Menggandeng Self Publishing dan Komunitas Entrepreneur

Kemandirian kolektif warga suatu negara, yakinlah ia mampu menjadikan negara tersebut mandiri pula. Semakin banyak warganya yang produktif, setidaknya itu mengurangi salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi yaitu pengangguran di satu sisi. Di sisi lain, itu akan pula menggenjot sektor konsumsi yang masih jadi penopang tumbuhnya ekonomi di negeri ini.
Sebagai contoh, korelasinya semisal pada sektor ekonomi. Ketika dunia usaha bertumbangan, sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) justru bertahan dan mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Mengaitkan kemandirian bangsa dengan produk perbankan, sejatinya sangat bisa untuk disinergikan. Kuncinya adalah memberdayakan resource pada perbankan lalu mengawinkannya dengan resource pada sektor dimaksud.
Dan itu sesungguhnya dipunyai Bank Mandiri. Hanya saja, sector ini –sebut saja begitu- sepertinya luput dari perhatian. Apa itu?

Coba lirik situs toko online atau e-commerce Bank Mandiri tokone.com. Masalahnya, karena ini bukan core business, ia tak tergarap secara maksimal layaknya online shop yang lain. Padahal dari situs belanja dunia maya ini, bank bisa meraih fee based income.

Seperti dirilis Kontan, bahwa Bank Mandiri membidik perolehan fee based income dari kartu kredit sebesar Rp 1,2 triliun pada 2012. Toko online inilah yang sesungguhnya bentuk ekstensifikasi pasar. Setidaknya Mandiri menargetkan transaksi kartu kredit senilai Rp 50 miliar per bulan bisa disumbang melalui tokone.com. (lebih…)

Iklan

Pocong Jambi, Ketika Perbedaan Jadi Gesekan

Baru kali ini saya mendapati pemakaman ramai dikunjungi pada malam hari hingga lewat tengah malam. Masyarakat berduyun-duyun ke pemakamam muslim Darul Akhirat, RT 32, Talang Banjar, Kota Jambi, Rabu (31/10) hingga dini hari.

Bukan dalam suasana berduka mereka ke makam. Tapi lebih ingin melepas dahaga akan tanda tanya tentang isu menyesatkan, pocong gentayangan. Menjadi gentayangan gegara dikabarkan tali kafannya tak dilepas. Karenanya, tadi malam entah bagaimana massa berdatangan dengan kabar, makam Leginah akan dibongkar.

Adalah mediang Leginah. Ialah yang dituduh secara membabi buta oleh warga, bahwa rangkaian prosesi pengurusan jenazahnya diluar kebiasaan kebanyakan umat Islam. Ia meninggal 17 Oktober lalu, menjelang magrib.

Sebelum ada “aksi massa” menyambangi kuburan tadi malam, beberapa hari lalu saya juga mendengar kabar pocong gentayangan itu. Saya mendengar, pertama karena pemakaman tersebut hanya berjarak sekira 400 meter dari rumah orangtua saya, 25 tahun saya tinggal di sana. Kedua, kediaman orangtua almarhumah juga relatif dekat dengan kediaman orangtua saya dan semasa kecil itu adalah daerah main saya, pun keluarga saya tahu dengan keluarga almarhumah. Dengan demikian isu itu cukup dekat dengan lingkungan saya.

Tadi, digelar pertemuan di kantor lurah Talang Banjar. Ikut di dalamnya, kepolisian, MUI Kecamatan, warga dan tentu keluarga almarhumah. Sutrisno selaku suami almarhumah hadir di sana. Ia memberi penjelasan. Intinya adalah, ia membantah isu yang beredar. Dan ia melakukan prosesi penanganan jenazah istrinya sesuai syariat Islam. Jenazah dimandikan selayaknya, disolati di rumah, tanpa azan di kuburan dan tali pocongnya dilepas.

