Bercinta di Alam

8

 

Petualangan dimulai! Tiga tahun menjadi wartawan, selama itu pula aku meninggalkan hobi yang semasa kuliah rutin aku salurkan. Melakukan kegiatan out door di alam. Heking, traking menyusuri hutan, mendaki gunung.
Aku mulai jatuh cinta dengan dunia tersebut saat aku kuliah di Sumatera Barat. Dari sanalah persentuhanku dengan gunung. Mendaki Gunung Singgalang awalnya  dan langsung melanjutkan petualangan ke Gunung Marapi pada hari yang sama. Padahal kebiasaan di sana, pendakian dilakukan pada hari Sabtu. Di akhir pekan itulah pendaki gunung dari berbagai daerah di Sumatera Barat berdatangan. Mereka didominasi mahasiswa, terlebih yang berasal dari luar kampung si Malin.

 
Setelah pengalaman petualangan itu, aku kecanduan. Untuk beberapa lamanya aku menjadi PM. Begitu para pendaki gunung di Sumatera Barat menyebut para pendaki mingguan.
Bagiku gunung selalu saja bisa membangkitkan semangat. Ialah motivator bisu yang berbicara dengan keindahan dan keteguhannya. Keindahan yang ia janjikan, suburnya petak-petak tanah  untuk petani bercaping memberi pesan dalam pada siapa saja yang merenunginya. Gunung seolah berkata bahwa, yang kuat harus  mengayomi si lemah dan papa.Hijaunya mengajarkan bahwa tak ada yang mudah didapatkan di dunia ini melainkan dengan perjuangan.

 
Pun ketika gundukan tanah dan bebatuan raksasa yang sekian lama memendam lava itu memuntahkannya. Ia memang murka saat itu. Dalam hitungan menit, banyak yang musnah karena keganasannya. Anak tercecer dari ibunya, tercerabut dari dekapan hangat. Istri kehilangan suami yang selalu menafkahi dengan keringat sendiri, keluarga-keluarga tercerai berai. Cerai. Berai. Derai. Air mata tumpah. Tapi setelahnya, ia menjanjikan kesuburan.  Tentu, tak selalu harus seperti itu untuk menikmati kesuburan petak-petak untuk menanam. Sadarilah, itulah takdir. Hukum alam.

*

Aku mengusap hidung berkali-kali dalam keletihan yang tak putus-putus. Aku mengira ada cairan merah mengalir dari dua lubang hidung. Sempat ada rasa cemas menghinggapi.  Dugaanku meleset. Aku tidak mimisan sama sekali. Suhu yang aku yakin minus beberapa derajat di bawah 0 membuat hidungku seperti sedang flu.  Merasa ada cairan yang mengalir.
Hawa dingin mengoyak jaket dan baju yang kukenakan. Aku seperti dalam bola raksasa yang hanya ada dingin di dalamnya.
“Uh…mengapa pula tadi jaket satunya kupinjamkan ke Alan,” batinku menyesali kebaikan yang kuberikan kepada temanku.

Alhasil, pada pendakian pertama dalam hidupku aku hanya mengenakan kaus oblong dilapisi jaket parasut tipis. Jaket tebal milik orangtuaku, ku pinjamkan ke si Alan lantaran ia tak membawa jaket sama sekali.
Kami delapan orang. Semuanya, kecuali Alif, belum pernah menapakkan kaki di gunung. Singgalang sengaja  kami pilih karena medannya lebih ringan dan ketinggiannya di bawah Gunung Merapi.

 
Aku sudah mabuk kepayang ingin menyaksikan telaga dewi di puncak Singgalang.  Sudah lama aku mendengar keindahan dan keelokannya dari teman dan senior di kampus.  Termasuk soal kedalaman telaga dewi yang hingga kini masih misteri. Tak ada yang berani berenang atau menyelam di sana.

 
“Mau mati kedinginan dan membeku apa,” sergah Alif ketika ku usulkan ide untuk berenang di sana.
Mendaki Singgalang aku sempat dibuat heran dengan medan di sana. Sedari kaki hingga ke puncak gunung kami mendapati  tiang listrik disertai kabel tentunya.Tak jarang,kabel itu sama tingginya dengan kami. Kami bisa menyentuhnya  seolah itu adalah tali jemuran di kos-kosan.

 

Kabel listrik itu berakhir di puncak yang tanahnya datar. Di sana kami mendapati  sebuah mesin yang aku tak tahu mesin apa. Mungkin saja itu genset atau piranti antenna, sebab di sana berdiri pula tower yang tak terlalu tinggi. Bentuknya persis menara operator seluler.

 
Pengalaman pertama naik gunung  tidak melulu disertai cerita indah dan puas tatkala tiba di puncak. Bayangan cerita horror  melintas di benakku, terlebih ketika kami rehat untuk sejenak tidur.

