Kategori: Agama

Rumah Ibadah Kalah dengan Panti Pijat

Sikap pemerintah kerap mempertontonkan keanehan. Sebagai contoh, soal keberadaan tempat-tempat prostitusi. Entah itu yang terang-terangan, atau yang terselubung berkedok panti pijat, spa, salon, atau karaoke.

Keberadaan usaha di atas tadi, diakomodir dengan cara memberikan izin. Meski kadang jelas-jelas, ada layanan plus-plus di sana.

Tapi tiba-tiba, ketika Ramadan tiba pemerintah meminta usaha-usaha tadi semua untuk tiarap. Tentu dengan dalih, menghormati Ramadan dan orang yang berpuasa. Saya mengambil contoh di kota tempat saya tinggal, Jambi. Di tempat lain, penertiban usaha semisal panti pijat, karoke, bar, diskotik, mungkin juga dilakukan.

Secara pribadi, saya mendukung upaya itu. Tapi tentunya jika tahu usaha tersebut ada ‘apa-apanya’, kenapa lantas diberikan izin.

Nah, soal izin bagi usaha esek-esek inilah yang menimbulkan pertanyaan. Tengok saja, keberadaanya. Saya yakin akan dengan gampang kita temui. Tapi coba lihat keberadaan rumah ibadah untuk umat agama tertentu.

Jadi wajar dikatakan, rumah ibadah ‘kalah’ dengan panti pijat. Karena sepertinya, pengurusan izin panti pijat sangatlah mudah ketimbang perizinan rumah ibadah.

Adalah hak warga Negara untuk beribadah sesuai kepercayaanya, dan pemerintahlah yang berkewajiban menjaminnya.

*tulisan seusai membaca berita berjudul ‘Kita Hanya Tinggal Punya Toleransi…’ di Kompas, edisi Kamis (26/9).

Dan Big Ben pun Dikalahkan Mekah

Makah, memang luar biasa. Bukan saja karena di tanah Arab itulah bumi para nabi, tapi di sanalah berada kakbah, kiblat bagi umat muslim.

Bahkan, kawasan masjidil haram semakin tua justru semakin cantik. Tempat ibadah yang nyaman, sementara berbagai hotel berbintang berdiri megah mencakar langit.

Terbaru, sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press (AP), kemarin Negara yang didirikan Abdul Aziz as-Sa’ud itu resmi mengoperasionalkan jam dinding terbesar di dunia.

Ingat bagiamana kemegahan jam raksasa di pusat Kota London Big Ben? Inilah tandingannya.    Jam raksasa dengan empat sisi itu terpancang di puncak sebuah tower setinggi 600 meter atau setara 1.970 kaki. Bangunan ini bahkan menjadi bangunan tertinggi nomor dua di dunia setelah Menara Dubai Burj Khalifa di Uni Emirat Arab.

Jam yang lebih dari satu abad diakui sebagai pusat waktu dunia atau Greenwich Mean Time (GMT) itu, tertandingi dengan jam di makah tersebut.

Telegraph, melaporkan, jam tersebut ditempatkan di atas Mekkah Royal Clock Tower yang mendominasi kota suci Islam itu. Ini adalah jantung dari sebuah kompleks luas yang didanai Pemerintah Arab Saudi, di dalamnya terdapat hotel, pusat perbelanjaan, dan ruang konferensi.

Dari penampilan, memang menara jam raksasa itu menyaru Menara St Stephen tempat untuk lonceng Big Ben dan Empire State Building. Menara jam Saudi itu memang bertujuan untuk mengalahkan saingannya di Inggris tersebut dalam segala segi.

foto AP

Razia Gigolo, Razia PSK Berani?