Sebelum aksi massa yang dikabarkan akan membongkar makam, saya dan istri berdiskusi. Kami menimbang isu itu dari syariat Islam yang kami pahami. Malah pagi tadi, untuk meyakinkan saya membuka terjemahan kitab Minhajul Muslim dan bertanya ke seorang ustad.

Toh, kendati media massa di Jambi sudah memuat penjelasan Sutrisno, menjawab tanda tanya khalayak isu yang kadung membesar susah diredam. Masyarakat masih saja menikmati ketakutan dengan isu itu. Padahal, Kapolresta Jambi Kombes Pol Drs Syamsudin Lubis menyatakan akan mengusut penyebar isu tersebut.

Saya sendiri berpendapat isu ini muncul lantaran masyarakat belum cerdas menerima perbedaan dalam praktik keagamaan. Apa yang sudah jadi kelaziman dan terus menerus dipraktikan turun-temurun acap dianggap kebenaran. Padahal itu belum tentu.

Prosesi pengurusan jenazah yang dipraktikkan Sutrisno yang tak lain seorang guru, boleh jadi di luar apa yang dipahami masyarakat umum. Menurut saya itulah yang memicu isu menyesatkan sehingga lahir penolakan warga. Dan Sutrisno, saya yakin memiliki dalil atas apa yang ia yakini sebagai kebenaran.

Secara sosiokultural, masyarakat Jambi sesungguhnya kerap tak peduli dengan fenomena semisal perbedaan pemahaman tersebut. Provinsi ini dikenal aman karena nyaris tak ada gesekan akibat perbedaan pemahaman sehingga ada aksi kekerasan, kecuali kisruh antara masyarakat dengan korporasi.

Mengenai azan di kuburan saat pemakaman, dari yang saya pelajari, tak ada dalil mengenai azan di kuburan. Azan dikumandangkan sebagai panggilan untuk solat bagi yang hidup, bukan untuk mayat!

Demikian halnya talqin. Talqin dibacakan kepada orang yang sedang sakratul maut. Perihal ada hadis mengenai talqin dengan lafaz: “Dari Abu Umamah, beliau mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Jika salah satu dari kalian telah meninggal, hingga kalian meratakan tanah di atasnya, maka hendaknya salah satu dari kalian berdiri di dekat kepalanya, kemudian mengatakan, ‘Wahai fulan bin fulanah,’ sesungguhnya ia mendengar akan tetapi tidak menjawab. Lalu hendaklah mengatakan,’Wahai fulan-bin fulanah,’ untuk kedua kalinya….dst,,. Setahu saya itu dhaif.

Dan memang, mengenai kain tali kafan memang ajarannya adalah dilepaskan. Dan orang yang meletakkannya ke kuburan berkata “Bismillah wa a’la millati Rasulillah, karena Rasulullah berbuat demikain (Diriwayatkan Abu Daud dan Al hakim menshahihkannya).

Semoga saja, isi ini tak melebar menjadi aksi brutal dan main hakim sendiri. Semoga pula tak ada yang memanfaatkannya. Kasihan, almarhumah yang sudah di kubur, demikian juga dengan anak-anak Sutrisno yang masih bersekolah.

Terakhir, bila dalil yang ada di atas salah, saya mohon ampun pada Nya. Silakan dikoreksi bagi yang paham dengan masalah di atas.
*lebih dulu ditendang di http://www.kompasiana.com/rachmawan

Langgas Itu Bebas

 

langgas-langgas terbang si unggas
langgam bebas di kepakan sayap
eloklah merak berbelabas
ditiuplah si angin balabad
indah memang si sangkar emas
tak pula menggoda si bulu biru

tinggilah tinggi punuk si unta
rundu-rundu lah ia terlihat rungkuh
terima nasib jadi penghela
takzim tunduk pada tuannya

menggebah pipit di atas pulut
berharap padi kelak tak susut
biarlah….ia mencari rezeki

Bercinta di Alam

8

 