 
Cerita mengenai pendaki yang hilang di gunung, bukan cerita baru bagi masyarakat setempat. Kasus pendaki hilang di Singgalang memang tak sebanyak di Merapi.  Sialnya, satu cerita bisa muncul beragam versi.
Ada yang bilang, pendaki hilang karena mereka takabur di atas gunung. Padahal, mereka tidak mengetahui kecuali sedikit dari  luasnya hutan belantara pegunungan. Adapula yang mengatakan, pendaki yang hilang lantaran ulah tak senonoh mereka, khususnya mereka yang mendaki berpasang-pasangan. Membawa kekasih mereka.

 
“Dulu ada mahasiswa kepergok sedang bermesraan tak sepatutnya di atas Singgalang. Lalu mereka kami hokum cuci kampong, terkena denda adat. Dan mereka kami giring  turun hanya dengan pakaian seadanya,” ujar Uda Izet, pemuda setempat yang kami temui di Pasar Koto Baru, sebelum mendaki.

 
Aku teringat cerita Uda Izet ketika kami usai mendirikan tenda. Arsalan dan Antonius menyalakan api. Alif, Alan,  Heri berbaring di dalam satu tenda. Aku,  Dayat, dan Kelana duduk di luar mendekap sarung.
Maklum saja, bukan pendaki professional. Kami satu pun tak punya kantung tidur. Tenda pun menyewa.
Gelap yang sedikit disinari api tak mampu mengusir kesan seram yang bermain di benakku. Dayat dan Kelana diam. Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan.

 
Gemiricik air terdengar menandakan ada mata air tak jauh dari tempat peristirahatan. Suaranya sesekali ditimpali kicauan burung malam dan hewan hutan lainnya.
Ukk…ukkk…
Uk…..uukkkk…
Entah suara hewan apa itu, aku tak tahu. Yang jelas, suaranya bersahut-sahutan sedari tadi.
“Uwaaaaaa….,”
Tiba-tiba Alif berteriak.

 
Spontan kami bertujuh terlonjak karena terkejut. Aku mengusap dada. Kami dibuat geram oleh si Alif.
Lalu ia tertawa puas, melihat kami terkejut.

 
“Makanya di gunung jangan melamun, santai bro…Buek aie angek, masak kopi sekalian buek mi jan lalok se,” ujar Alif dalam Minang.
Aku tahu, Alif  mencoba memecah ketakutan yang mungkin hinggap di pikiran kami yang baru pertama kali mendaki gunung.

 
Santap mi dini hari itu terasa nikmat.  Dan  selama kami beristrirahat aku menghitung ada delapan rombongan yang juga mendaki.

 
“Pak…istirahat yo, kami ke ateh dulu yo,” sapa seorang pemuda dari rombongan pertama.
Pak, merupakan panggilan khas untuk pendaki di Sumbar.

 
Kamis beristirahat sekitar  dua jam. Persediaan air mulai menipis. Aku, Antonius dan Arasalan kebagian giliran mengisi  botol minum.  Alif paham benar dimana kami berada.  Kegelapan tak menghalanginya mengenal medan.

 
“Kalian jalan ke atas, Nanti ada batu besar di kanan kalian belok ke kanan.Jalannya agak menurun. Tak jauh dari sana ada mata air,”  Alif memberi petunjuk.
Belum lagi kami tiba di batu besar seperti yang dikatakan Alif, kami mendengar suara aneh.  Ada yang merintih di dalam kegelapan. Aku mencoba membuang dugaanku.

 
Kami bertiga saling lihat. Ternyata apa yang ada dipikiran  Antonius dan Arsalan sama dengan yang aku pikirkan.
“Gila…ngapain tuh orang. Dipikirnya ini hotel apa,” biski Arsalan.

 
“Kualat beko. Ilang di gunung dibuek sasek baru tahu inyo,” Antonius yang Flores berbisik dalam bahasa Minang.
Tak jauh dari batu besar, di tanah yang melandai, dua pasang muda-mudi ternyata asyik memadu  kasih.  aku tak habis fikir mereka berani senekat itu.

 
Aku lantas mengeraskan suara, pura-pura bersenandung.
Empat anak manusia itu lantas mematung dan aku yakin mereka salah tingkah. Gelap menutupi merah di wajah mereka.

 
Di tenda mereka dalam remang-remang aku sempat nelihat lambang yang aku kenal. Mapala. Aku tahu,itu logo UKM Mapala di sebuah universitas ternama di Kota Padang.
“Kalian pecinta alam atau bercinta di alam,” aku hanya membatin.

 
Tiba-tiba, Antonius menyeletuk. “Awas ilang yo Pak…jan aneh-aneh di ateh yo.”
Empat muda mudi itu terbatuk-batuk.

*bab ini ada 1114 kata…

3 pemikiran pada “Bercinta di Alam

  1. @Rinzhara: dingin2 empuk *waduh2…..hehe
    @Jenkna: kelupaan nih dia artinya
    Buek aie angek, masak kopi sekalian buek mi jan lalok se (Buat air hangat, masak kopi sekalian buat mi, jangan tidur saja)

    kami ke ateh dulu yo (kami ke atas dulu ya)

    Awas ilang yo Pak…jan aneh-aneh di ateh yo. (awas hilang ya Pak…Jangan aneh-aneh di atas ya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s