah guru masuk ke ruang rapat, aku dengan santai turut bersama mereka. Belakangan aku ngakak tertawa. Seluruh orang di ruang itu salah menduga tentang siapa aku.
Beberapa guru mengira aku intel polisi, ada pula yang menyangka aku staf DPRD. Nah, sementara anggota DPRD justru menduga aku bagian dari guru yang berdemo.
“Lho jadi saudara bukan guru ya?…Wartawan mana? Aduh, mohon maaf kalau begitu harus keluar karena ini haering tertutup,” ucap anggota DPRD yang masih muda itu,
Hahahaha….
Tawaku pecah. Sembari membuka pintu, aku menahan tawa. Bukannya malu diusir keluar, aku justru santai menikmatinya. Toh, sudah banyak bahan yang ku dapatkan.
“Penampilan yang menipu,” ucapku tersenyum puas.
*cerita di Bab 7 ini belum tuntas, segera akan dilanjutkan….

3 pemikiran pada “Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s