Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita (2)

Telepon genggamku berdering ketika aku membuka catatan liputan hari ini. Panggilan dari nomor tanpa nama.
Awalnya, akau tergolong malas mengangkat telepon dari nomor yang tak ada di phonebook. Tapi, akhirnya aku meniggalkan kebiasaan jelek itu. Profesi wartawan mengajariku, bahwa ketika ada panggilan masuk pasti di seberang sana sedang memiliki keperluan dengan kita.

“Rasakan saja bagaimana reaksimu kita menelpon narasumber untuk konfirmasi tapi tak direspon. Padahal kita kadang hanya butuh kata iya atau tidak. Makanya angkat teleponmu setiap ada panggilan.” Pesan Bowo redakturku bermain-main di pikiranku.

“Halo, dengan siapa ini?” Aku buka percakapan itu dengan kalimat tanya.

Aku merasa pernah mendengar suara itu. Tapi tak tahu siapa orang di ujung telepon sana.

“Nasir, Kadis Pendidikan,” suara di seberang berujar.

“Oh Bang Nasir. Iya Bang. Ada apa ya?”

Aku langsung saja memanggilnya abang. Panggilan itu ketimbang panggilan seperti Bapak atau Ibu bisa membuat suasana lebih cair, dan tentunya membuat lebih dekat dengan narasumber.

“Gimana, besok ada berita soal hearing guru di DPRD tadi?” ia menyelidik.

Aku menjawab dipolomatis. Naik tidaknya berita, bukan kewenanganku sebagai seorang wartawan. Keputusan akhir ada pada rapat redaksi atau redaktur. Tentu, redaktur akan melihat lagi kelengkapan isi berita, konfirmasi berbagai pihak yang terlibat dan sebagainya.

“Tugas sayo cuma meliput dan membuatnya Bang,” elakku.
Pacak nian kau yo. Ha..ha..ha….” Suara Bang Hasyim terdengar lebih keras. Sempat aku menduga ia mulai tersulut emosinya.

“Aku tak mau tahu, naik atau tidak berita itu, besok aku tunggu kamu di kantorku. Jangan tak datang, jam sepuluh aku tunggu. Datang sendirian.” Kalimat perintah itu disampaikan dengan nada tak kalah keras.
Telepon diputus. Aku terdiam.

Kringgg….Kring….

Dering jam weker di meja opal warna hitam itu membuyarkan lamunanku. Pukul 15.00 teng. Itu artinya, rapat sore redaksi harus dimulai. Inilah rapat yang menjadi killing field bagi siapa saja yang gagal mendapat berita yang diminta. Kecuali, ada berita pengganti yang nilai beritanya tidak lebih kecil.

Rapat sore itu tak tegang seperti beberapa hari terakhir. “Menyusupnya” aku ke hearing di DPRD tadi pagi membuat aku mendapatkan berita eksklusif.  Aku senang. Tapi aku lupa bertanya pada senior, seperti apa sosok Nasir yang memintaku ke kantornya.

Sebuah rak berukuran tiga meter dengan tinggi sekitar dua meter penuh dengan buku. Melihat punggung buku, aku tahu bahwa buku itu beragam bidang. Agama, filsafat, ekonomi, manajemen, hingga sastra ada di sana.
“Banyak bukunya Bang. Lengkap,” aku mencoba mencairkan suasana di ruang Bang Nasir.
Sempat canggung di awal, akhirnya perbincanganku dengan Bang Nasir sangat cair. Kami seoalah telah lama saling mengenal. Kebetulan kami sama-sama hobi membaca, utamanya sastra.

Dari Bang Nasir, mengalir banyak cerita. Mengenai berita demo para guru itu, ia tak menyoal aku menulis soal praktik kecurangan dalam pengangkatan guru honor.  Aku baru tahu, bahwa ia baru enam bulan menjabat Kadis Pendidikan.
“Jadi, saya hanya diwarisi masalah ini,” ucapnya.
Sejak itulah, ia banyak berbagi cerita yang kuolah menjadi berita. Dan apa yang disampaikannya benar tak mengada-ngada. Awalnya aku sempat berfikir ia hanya menunggangiku untuk kepentingannya. Namun dugaanku meleset. Dari penelusuranku ke rekan-rekannya dan beberapa orang yang bersebrangan dengan Bang Nasir, aku tahu ia relatif bersih dan layak dijadikan narasumber terpercaya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s