Petualangan dimulai! Tiga tahun menjadi wartawan, selama itu pula aku meninggalkan hobi yang semasa kuliah rutin aku salurkan. Melakukan kegiatan out door di alam. Heking, traking menyusuri hutan, mendaki gunung.
Aku mulai jatuh cinta dengan dunia tersebut saat aku kuliah di Sumatera Barat. Dari sanalah persentuhanku dengan gunung. Mendaki Gunung Singgalang awalnya  dan langsung melanjutkan petualangan ke Gunung Marapi pada hari yang sama. Padahal kebiasaan di sana, pendakian dilakukan pada hari Sabtu. Di akhir pekan itulah pendaki gunung dari berbagai daerah di Sumatera Barat berdatangan. Mereka didominasi mahasiswa, terlebih yang berasal dari luar kampung si Malin.

 
Setelah pengalaman petualangan itu, aku kecanduan. Untuk beberapa lamanya aku menjadi PM. Begitu para pendaki gunung di Sumatera Barat menyebut para pendaki mingguan.
Bagiku gunung selalu saja bisa membangkitkan semangat. Ialah motivator bisu yang berbicara dengan keindahan dan keteguhannya. Keindahan yang ia janjikan, suburnya petak-petak tanah  untuk petani bercaping memberi pesan dalam pada siapa saja yang merenunginya. Gunung seolah berkata bahwa, yang kuat harus  mengayomi si lemah dan papa.Hijaunya mengajarkan bahwa tak ada yang mudah didapatkan di dunia ini melainkan dengan perjuangan. (lebih…)

Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita (2)

Telepon genggamku berdering ketika aku membuka catatan liputan hari ini. Panggilan dari nomor tanpa nama.
Awalnya, akau tergolong malas mengangkat telepon dari nomor yang tak ada di phonebook. Tapi, akhirnya aku meniggalkan kebiasaan jelek itu. Profesi wartawan mengajariku, bahwa ketika ada panggilan masuk pasti di seberang sana sedang memiliki keperluan dengan kita.

“Rasakan saja bagaimana reaksimu kita menelpon narasumber untuk konfirmasi tapi tak direspon. Padahal kita kadang hanya butuh kata iya atau tidak. Makanya angkat teleponmu setiap ada panggilan.” Pesan Bowo redakturku bermain-main di pikiranku. (lebih…)

Mereka Tertipu, Aku Dapat Berita

    7

Orangtuanya memberi nama Nasir. Cuma satu kata. Tapi gelar yang disandangnya, panjang. Lengkapnya, DR Ir Nasir MM MSc. Ia memang orang yang pintar, bukan dukun. Ia dipercaya sebagai Kepala Bappeda di provinsi di kota ku.
Menilik namanya, aku yang tak paham bahasa Arab ini menduga bahwa nama itu berasal atau serapan dari bahasa Arab, nasr. Artinya pertolongan. Mudah-mudahan dugaanku tak salah. Haha…
Maklum saja aku mengartikan itu, lantaran Bang Nasir orang yang gemar menolong. Apa saja. Malah tanpa diminta aku acap mendapatinya ia menolong bawahannya. (lebih…)

Oase dari Padang Pasir

6

 

Amatilah perawan-perawan lugu yang sedang ranumnya. Perawan yang meminta fatwa pada hatinya karena gelisah merajai.  Gelisah yang hadir karena diundang ulah sendiri, bermain api dengan perasaan. Bukan hanya perasaan sendiri, tapi dua perasaan pria polos sekaligus yang dibuat terombang ambing di lautan harap.
Seperti  itulah yang sedang aku alami. Aku gundah. Keresahan yang sempat mampir di bulan kedua ketika aku menekuni profesi ini. Kini di tahun kedua, resah itu kian membuncah.

Dulu aku mengabaikannya menganggap angin lalu. Tapi lantas aku sadar, ini penting karena menyangkut  urusan rezeki. Halal dan haram.  Dan kembali di atas sajadah ini aku kembali mengadu. (lebih…)