Pocong Jambi, Ketika Perbedaan Jadi Gesekan

Baru kali ini saya mendapati pemakaman ramai dikunjungi pada malam hari hingga lewat tengah malam. Masyarakat berduyun-duyun ke pemakamam muslim Darul Akhirat, RT 32, Talang Banjar, Kota Jambi, Rabu (31/10) hingga dini hari.

Bukan dalam suasana berduka mereka ke makam. Tapi lebih ingin melepas dahaga akan tanda tanya tentang isu menyesatkan, pocong gentayangan. Menjadi gentayangan gegara dikabarkan tali kafannya tak dilepas. Karenanya, tadi malam entah bagaimana massa berdatangan dengan kabar, makam Leginah akan dibongkar.

Adalah mediang Leginah. Ialah yang dituduh secara membabi buta oleh warga, bahwa rangkaian prosesi pengurusan jenazahnya diluar kebiasaan kebanyakan umat Islam. Ia meninggal 17 Oktober lalu, menjelang magrib.

Sebelum ada “aksi massa” menyambangi kuburan tadi malam, beberapa hari lalu saya juga mendengar kabar pocong gentayangan itu. Saya mendengar, pertama karena pemakaman tersebut hanya berjarak sekira 400 meter dari rumah orangtua saya, 25 tahun saya tinggal di sana. Kedua, kediaman orangtua almarhumah juga relatif dekat dengan kediaman orangtua saya dan semasa kecil itu adalah daerah main saya, pun keluarga saya tahu dengan keluarga almarhumah. Dengan demikian isu itu cukup dekat dengan lingkungan saya.

Tadi, digelar pertemuan di kantor lurah Talang Banjar. Ikut di dalamnya, kepolisian, MUI Kecamatan, warga dan tentu keluarga almarhumah. Sutrisno selaku suami almarhumah hadir di sana. Ia memberi penjelasan. Intinya adalah, ia membantah isu yang beredar. Dan ia melakukan prosesi penanganan jenazah istrinya sesuai syariat Islam. Jenazah dimandikan selayaknya, disolati di rumah, tanpa azan di kuburan dan tali pocongnya dilepas.

Sebelum aksi massa yang dikabarkan akan membongkar makam, saya dan istri berdiskusi. Kami menimbang isu itu dari syariat Islam yang kami pahami. Malah pagi tadi, untuk meyakinkan saya membuka terjemahan kitab Minhajul Muslim dan bertanya ke seorang ustad.

Toh, kendati media massa di Jambi sudah memuat penjelasan Sutrisno, menjawab tanda tanya khalayak isu yang kadung membesar susah diredam. Masyarakat masih saja menikmati ketakutan dengan isu itu. Padahal, Kapolresta Jambi Kombes Pol Drs Syamsudin Lubis menyatakan akan mengusut penyebar isu tersebut.

Saya sendiri berpendapat isu ini muncul lantaran masyarakat belum cerdas menerima perbedaan dalam praktik keagamaan. Apa yang sudah jadi kelaziman dan terus menerus dipraktikan turun-temurun acap dianggap kebenaran. Padahal itu belum tentu.

Prosesi pengurusan jenazah yang dipraktikkan Sutrisno yang tak lain seorang guru, boleh jadi di luar apa yang dipahami masyarakat umum. Menurut saya itulah yang memicu isu menyesatkan sehingga lahir penolakan warga. Dan Sutrisno, saya yakin memiliki dalil atas apa yang ia yakini sebagai kebenaran.

Secara sosiokultural, masyarakat Jambi sesungguhnya kerap tak peduli dengan fenomena semisal perbedaan pemahaman tersebut. Provinsi ini dikenal aman karena nyaris tak ada gesekan akibat perbedaan pemahaman sehingga ada aksi kekerasan, kecuali kisruh antara masyarakat dengan korporasi.

Mengenai azan di kuburan saat pemakaman, dari yang saya pelajari, tak ada dalil mengenai azan di kuburan. Azan dikumandangkan sebagai panggilan untuk solat bagi yang hidup, bukan untuk mayat!

Demikian halnya talqin. Talqin dibacakan kepada orang yang sedang sakratul maut. Perihal ada hadis mengenai talqin dengan lafaz: “Dari Abu Umamah, beliau mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Jika salah satu dari kalian telah meninggal, hingga kalian meratakan tanah di atasnya, maka hendaknya salah satu dari kalian berdiri di dekat kepalanya, kemudian mengatakan, ‘Wahai fulan bin fulanah,’ sesungguhnya ia mendengar akan tetapi tidak menjawab. Lalu hendaklah mengatakan,’Wahai fulan-bin fulanah,’ untuk kedua kalinya….dst,,. Setahu saya itu dhaif.

Dan memang, mengenai kain tali kafan memang ajarannya adalah dilepaskan. Dan orang yang meletakkannya ke kuburan berkata “Bismillah wa a’la millati Rasulillah, karena Rasulullah berbuat demikain (Diriwayatkan Abu Daud dan Al hakim menshahihkannya).

Semoga saja, isi ini tak melebar menjadi aksi brutal dan main hakim sendiri. Semoga pula tak ada yang memanfaatkannya. Kasihan, almarhumah yang sudah di kubur, demikian juga dengan anak-anak Sutrisno yang masih bersekolah.

Terakhir, bila dalil yang ada di atas salah, saya mohon ampun pada Nya. Silakan dikoreksi bagi yang paham dengan masalah di atas.
*lebih dulu ditendang di http://www.kompasiana.com/rachmawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s