Untuk kali kesekian, film yang dibuat orang asing membuat heboh Indonesia. Sebelumnya, ada film Balibo yang dibuat orang Australia. Belakangan lembaga sensor film melarang pemutaran film tentang lima wartawan Australia yang tewas di Balibo tersebut.
Nah, teranyar apalagi kalau bukan Cowboys in Paradise. Saya sendiri belum melihat utuh film dokumenter itu. Saya masih melihat potongannya dari berita di tivi.
Masih dari berita, katanya film ini bercerita tentang gigolo di Pantai Kuta. Sampai-sampai, ada pengakuan isteri lelaki penghibur alias gigolo, alias lelaki tuna susila (LTS) bahwa ia merelakan suaminya tidur dengan tamu wanitanya. (lebih…)

Madrasah Nurul Iman, Dulu dan Sekarang (2)

Alumninya dari Rektor hingga Mufti di Malaysia

DI TENGAH keterbatasan, Madrasah Nurul Iman terus bertahan. Dulu, di masa keemasannya, Nurul Iman pernah melahirkan alumni yang menjadi mufti di negri jiran Malaysia. Di Jambi, sejumlah rektor masuk dalam daftar alumninya.

Wallpaper bergambar jutaan umat Muslim sedang beribadah di Kakbah menghiasai ruang tamu kediaman Tarmizi Ibrahim. Ukurannya cukup besar, penuh menutupi salah satu dinding berukuran sekira 3×3 meter itu.

Di sisi dinding yang berhadapan dengan jendela terpajang sebuah spanduk putih 1×1 meter. Spanduk cetak itu berisi gambar-gambar wajah. Ada 40 foto wajah berwarna hitam-putih. “Itu di antaranya pendiri Nurul Iman. As’ad termasuk yang pernah mengajar di Nurul Iman,” tutur Tarmizi. (lebih…)

Madrasah Nurul Iman, Dulu dan Sekarang (1)

Dulu Santrinya Ribuan, Kini Ratusan

CUKUP beralasan bila daerah Seberang Kota Jambi bakal dijadikan kawasan wisata religi oleh pemerintah. Daerah di tepi Sungai Batanghari itu memiliki sejumlah pondok pesantren yang telah berdiri sejak lama. Satu di antaranya Madrasah atau Pondok Pesantren Nurul Iman.
Dua bangunan saling berhadapan. Kondisinya kontras sekali. Yang satu berkonstruksi kayu, sementara bangunan di depannya dari bata. Dua bangunan di Kelurahan Ulu Gedong, Kecamatan Danau Teluk, itu tak lain Madrasah Nurul Iman.

Matahari Jumat (4/9) belum tepat di atas kepala ketika mendapati sepi di bangunan berkonstruksi kayu bulian itu. Sekilas melihat, siapa pun yang melihat akan menyimpulkan bahwa bangunan itu sudah sangat uzur. “Ini masih asli seperti pertama dibangun,” kata Kepala Madrasah Nurul Iman Suhaili. Di bangunan itu tertulis bahwa bangunan berlantai dua itu dibangun pada 1915. (lebih…)

Tangisan


TANGIS ABDURRAHMAN BIN AUF RA (Masuk Surga Dengan Merangkak)

Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap, debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang-orang menyangka itu badai, tetapi setelah itu mereka tahu bahwa itu adalah kafilah dagang yang sangat besar. Jumlahnya 700 unta penuh muatan yang memadati jalanan Madinah. Orang-orang segera keluar untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu, dan mereka bergembira dengan apa yang dibawa oleh kafilah itu berupa kebaikan dan rizki. Ketika Ummul Mukminin Aisyah RHA mendengar suara gaduh kafilah, maka dia bertanya, “Apa yang sedang terjadi di Madinah?” Ada yang menjawab, “Ini kafilah milik Abdurrahman bin Auf RA yang baru datang dari Syam membawa barang dagangan miliknya.” Aisyah bertanya, “Kafilah membuat kegaduhan seperti ini?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Ummul Mukminin, kafilah ini berjumlah 700 unta.” Ummul Mukminin menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak’.” (al-Kanz, no. 33500)

Renungkanlah, wahai orang-orang yang punya akal pikiran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak! (lebih…)