Kategori: Indonesia

Surat dari Penulis Buku Ini Budi

Inilah salah satu buah yang saya petik dari Kompasiana. Sejak bergabung pada Juni 2009 lalu. Tentunya, setiap kompasianer punya kesan dan pengalaman tersendiri bukan?
Adalah Siti Rahmani Rauf. Saya yakin nama itu tak setenar buku karangannya yang amat terkenal itu. Tapi, bila disebutkan tokoh hasil karangannya, utamanya mereka yang mengenyam pendidikan dasar pada 80-an akan kenal. Ingat buku Panduan Bahasa Indonesia yang memuat tokoh Budi dan keluarganya? Itulah karya nenek Siti. “Ini Budi, ini ibu Budi,” begitu dulu kita mengejanya.

Saya tak ingat, kapan terakhir menerima surat. Dan, surat yang saya terima beberapa hari lalu cukup menggugah emosi saya. Amplop polos warna putih itu bertuliskan nama saya dan nama pengirimnya, Ny Siti Rahmani Rauf.

Sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya dengan segera membuka amplop itu. Ups, tulisan nenek (saya panggil nenek karena usia beliau akan menginjak 92 tahun) Siti cukup ‘mengganggu’ mata saya. Ia menulisnya dengan tulisan sambung, yang saya sebut dengan tulisan halus kasar.

Jujur, awalnya saya sedikit kesulitan membaca tulisan itu. Seorang teman yang ikut membaca mengalami hal sama. Belakangan, saya baca lagi perlahan, dan saya dapat membaca surat Nenek Siti.

Dalam suratnya yang ditulis tangan di satu halaman kertas folio bergaris itu, Nenek Siti menyampaikan apresiasinya atas tulisan saya tentang beliau.
Tulisan itu telah terbit di Tribun Jambi, media tempat saya bekerja. Tulisan itu juga saya posting di kompasiana.

Membaca tulisan itu, saya kagum dengan wanita yang sedari muda mengabdikan dirinya sebagai guru itu. Meski telah melahirkan buku yang melegenda, tapi nenek Siti mengatakan bahwa dirinya bukanlah pakar ilmu pendidikan.

Nenek Siti adalah seorang lulusan sekolah pada zaman Belanda di Padang Panjang, pada 1936 silam. Begitu lulus, ia langsung diangkat sebagai guru di sekolah belanda (nenek Siti menuliskan nama sekolah, tapi oleh saya tidak terbaca) di Padang kota.

Masih menurut beliau, ternyata ia sosok yang hobi menulis termasuk cerpen dan sajak. Tulisannya itu ia kirimkan ke surat kabar dan majalah. Salah satu cerpennya, pernah dimuat di Femina.

Tapi pengakuan nenek Siti, kini aktifitasnya itu terhalang oleh kemampuannya menggunakan teknologi komputer. “Penerbit-penerbit selalu meminta naskah-naskah yang dicetak dengan mesin tulis. Sedangkan saya sebagai orang zaman dulu tidak bisa mengetik dan tidak punya mesin ketik. Banyak ide-ide saya hanya terkumpul dalam otak,” tulis nenek Siti dalam suratnya.

Jadi, terbayang, Ah andai saja ada penulis atau penerbit yang bisa mengumpulkan ide nenek Siti. Atau mungkin menuliskan biografinya, bukankah peran nenek Siti cukup besar terhadap pendidikan kita di masa lalu. Kompasianer ada yang berminat?

*Tulisan ini lebih dulu diposting di Kompasiana

Teruslah Bekerja Jangan Berharap pada Negara

Judul itu saya cuplik dari foto Mas Inu dalam tulisannya Republik Gelap di kompasiana. Gambar grafiti di satu sudut kota gudeg yang terekam kamera penulis Pak Beye dan Istananya memuat kalimat tersebut.

Sempat tertegun saya membaca kalimat itu. Pertama, ada dejavu yang hinggap, karena kok rasa-rasanya saya pernah mendapati kalimat yang cukup dalam itu.

Kedua, sungguh mengena nian kalimat itu di tengah karut marutnya beberapa persoalan negeri yang baru merayakan 65 tahun kemerdekaannya. Ia kian menohok ketika sindiran itu disampaikan dalam coretan graffiti, mural di tembok-tembok kota.

Ia seolah-olah menyiratkan bentuk perlawanan. Termasuk kejengahan akan sikap Negara terhadap permasalahan negeri. Tentu kita masih ingat ketika Cecak vs buaya mencuat, aneka mural dan grafiti menghiasi sudut Kota Jakarta. Bentuk protes terhadap praksis penegakan hukum.

Teruslah bekerja, jangan berharap pada Negara! Ketika pemerintah tak dapat menangani pengangguran, kemiskinan dan beragam masalah sosial lainnya, maka patut kita menyampaikan kepada mereka di atas sana, mari bekerja, jangan berharap pada Negara.

Fakir miskin dan anak telantar yang harusnya menjadi tanggung jawab Negara, justru diuber-uber. Penanganan masalah yang hanya hit and run, dan terus berulang. Tak ada solusi mumpuni.

Di saat tiga orang anak negeri menjaga wibawa tanah air, betapa terlambatnya pembelaan penguasa datang. Untuk sekadar menegur negeri jiran yang kerap mengklaim itu saja begitu lambat. Jangan berharap pada Negara.

Tentu kita tak menutup mata akan keberhasilan yang ditorehkan pemimpin negeri ini. Tapi rasa-rasanya, saya sulit mengingat apa saja itu. Utamanya bagi kemakmuran dan kesejateraan negeri (rakyat).

Kiranya, memang perlu dikampanyekan kemandirian rakyat tanpa bergantung pada Negara. Mari bekerja jangan berharap pada Negara.

Rusaknya Situs Candi Muaro Jambi

lokasi situs yang tegerus. ft hendri dunan/tribun jambi

Saya tak habis pikir ketika melakukan editing sebuah berita yang dibawa teman wartawan. Sebuah kegiatan pengerjaan jalan sedang berlangsung di dalam kompleks situs candi Muaro Jambi, sebuah situs candi yang ada di Provinsi Jambi yang lebih luas dari kompleks candi Borobudur. Bahkan, disebut-sebut sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.

Memori saya langsung teringat akan proyek pusat informasi majapahit (PIM) yang kontroversi itu. Belakangan kegiatan itu dihentikan setelah menuai derasnya sorotan, meskipun sejumlah bagian penting dari situs yang ada di Trowulan itu rusak. (lebih…)