Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita (2)

Telepon genggamku berdering ketika aku membuka catatan liputan hari ini. Panggilan dari nomor tanpa nama.
Awalnya, akau tergolong malas mengangkat telepon dari nomor yang tak ada di phonebook. Tapi, akhirnya aku meniggalkan kebiasaan jelek itu. Profesi wartawan mengajariku, bahwa ketika ada panggilan masuk pasti di seberang sana sedang memiliki keperluan dengan kita.

“Rasakan saja bagaimana reaksimu kita menelpon narasumber untuk konfirmasi tapi tak direspon. Padahal kita kadang hanya butuh kata iya atau tidak. Makanya angkat teleponmu setiap ada panggilan.” Pesan Bowo redakturku bermain-main di pikiranku. (lebih…)

Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita

    7

Orangtuanya memberi nama Nasir. Cuma satu kata. Tapi gelar yang disandangnya, panjang. Lengkapnya, DR Ir Nasir MM MSc. Ia memang orang yang pintar, bukan dukun. Ia dipercaya sebagai Kepala Bappeda di provinsi di kota ku.
Menilik namanya, aku yang tak paham bahasa Arab ini menduga bahwa nama itu berasal atau serapan dari bahasa Arab, nasr. Artinya pertolongan. Mudah-mudahan dugaanku tak salah. Haha…
Maklum saja aku mengartikan itu, lantaran Bang Nasir orang yang gemar menolong. Apa saja. Malah tanpa diminta aku acap mendapatinya ia menolong bawahannya. (lebih…)

Oase dari Padang Pasir

6

 

Amatilah perawan-perawan lugu yang sedang ranumnya. Perawan yang meminta fatwa pada hatinya karena gelisah merajai.  Gelisah yang hadir karena diundang ulah sendiri, bermain api dengan perasaan. Bukan hanya perasaan sendiri, tapi dua perasaan pria polos sekaligus yang dibuat terombang ambing di lautan harap.
Seperti  itulah yang sedang aku alami. Aku gundah. Keresahan yang sempat mampir di bulan kedua ketika aku menekuni profesi ini. Kini di tahun kedua, resah itu kian membuncah.

Dulu aku mengabaikannya menganggap angin lalu. Tapi lantas aku sadar, ini penting karena menyangkut  urusan rezeki. Halal dan haram.  Dan kembali di atas sajadah ini aku kembali mengadu. (lebih…)

Inilah Kebohongan Itu

5

Pintu kaca di belakangku berderit ketika dibuka. Empunya ruangan, Bang Hasyim masuk sembari membawa Koran terbaru. Ada yang beda dengan penampilannya. Aku merasakan itu, tapi tak jua menemukan di mana perbedaan itu.

“Maaf, sudah lama menunggu ya Yud,” Bang Hasyim membuka pembicaraan.

Sibuk mengamati karikatur tadi, baru sekarang aku tersadar, ada tujuan apa aku dipanggil oleh Bang Hasyim. Malah disuruh menghadap sendiri di ruangannya. Padahal biasanya jika ada perlu atau yang hendak dibicarakan, paling dia menelepon.

Seperti ketika manajemen kantor hendak memasang iklan di baliho milik pemerintah. Jarang-jarang, si bos besar meneleponku. Maka ketika pagi itu ada panggilan di ponselku dari Bang Hasyim, aku merasa pasti ada sesuatu. (lebih…)

Mengamini Dalam Hati

5

Ruangan ini sangat sederhana. Ukurannya tidak lebih besar dari kamar kebanyakan seluas 4 x 3 meter. Tumpukan Koran tapi rapi, ditaruh di sudut ruangan. Aku tahu, susunanya itu berdasarkan tanggal terbit. Paling atas, tentu Koran edisi teranyar.

 
Di atas meja beralas kaca, satu unit laptop warna hitam menyala. Ada dua kursi di seberang meja. Aku duduk di salah satunya. Di belakang kursi yang kosong, pigura karikatur menempel di dinding berbahan gypsum. Empunya kursi dan pemilik ruangan memintaku menunggu. Ia masih menyelesaikan urusan di lantai bawah.

 
Karikatur hitam putih itu, sangat persis dengan sosok aslinya. Bukan secara fisik semata, tapi juga si pembuat menggoreskan pesan filosofis tentang sifat. Wajah karikatur itu tak lain merupakan Bang Hasyim, pemimpin perusahaan sekaligus general manager kami.

 
Di coretan dengan pensil itu, wajah Bang Hasyim tengah tertawa lebar. Ia memang orang yang doyan mengekspresikan kelucuan dengan tawa di atas rata-rata. Bila kami tergelak bersama, kalau suara tawa itu satuannya desibel, yakinlah angkanya nyaris mendekati  digit tertinggi. (lebih…)

Inses

4

Aku  memacu motorku dengan kecepatan 100  kilometer per jam. Itu bukan kebiasaanku, sekalipun tengah terburu-buru.  Jarak tempuh lokasi liputan yang lumayan jauh membuatku mau tak mau harus memacu kendaaraan  sengebut-ngebutnya.

Telat tiba di tujuan, sia-sia. Letih itu risiko, tapi gagal mengumpulkan fakta dosa tak termaafkan. Alih-alih mendapat berita boleh jadi makian yang akan aku terima dari bos ku di kantor. Uf..bila sudah begitu, kadang aku tertular ikut memaki, mengumpat walaupun di dalam hati.

Sebab, keberhasilan menjalankan tugas adalah berhasil membuat berita seperti angle yang diminta. Tiba pun kita di lokasi dengan air mata darah dan keringat mengucur bila berita tak ada, hapuslah semua usaha itu. Itu sama saja tak kerja. Aku sering sebal dengan mindset yang hanya berorientasi pada hasil. Tidak peduli pada proses. Padahal  harusnya proses dan hasil dilihat secara proporsional. (lebih…)

Dan Amplop Pun Berpindah Tangan

Kalimat Terakhir (Bagian 2 dan 3)

2

Yudi, demikian aku kerap dipanggil. Nama yang menimbun ingatan banyak orang  mengenai nama asliku,  Sirojudin Abdi.  Dugaan kalian tak meleset. Nama Judi disitat dari nama depanku, Sirojudin. Tentu tak enak bukan kalau aku dipanggil Judi. Maka jadilah Yudi. Tak pernah aku tahu mengapa  namaku ditulis Sirojudin dengan huruf “j” dan bukan Siroyudin dengan “y”. Kalau memang itu ejaan lama, tentu seharusnya huruf “u” ditulis dengan “oe”. Dan akupun tak memusingkannya walaupun temanku semasa kanak-kanak, kecil, memanggilku  Abdi.

Sudah enam tahun lebih, hari-hari aku  lewati dengan menulis dan menulis.  Aku menyebutnya berladang kata-kata. Semoga kelak aku memetik buahnya juga siapa saja yang mengambil sesuatu darinya. Dan semoga itu suatu kebaikan. Dulu aku ingin menjadi  petani desa bermartabat. Memiliki sawah dan kebun menghijau, makan dan hidup dari hasil bumi, berladang dengan tangan dan keringat sendiri. Tapi aku tak menjadi petani. Akhirnya aku memilih berladang kata-kata.

Aku menulis dan selalu menulis mengenai apa saja.  Merekonstruksi peristiwa dan memberi makna padanya. Begitu  alasanku kala ditanya mengenai pekerjaanku yang selalu berkutat dengan kata-kata.  Tulisan itu adalah segala material bahan bangunan.  Dengan elemen lain-lain, aku meramunya menjadi bangunan kata yang hingga berbilang kelak, tetap dapat dinikmati orang lain. (lebih…)