Kategori: catatan

Bercinta di Alam

8

 

Petualangan dimulai! Tiga tahun menjadi wartawan, selama itu pula aku meninggalkan hobi yang semasa kuliah rutin aku salurkan. Melakukan kegiatan out door di alam. Heking, traking menyusuri hutan, mendaki gunung.
Aku mulai jatuh cinta dengan dunia tersebut saat aku kuliah di Sumatera Barat. Dari sanalah persentuhanku dengan gunung. Mendaki Gunung Singgalang awalnya  dan langsung melanjutkan petualangan ke Gunung Marapi pada hari yang sama. Padahal kebiasaan di sana, pendakian dilakukan pada hari Sabtu. Di akhir pekan itulah pendaki gunung dari berbagai daerah di Sumatera Barat berdatangan. Mereka didominasi mahasiswa, terlebih yang berasal dari luar kampung si Malin.

 
Setelah pengalaman petualangan itu, aku kecanduan. Untuk beberapa lamanya aku menjadi PM. Begitu para pendaki gunung di Sumatera Barat menyebut para pendaki mingguan.
Bagiku gunung selalu saja bisa membangkitkan semangat. Ialah motivator bisu yang berbicara dengan keindahan dan keteguhannya. Keindahan yang ia janjikan, suburnya petak-petak tanah  untuk petani bercaping memberi pesan dalam pada siapa saja yang merenunginya. Gunung seolah berkata bahwa, yang kuat harus  mengayomi si lemah dan papa.Hijaunya mengajarkan bahwa tak ada yang mudah didapatkan di dunia ini melainkan dengan perjuangan. (lebih…)

Iklan

Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita (2)

Telepon genggamku berdering ketika aku membuka catatan liputan hari ini. Panggilan dari nomor tanpa nama.
Awalnya, akau tergolong malas mengangkat telepon dari nomor yang tak ada di phonebook. Tapi, akhirnya aku meniggalkan kebiasaan jelek itu. Profesi wartawan mengajariku, bahwa ketika ada panggilan masuk pasti di seberang sana sedang memiliki keperluan dengan kita.

“Rasakan saja bagaimana reaksimu kita menelpon narasumber untuk konfirmasi tapi tak direspon. Padahal kita kadang hanya butuh kata iya atau tidak. Makanya angkat teleponmu setiap ada panggilan.” Pesan Bowo redakturku bermain-main di pikiranku. (lebih…)

Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita

    7

Orangtuanya memberi nama Nasir. Cuma satu kata. Tapi gelar yang disandangnya, panjang. Lengkapnya, DR Ir Nasir MM MSc. Ia memang orang yang pintar, bukan dukun. Ia dipercaya sebagai Kepala Bappeda di provinsi di kota ku.
Menilik namanya, aku yang tak paham bahasa Arab ini menduga bahwa nama itu berasal atau serapan dari bahasa Arab, nasr. Artinya pertolongan. Mudah-mudahan dugaanku tak salah. Haha…
Maklum saja aku mengartikan itu, lantaran Bang Nasir orang yang gemar menolong. Apa saja. Malah tanpa diminta aku acap mendapatinya ia menolong bawahannya. (lebih…)

Oase dari Padang Pasir

6

 

Amatilah perawan-perawan lugu yang sedang ranumnya. Perawan yang meminta fatwa pada hatinya karena gelisah merajai.  Gelisah yang hadir karena diundang ulah sendiri, bermain api dengan perasaan. Bukan hanya perasaan sendiri, tapi dua perasaan pria polos sekaligus yang dibuat terombang ambing di lautan harap.
Seperti  itulah yang sedang aku alami. Aku gundah. Keresahan yang sempat mampir di bulan kedua ketika aku menekuni profesi ini. Kini di tahun kedua, resah itu kian membuncah.

Dulu aku mengabaikannya menganggap angin lalu. Tapi lantas aku sadar, ini penting karena menyangkut  urusan rezeki. Halal dan haram.  Dan kembali di atas sajadah ini aku kembali mengadu. (lebih…)

Inilah Kebohongan Itu

5

Pintu kaca di belakangku berderit ketika dibuka. Empunya ruangan, Bang Hasyim masuk sembari membawa Koran terbaru. Ada yang beda dengan penampilannya. Aku merasakan itu, tapi tak jua menemukan di mana perbedaan itu.

“Maaf, sudah lama menunggu ya Yud,” Bang Hasyim membuka pembicaraan.

Sibuk mengamati karikatur tadi, baru sekarang aku tersadar, ada tujuan apa aku dipanggil oleh Bang Hasyim. Malah disuruh menghadap sendiri di ruangannya. Padahal biasanya jika ada perlu atau yang hendak dibicarakan, paling dia menelepon.

Seperti ketika manajemen kantor hendak memasang iklan di baliho milik pemerintah. Jarang-jarang, si bos besar meneleponku. Maka ketika pagi itu ada panggilan di ponselku dari Bang Hasyim, aku merasa pasti ada sesuatu. (lebih…)

Mengamini Dalam Hati

5

Ruangan ini sangat sederhana. Ukurannya tidak lebih besar dari kamar kebanyakan seluas 4 x 3 meter. Tumpukan Koran tapi rapi, ditaruh di sudut ruangan. Aku tahu, susunanya itu berdasarkan tanggal terbit. Paling atas, tentu Koran edisi teranyar.

 
Di atas meja beralas kaca, satu unit laptop warna hitam menyala. Ada dua kursi di seberang meja. Aku duduk di salah satunya. Di belakang kursi yang kosong, pigura karikatur menempel di dinding berbahan gypsum. Empunya kursi dan pemilik ruangan memintaku menunggu. Ia masih menyelesaikan urusan di lantai bawah.

 
Karikatur hitam putih itu, sangat persis dengan sosok aslinya. Bukan secara fisik semata, tapi juga si pembuat menggoreskan pesan filosofis tentang sifat. Wajah karikatur itu tak lain merupakan Bang Hasyim, pemimpin perusahaan sekaligus general manager kami.

 
Di coretan dengan pensil itu, wajah Bang Hasyim tengah tertawa lebar. Ia memang orang yang doyan mengekspresikan kelucuan dengan tawa di atas rata-rata. Bila kami tergelak bersama, kalau suara tawa itu satuannya desibel, yakinlah angkanya nyaris mendekati  digit tertinggi. (lebih…)

Inses

4

Aku  memacu motorku dengan kecepatan 100  kilometer per jam. Itu bukan kebiasaanku, sekalipun tengah terburu-buru.  Jarak tempuh lokasi liputan yang lumayan jauh membuatku mau tak mau harus memacu kendaaraan  sengebut-ngebutnya.

Telat tiba di tujuan, sia-sia. Letih itu risiko, tapi gagal mengumpulkan fakta dosa tak termaafkan. Alih-alih mendapat berita boleh jadi makian yang akan aku terima dari bos ku di kantor. Uf..bila sudah begitu, kadang aku tertular ikut memaki, mengumpat walaupun di dalam hati.

Sebab, keberhasilan menjalankan tugas adalah berhasil membuat berita seperti angle yang diminta. Tiba pun kita di lokasi dengan air mata darah dan keringat mengucur bila berita tak ada, hapuslah semua usaha itu. Itu sama saja tak kerja. Aku sering sebal dengan mindset yang hanya berorientasi pada hasil. Tidak peduli pada proses. Padahal  harusnya proses dan hasil dilihat secara proporsional. (lebih…)