KBBI dan Orang Adat yang Kecewa

Jangan kecewa kalau cuma 51 kosakata  dari Jambi yang masuk di KBBI edisi kelima. Itu artinya, hanya bertambah enam kosakata dari yang sudah ada di KBBI edisi keempat.

Tapi, bagaimana tidak kecewa. Para tokoh adat juga akademisi yang hadir di acara Diseminasi Program Pengayaan Kosakata yang digelar Kemendikbud dan Kantor Bahasa Jambi 18 Juli lalu jelas tampak kekecewaannya. Saya juga demikian.

Sampai-sampai, seorang undangan (saya lupa namanya), dari lembaga adat bertutur kira-kira begini, “Kami duduk dari tadi di sini dengan datuk, lah puluhan kato bahaso Jambi yang kami data.” (lebih…)

Iklan

Angso Duo dan Pertanyaan untuk Konfusius

pasar-angso-duoApa pertama kali yang harus dilakukan untuk membangun negara? Pertanyaan ini ditanyakan kepada Konfusius oleh muridnya, sekian abad lalu.

Kalau pertanyaan itu diubah jadi, apa pertama kali yang harus dilakukan untuk membangun the new (eh) Pasar Angso Duo? Apakah jawabannya akan sama?

Diwacanakan untuk direlokasi sejak periode kedua kepemimpinan Wali Kota Jambi Arifien Manap, hingga jelang pemindahan itu terwujud, masih saja ada masalah yang menyertainya. (lebih…)

Jokowi Pun Tiba di Jambi

Sempat terpikir untuk memberi tulisan ini dengan judul “Jokowi Kw”. Pilihan itu akhirnya urung. Pertimbangannya, khawatir saja ditafsiri negatif. Apalagi istilah Kw asosiasinya ke sesuatu yang berkualitas rendah, tak mutu. Malah, bagi komedian tunggal Mongol, Kw bermakna…. Ya gitu deh. Sementara serial tulisan ini, semata opini dalam memotret pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jambi tanpa memihak satu pasangan pun. Non partisan.

Akhirnya saya memilih “Jokowi Pun Tiba di Jambi” sebagai judulnya. Pertanyaanya, mengapa Jokowi? Ini Jambi bung. Bukan Surakarta, bukan pula Jakarta. Toh demam Jokowi akhirnya tak terelakkan.

Dan memang, bila ada fenomena menarik dalam sebuah pilkada itu adalah Joko Widodo alias Jokowi. Setelah memenangkan hati rakyat Solo, ia pun memikat warga Jakarta beragam kasta. (lebih…)

Wiranto, Effendi Hatta dan Asnawi AB

Bila ada duet yang unik pada Pilwako Jambi kali ini, bagi saya itu adalah Effendi Hatta dan Asnawi AB. Pasangan nomor urut 4 yang kemudian diakronimkan menjadi Fena. Fantastic Four?!

Keunikan itu karena keduanya pernah bertarung di Pilwako Jambi 2008 silam. Bukankah Bambang Priyanto dan Sum Indra kali ini juga Pilwako kedua bagi mereka? Iya! Tapi, Bambang dan Sum menang kemudian di pemilihan kali ini memilih berpisah. Beda dengan Fena. (lebih…)

Dokter (di) Pilwako Jambi

Adalah suatu keberuntungan sejarah -sebutlah begitu- bagi Bambang Priyanto. Ia tiba-tiba turut meramaikan bursa calon Wali Kota Jambi lima tahun silam. Dan ia menang bersama Sum Indra sebagai wakilnya.

Ia yang seorang dokter, memang sudah populer di Kota Jambi. Tapi tidak di dunia politik praktis, kendati ia ada di PDIP. Namanya nyaris tak pernah muncul dalam konteks politik.

Lalu, semua berubah. Senin sore, 16 Juli 2007. Setahun sebelum Pilwako Jambi pertama yang melalui pemilihan langsung digelar. Senin sore itu adalah mula berubahnya peta politik Kota Jambi. Wakil Wali Kota Jambi Turimin, meninggal dunia setelah sempat dirawat di RS Dr Bratanata (DKT). Bambang pun mendapatkan momentum.

Tentu saja peta politik di Jambi ketika itu berubah diluar prediksi, sebagaimana tak disangka-sangkanya bahwa begitu cepat Turimin pergi. Unpredictable. Turimin yang ketika itu Ketua DPD PDIP Provinsi Jambi punya kans kuat untuk memenangi Pilwako Jambi. (lebih…)