Kategori: Puisi

Langgas Itu Bebas

 

langgas-langgas terbang si unggas
langgam bebas di kepakan sayap
eloklah merak berbelabas
ditiuplah si angin balabad
indah memang si sangkar emas
tak pula menggoda si bulu biru

tinggilah tinggi punuk si unta
rundu-rundu lah ia terlihat rungkuh
terima nasib jadi penghela
takzim tunduk pada tuannya

menggebah pipit di atas pulut
berharap padi kelak tak susut
biarlah….ia mencari rezeki

Penikmat Sepi

kau memperolok-olok sepi
memakunya di tapal batas angan
kelak kau berpesta dengan heningnya

kau hujani sepi
ia kau buat basah, lucunya air matamu yang tumpah
kau larut atau melarung apa, aku tak tahu

dengan sepi akhirnya kau berdamai
hangat merasai
dari tiada menjadi nyata

*lebih dulu ditendang di sini

Malam Remaja

dan ketika malam itu kututup dengan doa,
jagakan aku dengan bisikan tasbihmu
kapan kita kembali membuat Nya tersenyum,
ku tunggu percikan air di wajahku di sepertiga malam,
sebelum sajadah digelar

mari kita buat malam terus remaja
biar bulan tak terlalu suram pun tak terlalu binar
cukuplah temaramnya memandikan jiwa yang dimabuk cintaNya

mari kita buat rakib dan atid menggores tinta emas
kita ajak nur nur itu bermunajat dan membasahi kita dengan aminnya

*lebih dulu dipublish di sini

Tafsir Atas Diam

Tafsir Atas Diam#1

diammu selalu saja memberi seribu satu tafsir mendalam. maka ketika ia berpadu gerimis hujan yang kusenangi, basahnya menggenangi jiwaku. ia mengapung dalam senyap sebelum akhirnya tenggelam dalam riuh tafsirnya.

tapi, di diammu kali ini, semua itu tak kutemukan. tak membekas dan berjejak. diammu tak memberikan arti apapun bagiku dan tiada arti sama sekali. tak seperti bisumu yang termakan waktu lalu.

sungguh aku ingin mencari tafsir baru atas diam kata mu itu. mendedahnya dengan logika cinta atas diam sikap dan jiwamu. tatkala malam mengabari bahwa mulutmu terkunci rapat, aku pun hanya ikut diam dan terdiam. bukan diam berkontempelasi menafsirinya,melainkan gugu yang menumpulkan onggokan bulat di kepalaku.

Tafsir Atas Diam#2

diammu berjarak dan memberikan ruang kosong bagi kita. di ruang kosong sempit tapi berasa tanpa tepi. entah itu setara dengan berapa jarak tahun cahaya. aku tak tahu.

ruang kosong harusnya menjadi manzilah bagi jiwa ku yang lelah akan diammu. tapi aku selalu nanar berada di sana. ketika diammu menjelma angkuh, aku jadi rapuh. dan lagi, terombang-ambing dibuatnya.

heningmu terus bermain dengan binalnya. melumat sabar yang kusemai berdarah-darah. sementara engkau kian larut di dalamnya, menikmati candu diammu. engkau curang dalam diammu!

Tafsir Atas Diam#3

diammu kudapati di antara belukar pilu yang kau semai. tak mampu aku menyingkirkannya atau sekadar menghembusnya. engkau boleh menggenggam luka itu, tapi sesungguhnya akulah yang terluka.
ketika diammu membawamu tinggi ke menara gading, tinggi, tinggi. dan aku tak mampu menjamah atau menengadahkan kepala. ini bukan cerita menang kala dalam kesombongan batin kita. tapi bisumulah yang membuatnya beranak pinak.
lalu kurelakan diriku kepada malam untuk memungut remah luka yang telah tercecer di ujung onak. jangan bilang ia tak tajam. baiknya kau rasakan sendiri, kelak atau selang sesaat aku merasai. mungkin sakit itulah yang memecahkan keangkuhan diammu itu. bukankah kita kerap belajar dan tersadar ketika pilu itu hadir.

*telah lebih dulu diposting di www.kompasiana.com/rachmawan

linduku

belum lama aku menghayal tentang hujan
tentang rintik gerimisnya
rindunya flora dan katak-katak
karena kemarau lama yang membersamai

baru kemarin aku merindukan hujan
akan dingin yang membawa kehangatan
meniti rintik gerimisnya
menderu di derasnya

dan tuhan, kau menjawab doa kami
hujan di penghujung malam
menjadi penghilang dahaga

tapi tuhan
tak hendak aku mengujatmu
sungguh…
hujan pagi ini membuka luka bertahun lalu

bersama rintiknya
gemuruh petirnya
selaksa duka menyapa

ini bukan tentang September ceria
tapi musim penghujan berawal duka
lindu mu hanya sesaat
tapi berbilang waktu kami merasa

bersama tulang yang patah
luka yang menganga
suami melepas isteri
anak melepas ayah
ibu melepas anak
dan teman, sanak
terkubur bersama reruntuhan bata

lindu, gempa atau apalah namanya
mengingatkan berlipat berapakah kiamat kelak

Mengiba (1)

melodi riuh rendah melodrama

sesungukan air mata tumpah

lebih mengiba dari bait film India

uuhhh…

gemuruh dibatin meluruhkan air mata

membadai logika yang sudah patah

lagi-lagi air mata

sukma merana payah

kembali mengiba

Jakarta,140609